Bab 1
Rabu pagi, sebuah suara lembut membelai telingaku. Suara sayup-sayup itu
terdengar menakjubkan. Walaupun aku tak yakin telingaku benar-benar menangkap
apa yang ia katakan.
Ya, suara menakjubkan itu berasal dari bibir indah seseorang yang telah melahirkanku.
“… Ini sudah pagi, dan sudah 2 hari kau tidak masuk sekolah, tidak mau
sekolah lagi?”
Aku membuka mata, terbangun. Mengeryitkan kening melihat wajah khawatir
ibuku. Lalu menutup mata lagi, dengan lengan kananku. Santai.
“Tidak bu, aku masih belum sanggup.”
Kata-kata itu keluar secara spontan dari mulutku. Entah karena malas,
atau karena tidak enak badan, aku mengucapkannya dengan nada datar.
“Apa perlu kubawa ke dokter?”
Ibu berkata demikian selayaknya aku sakit keras, padahal hanya sakit kepala
biasa.
“Tidak Bu, aku dapat firasat kalau besok bisa kembali sekolah. Jadi, tak
perlu ke dokter. Lagipula mencium bau rumah sakit ataupun hanya rumah praktek
dokter hanya membuatku mual….”
Lenganku tetap pada posisi itu, tapi sebenarnya aku berusaha menyembunyikan
rasa pening yang menyiksa ini.
“… Maaf Bu aku ingin tidur lagi, tubuhku belum kuat untuk berdiri.”
Bukan bermaksud mengusir, tapi aku memang ingin benar-benar sendirian
dikamar sekarang.
“Oh baiklah….”
Aku dapat merasakan langkah kaki Ibu keluar dari kamar, dan menutup
pintunya dengan lembut. Yah, mungkin dia berusaha tersenyum dibalik pintu itu.
Gorden putih yang menutup jendela kusibakkan. Jendela yang terbuat dari
kayu dan ukiran klasiknya iitu nampaknya menuntut untuk segera dibuka. Yah, mau
bagaimana lagi, memang sudah waktunya jendela itu terbuka.
Udara segar pagi ini menyeruak. Kuhirup angin ini perlahan.
“… Aroma salju ya?”
Tanpa sadar aku mengucapkan kata itu. Setidaknya, ini sudah hari ketiga
aku merasakan hujan salju beraroma kehangatan. Rumor menyebutkan, jika kau
dapat merasakan hawa dan aroma salju yang hangat, maka permohonan apapun yang
kau minta akan terkabul selama itu mungkin di dunia ini. Yah, sebenarnya tidak
terlalu meyakinkan bagiku, tapi aku tetap berdoa. Keinginan itu, harus
terkabul!
Aku berdoa dengan khidmat, sembari berbaring lemah di kasur. Yah, tidak
tahu kenapa ragaku menjadi selemah ini, tapi yang pasti semuanya bermula pada
hari Minggu lalu. Ah tidak, tepatnya lima hari sebelum hari Minggu.
Selesai berdoa, aku menutup mata dengan lengan kananku lagi. Sembari
menikmati aroma musim salju ini, tanpa sadar air mata mengalir deras. Lengan
kanan kugeser keatas, hingga menyentuh jidat. Hanya sedikit yang menutupi
mataku.
“… Sudah tidak mungkin ya?”
Aku menggerutu pada diri sendiri. Ah tidak, lebih tepatnya menangisi
kebodohanku sendiri. Lelah, aku memejamkan mata dan berusaha tertidur.
Pokoknya, besok harus bisa masuk sekolah atau Ibu akan khawatir.
Ingatanku memaksa memperlihatkan kejadian minggu lalu, tepatnya pada
hari Selasa….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar