Bab 2
“Hei, Touko-san.”
Kata seseorang yang kuakui sangat cantik. Yah, dia sahabat dekatku.
Kelembutan dari suaranya seakan membelaiku. Memang terdengar biasa, tapi secara
spontan otakku menerjemahkannya sebagai perilaku yang… ‘aneh’.
“Ada apa, Reiko?”
Aku membalas dengan perasaan heran. Memang dia sahabat dekatku, tapi
sejauh ini sikapnya mencerminkan bahwa dia selalu menyembunyikan sesuatu yang
penting dariku. Padahal, aku selalu jujur padanya.
Sebagai gantinya, bisa dibilang mulutku ini terlalu sering mencerca telinga
Reiko dengan berbagai pertanyaan. Hehe, tak tahu malu kan?
Jauh dalam lubuk hati, ada rasa kasihan padanya. Kenapa? Dia itu anak
yang kesepian, penyendiri, dan lebih parah lagi disebut ‘pembohong’ setiap kali
ada orang yang melihat tingkah anehnya. Aku sendiri sebenarnya hampir sama,
tapi kemampuanku itu sangat jauh dibanding Reiko. Karena itu, orang-orang masih
bisa menerimaku. Pertama kali melihatnya, rasanya seperti tersihir. Rambut
pirang panjang berkilaunya itu menari indah saat tertiup angin, matanya
berwarna orange berkilau bagai permata langka, kulitnya yang putih dan mulus
sedap dipandang, dan bibirnya yang selalu memancarkan senyuman tulus membuatku
membeku.
Setelah semua fakta itu, orang-orang tetap menghindarinya. Menganggapnya
sebagai pembawa malapetaka itu sungguh perangai yang buruk. Tanpa ragu, aku
mendatanginya, dan kami berteman sampai sekarang. Yah, walaupun konsekuensinya
sekarang, aku harus segera terbiasa dijauhi sebagai pembawa malapetaka pula.
“Aku membuat sebuah catatan untuk Touko-san dan Shigeru-kun, nanti
bacalah bersama-sama ya?”
Senyuman itu mengembang lagi dari bibir merah jambunya. Sekali lagi aku
terpana, namun segera menggeleng agar tidak terus-terusan begini. Tapi, kenapa
senyumnya lebih terlihat seperti… ‘fake smile’?
Oh iya, Shigeru itu juga sahabatku. Kuakui dia sangat rupawan, tapi
terlalu polos untuk mengetahui apa yang Reiko dan aku sembunyikan, sesuatu yang
tak bisa dilihat dengan kasat mata. Yah, kalian tahu sendiri lah apa itu.
“Terima kasih banyak, Reiko.”
Saat mengatakannya, aku tersadar akan adanya garis aneh di leher
belakang Reiko. Yah, itu terlihat sedikit dari depan, dan warnya persis seperti
bayangan. Tunggu, jangan-jangan itu perbuatan ayakashi (roh) yang jahat? Mengingat, jika aku melihat ayakashi, selalu Nampak seperti
bayangan, sedangkan jika Reiko yang melihat, wujudnya akan tampak jelas.
“Tunggu sebentar Reiko! Garis apa yang ada dilehermu itu?”
Kata-kataku terdengar menyelidik. Pandangan yang tajam mungkin membuat
Reiko sedikit gugup.
“E… eh? Tidak, bukan apa-apa…. Nah, aku pergi dulu ya! Sayonara!”
Anehnya dia langsung berlari untuk pulang dan menutupi garis aneh itu. Dan
lagi, kenapa menggunakan kata sayonara padahal
kami bisa bertemu lagi nanti?
Sebenarnya aku berniat mengikuti, tapi surat ini harus segera kubaca
bersama Shigeru. Dasar Shigeru, selalu lama keluar. Jadi kuputuskan menunggu di
gerbang depan sekolah saja.
Tak lama, teriakan khas dari laki-laki itu muncul ditelingaku.
“Hei! Touko-san!”
Dasar, begitu polosnya kah dia sampai tidak merasa bersalah? Kakiku
sudah terasa penuh semut akibat menunggunya sekarang.
“Hei hei, kemana saja kamu?”
Kujawab sapaannya dengan sinis, sambil menghampirinya.
“Kau tau kan aku banyak kerjaan dikelas?”
“Hah? Kerjaan? Memangnya ketua kelas sesibuk itu?”
Sekedar fakta, baik kelasku, kelas Shigeru, maupun kelas Reiko merupakan
kelas yang berbeda.
“Tentu!”
Dia menjawabnya dengan mantap. Ugh! Dasar!
“Gara-gara itu kau jadi tidak bertemu Reiko. Dia memberi surat ini
kepada kita dan menyuruh kita untuk membacanya bersama.”
“Eh?”
Wajah polosnya itu tak tertahankan lagi, membuat perutku terasa geli.
Kemudian, kami segera membuka surat itu, dan entah kenapa Shigure ingin
membacanya keras-keras. Dasar aneh….
‘ Untuk sahabatku, Touko dan Shigure.
Mungkin mulai besok sampai lima hari kedepan aku tidak akan masuk sekolah
karena ada sesuatu. Tolong sampaikan ini pada guru. Oh ya, jangan coba-coba
mendatangi rumahku sebelum hari kelima. Jika sudah mencapai malam hari kelima,
kalian baru boleh berkunjung. Eto…, Touko-san sudah tau letak rumahku kan?
Jangan kangen dan bersedih ya…, bila memungkinkan aku akan kembali. Salam
hangat, Natsume Reiko.’
“Apa-apaan ini?”
Kataku menggerutu. Jangan-jangan dia ada urusan dengan ayakashi lagi? Mengapa dia harus terjun
dalam masalah ayakashi yang bahkan
ingin memakannya?
Perjalanan pulang dengan Shigeru rasanya sungguh sepi. Biasanya ada
Reiko berjalan dibelakang kami, mengekor. Entah alasannya apa, tapi ia tak
pernah mau diajak berjalan disampingku.
Sayang sekali rumah Reiko tak ada disepanjang jalur pulang. Aku hanya
bisa menggerutu dari tadi. Setengah khawatir, setengah kesal.
“Hei Touko-san, tidak bisakah kau berhenti menggerutu?”
Nampaknya Shigeru mulai merasakan hawa tidak enak menyelimuti kami. Aku
menghela nafas, mungkin ini karena aku.
“Ah, maaf.”
Singkat, padat, dan jelas. Hanya kata-kata berjenis seperti itulah yang
bisa kuucapkan dalam keadaan seperti ini. Shigeru hanya bisa mencibir.
Hari-hari berjalan lambat. Waktu terasa menghambat datangnya hari kelima
itu. Ditambah lagi, suasana terasa begitu sepi tanpa Reiko. Apa yang sedang ia
lakukan sekarang? Kata-kata itu terus menghantui pikiranku bagai sebuah
bayangan ayakashi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar