Total Tayangan Halaman

Kamis, 25 Desember 2014

Yukigami (Dewa Salju) Bab 2

Bab 2
“Hei, Touko-san.”
Kata seseorang yang kuakui sangat cantik. Yah, dia sahabat dekatku. Kelembutan dari suaranya seakan membelaiku. Memang terdengar biasa, tapi secara spontan otakku menerjemahkannya sebagai perilaku yang… ‘aneh’.
“Ada apa, Reiko?”
Aku membalas dengan perasaan heran. Memang dia sahabat dekatku, tapi sejauh ini sikapnya mencerminkan bahwa dia selalu menyembunyikan sesuatu yang penting dariku. Padahal, aku selalu jujur padanya.
Sebagai gantinya, bisa dibilang mulutku ini terlalu sering mencerca telinga Reiko dengan berbagai pertanyaan. Hehe, tak tahu malu kan?
Jauh dalam lubuk hati, ada rasa kasihan padanya. Kenapa? Dia itu anak yang kesepian, penyendiri, dan lebih parah lagi disebut ‘pembohong’ setiap kali ada orang yang melihat tingkah anehnya. Aku sendiri sebenarnya hampir sama, tapi kemampuanku itu sangat jauh dibanding Reiko. Karena itu, orang-orang masih bisa menerimaku. Pertama kali melihatnya, rasanya seperti tersihir. Rambut pirang panjang berkilaunya itu menari indah saat tertiup angin, matanya berwarna orange berkilau bagai permata langka, kulitnya yang putih dan mulus sedap dipandang, dan bibirnya yang selalu memancarkan senyuman tulus membuatku membeku.
Setelah semua fakta itu, orang-orang tetap menghindarinya. Menganggapnya sebagai pembawa malapetaka itu sungguh perangai yang buruk. Tanpa ragu, aku mendatanginya, dan kami berteman sampai sekarang. Yah, walaupun konsekuensinya sekarang, aku harus segera terbiasa dijauhi sebagai pembawa malapetaka pula.
“Aku membuat sebuah catatan untuk Touko-san dan Shigeru-kun, nanti bacalah bersama-sama ya?”
Senyuman itu mengembang lagi dari bibir merah jambunya. Sekali lagi aku terpana, namun segera menggeleng agar tidak terus-terusan begini. Tapi, kenapa senyumnya lebih terlihat seperti… ‘fake smile’?
Oh iya, Shigeru itu juga sahabatku. Kuakui dia sangat rupawan, tapi terlalu polos untuk mengetahui apa yang Reiko dan aku sembunyikan, sesuatu yang tak bisa dilihat dengan kasat mata. Yah, kalian tahu sendiri lah apa itu.
“Terima kasih banyak, Reiko.”
Saat mengatakannya, aku tersadar akan adanya garis aneh di leher belakang Reiko. Yah, itu terlihat sedikit dari depan, dan warnya persis seperti bayangan. Tunggu, jangan-jangan itu perbuatan ayakashi (roh) yang jahat? Mengingat, jika aku melihat ayakashi, selalu Nampak seperti bayangan, sedangkan jika Reiko yang melihat, wujudnya akan tampak jelas.
“Tunggu sebentar Reiko! Garis apa yang ada dilehermu itu?”
Kata-kataku terdengar menyelidik. Pandangan yang tajam mungkin membuat Reiko sedikit gugup.
“E… eh? Tidak, bukan apa-apa…. Nah, aku pergi dulu ya! Sayonara!”
Anehnya dia langsung berlari untuk pulang dan menutupi garis aneh itu. Dan lagi, kenapa menggunakan kata sayonara padahal kami bisa bertemu lagi nanti?
Sebenarnya aku berniat mengikuti, tapi surat ini harus segera kubaca bersama Shigeru. Dasar Shigeru, selalu lama keluar. Jadi kuputuskan menunggu di gerbang depan sekolah saja.
Tak lama, teriakan khas dari laki-laki itu muncul ditelingaku.
“Hei! Touko-san!”
Dasar, begitu polosnya kah dia sampai tidak merasa bersalah? Kakiku sudah terasa penuh semut akibat menunggunya sekarang.
“Hei hei, kemana saja kamu?”
Kujawab sapaannya dengan sinis, sambil menghampirinya.
“Kau tau kan aku banyak kerjaan dikelas?”
“Hah? Kerjaan? Memangnya ketua kelas sesibuk itu?”
Sekedar fakta, baik kelasku, kelas Shigeru, maupun kelas Reiko merupakan kelas yang berbeda.
“Tentu!”
Dia menjawabnya dengan mantap. Ugh! Dasar!
“Gara-gara itu kau jadi tidak bertemu Reiko. Dia memberi surat ini kepada kita dan menyuruh kita untuk membacanya bersama.”
“Eh?”
Wajah polosnya itu tak tertahankan lagi, membuat perutku terasa geli. Kemudian, kami segera membuka surat itu, dan entah kenapa Shigure ingin membacanya keras-keras. Dasar aneh….
‘ Untuk sahabatku, Touko dan Shigure. Mungkin mulai besok sampai lima hari kedepan aku tidak akan masuk sekolah karena ada sesuatu. Tolong sampaikan ini pada guru. Oh ya, jangan coba-coba mendatangi rumahku sebelum hari kelima. Jika sudah mencapai malam hari kelima, kalian baru boleh berkunjung. Eto…, Touko-san sudah tau letak rumahku kan? Jangan kangen dan bersedih ya…, bila memungkinkan aku akan kembali. Salam hangat, Natsume Reiko.’
“Apa-apaan ini?”
Kataku menggerutu. Jangan-jangan dia ada urusan dengan ayakashi lagi? Mengapa dia harus terjun dalam masalah ayakashi yang bahkan ingin memakannya?
Perjalanan pulang dengan Shigeru rasanya sungguh sepi. Biasanya ada Reiko berjalan dibelakang kami, mengekor. Entah alasannya apa, tapi ia tak pernah mau diajak berjalan disampingku.
Sayang sekali rumah Reiko tak ada disepanjang jalur pulang. Aku hanya bisa menggerutu dari tadi. Setengah khawatir, setengah kesal.
“Hei Touko-san, tidak bisakah kau berhenti menggerutu?”
Nampaknya Shigeru mulai merasakan hawa tidak enak menyelimuti kami. Aku menghela nafas, mungkin ini karena aku.
“Ah, maaf.”
Singkat, padat, dan jelas. Hanya kata-kata berjenis seperti itulah yang bisa kuucapkan dalam keadaan seperti ini. Shigeru hanya bisa mencibir.

Hari-hari berjalan lambat. Waktu terasa menghambat datangnya hari kelima itu. Ditambah lagi, suasana terasa begitu sepi tanpa Reiko. Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Kata-kata itu terus menghantui pikiranku bagai sebuah bayangan ayakashi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar