Bab 3
Tepat hari kelima ya? Aku harus segera menemui Reiko. Tapi, ini masih
pagi dan sedari tadi Shigeru belum mendatangi kelasku. Ya ampun…, dasar manusia
yang tidak peka.
“Permisi, apa Touko-san ada dikelas?”
Panjang umur, si Shigeru yang baru saja kupikirkan mendadak menyembulkan
kepalanya di pintu kelas.
Yah, untung saja ini jam istirahat jadi tidak ada yang merasa terganggu
dengan itu. Aku cukup khawatir kalau tiba-tiba dia mencariku saat jam pelajaran
seperti biasanya. Huh, bikin malu saja.
“Oh, Shigeru rupanya.”
Aku segera menghampirinya. Kepalan tanganku segera kuluncurkan ke wajah
Shigeru, namun sasarannya malah memasang wajah polos.
“Ya ampun kau ini…”
Jari telunjukku menyembul dari kepalan tangan dan segera menjitak jidatnya.
“Aduh!”
“Kenapa baru muncul sekarang? Aku sudah menunggu dari tadi dan kau malah
dengan santainya datang kemari dengan wajah tanpa dosa…. Ya ampun….”
“Maaf, Touko-san. Aku lupa.”
“Ah sudahlah. Sebelum waktu istirahat berakhir sebaiknya kita segera
menyusun rencana untuk ke rumah Reiko hari ini. Nanti malam jam 7 kita
berkumpul di rumahku. Kau tidak usah bawa apapun, biar aku bawa buah. Setuju?”
“Hm…, baiklah.”
Waktu terasa menyenangkan kala itu. Perasaan nostalgia memenuhi hati.
Teringat saat-saat pertama bertemu gadis super cantik itu. Yah, bahkan ayakashi kecil dan lemah yang selama ini
dapat kulihat dengan sempurna, mengakui kecantikannya.
Untunglah mereka ayakashi yang
baik, jadi merekalah yang menuntunku ketika ayakashi
mononoke (ayakashi dengan
perasaan benci dihatinya, atau biasa disebut evil spirit) ingin menyerangku. Yah, ini mungkin merepotkan, tapi
aku tidak bisa melihat ayakashi
berkekuatan spiritual kuat, hanya bisa mendengarnya. Walaupun begitu mereka
masih saja bisa menyentuhku. Ya ampun….
Malam telah tiba. Aku mondar-mandir di depan rumah menunggu Shigeru
sambil membawa parsel buah yang kubeli tadi sepulang sekolah. Nampaknya jam
karetnya itu masih saja berlaku bahkan untuk sahabatnya sendiri.
“Hei!! Touko-san!”
Teriak seseorang dari jauh. Aku tak bisa melihatnya karena gelap.
Shigure kah?
“Maaf ya, tadi aku membersihkan rumah bersama orang tuaku jadi….”
Ternyata benar Shigure. Ia mengatakan itu dengan terengah-engah. Sepertinya
dia memang tergesa-gesa.
“Ah, sebaiknya kita segera pergi sebelum malam semakin larut.”
Dengan teganya aku memotong kata-kata Shigeru.
“I… iya baiklah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar