Total Tayangan Halaman

Minggu, 11 Januari 2015

Yukigami Bab 4

Bab 4

Aku setengah berlari meninggalkan Shigeru yang masih melongo karena kelelahan. Yah, selama diriku masih terlihat oleh Shigeru tidak ada masalah kan? Meskipun ia mengikutiku dengan raut wajah penuh lelah, tapi dengan teganya aku tidak memperlambat laju lariku. Tak apa, inilah seorang Touko yang sedang bersemangat!
Hampir sampai ke belokan dekat rumah Reiko, terlihat beberapa bayangan ayakashi. Tidak, bukan beberapa tapi sangat banyak. Apa malam ini ada badai?
Sayup-sayup suara ayakashi rendahan terdengar di telingaku.
‘Natsume Reiko-sama! Natsume Reiko-sama! Kami datang!’
Rupanya mereka memanggil-manggil nama Reiko, dan tambahan -sama itu membuktikan bahwa mereka sangat “mendewakan” Reiko. Ah bukan, mungkin hanya menghormati? Atau mereka malah ingin memakan Reiko?
Aku segera mempercepat lariku, sementara Shigeru tinggal mengikuti belokan ini untuk sampai ke rumah Reiko, jadi tak perlu khawatir.
Sampai didepan rumah Reiko, mulutku hampir-hampir menganga selebar buah apel.
Begitu banyak ayakashi yang mengunjungi rumah ini. Ada beberapa manusia juga, tapi jumlahnya sangat sedikit.
Selama ini yang kutahu Reiko dirawat secara bergantian oleh kerabatnya sejak orang tuanya meninggal saat ia duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Entah kenapa, mereka yang mengasuh Reiko akhirnya mendapat kesialan demi kesialan. Mungkin kutukan dari ayakashi? Karena itulah, mulai dari kelas pertama Reiko di SMP sampai tahun kedua SMA-nya (sekarang), ia hanya diberi upah makan dan sedikit untuk kebutuhan sekunder. Itupun kerabatnya memberi dengan tak ikhlas. Ya ampun, sulitnya menjadi Reiko.
“Ano…, kenapa rumah ini ramai?”
Kebetulan ada youkai (sejenis monster, ayakashi tergolong sebagai salah satu jenis youkai) lemah lewat didepanku. Tak mau buang-buang waktu, aku segera menanyainya sebelum ketahuan Shigeru.
“Oh? Temannya Reiko-sama ya? Mereka semua adalah ayakashi yang berteman dengan Reiko-sama, dan sepertinya ada sesuatu….”
“Sesuatu?”
Maka langkah lebar segera kuambil untuk mengikuti youkai kecil yang melompat-lompat menuju rumah Reiko.
Sementara itu Shigure nampaknya hanya bisa menunggu didepan rumah, karena ia kelihatan takut dengan apa yang kulakukan barusan. Yah, dia kan tidak tahu menahu tentang youkai ataupun ayakashi, apalagi tentang aku yang ‘sedikit’ bisa melihat mereka. Lebih baik kalau dia tidak pernah tahu.
Hm, pintu rumah Reiko tak dikunci, jadi aku segera masuk sambil mengatakan ‘permisi’ baik untuk Reiko maupun untuk youkai dan ayakashi disini.
Terlihat beberapa bayangan ayakashi, beberapa wujud youkai lemah tampak jelas dimataku, dan sepertinya ada lebih banyak ayakashi level tinggi disini. Walaupun aku tidak bisa melihat mereka yang berlevel tinggi, tapi setidaknya telingaku masih bisa menangkap suara mereka.
“Manusia? Temannya Reiko-sama kah? Bukankah Reiko tidak punya teman?”
Suara itu terdengar jelas ditelingaku, namun aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menemukan keberadaan si pemilik suara.
“Hei kalian, jangan bercanda! Dia ini benar-benar temannya Reiko-sama, aku yakin karena sering melihatnya berjalan bersama Reiko.”
Hoho sepertinya youkai yang kutemui di halaman depan tadi ini membelaku. Baik sekali.
“Hm begitu…”
Bayangan-bayangan itu terlihat mengangguk-angguk.
“Anu, Reiko dimana?”
Aku memberanikan diri bertanya, sambil melihat ke sembarang arah karena tidak tahu persis posisi mereka yang berlevel tinggi.
“Eh? Dia hanya bisa mendengar kita? Lemahnya~”
Mereka baru sadar, huh?
Aku hanya bisa menghela nafas sambil mengepalkan tanganku secara sembunyi-sembunyi. Kuakui  diriku ini lemah, tapi setidaknya manusia lain lebih lemah dariku.
Yah, daripada membuang energi untuk memprotes ucapan mereka, dan pastinya berujung pada kutukan, lebih baik aku diam dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Maklum, youkai dan ayakashi sering berbicara diluar topik, apalagi kalau youkai itu seorang “dewa”, maka ia akan semakin sering berbicara diluar topik. Yah, rumor mengatakan, mereka bersikap seperti itu karena peraturan seorang dewa itu sangat ketat dan berbahaya.
“Benarkah kau tidak tahu apa-apa tentang Reiko?”
Suaranya berwibawa. Pasti ini seorang dewa yang sedang serius.
“Ya! Aku benar-benar tidak tahu! Jadi…, maukah kalian memberitahuku? Kuakui kalian semua tidak pernah percaya pada manusia. Tapi kumohon, sekali ini saja, beritahukan hal itu!”
Apa ini? Aku merasa aneh. Ada apa dengan pikiranku? Ah tidak, ini bukan pikiranku, tapi hatiku. Hatiku bergejolak seakan merasakan sesuatu yang buruk. Biasanya itu benar. Mungkinkah?
“Dia banyak bicara juga ya?”
“Iya juga. Aku tidak menyangka Reiko-sama bisa dekat dengan seseorang yang banyak bicara seperti itu.”
“Tidak pernah percaya pada manusia, huh? Kau pikir kami tidak percaya pada Reiko, nak?”
Nada bicaranya santai tapi, aku merasakan ada hawa tersinggung darinya. Dilihat dari auranya, mungkin dia tepat didepanku.
“Em, maaf. Bukan maksudku seperti itu.”
“Kau benar-benar ingin mendengarnya? Mungkin ini akan membuatmu sedih.”
Sedih? Yang benar saja….
“Aku sangat yakin!”
Jawabanku memang terdengar mantap. Tapi jauh dalam hatiku, aku khawatir.
“Reiko sudah mati.”
Mati? Tidak mungkin! Reiko itu kuat dan bisa mengalahkan youkai apapun! Bagaimana bisa?
“I… itu bohong kan?”
Mulutku bergetar, tapi secercah harapan masih tersisa dalam hatiku. Aku yakin itu bohong.
“Mana mungkin aku bohong kalau itu soal Reiko?”
Badanku terasa lemas. Aku tak tahan disini, ini mungkin mimpi! Jadi, jika aku kembali ke tempat tidur dan bangun…, pasti semua akan kembali normal!
Kaki ini kupaksa berlari secepat mungkin ke rumah, sementara parsel buah yang seharusnya untuk Reiko kutinggalkan begitu saja disana. Shigeru dengan setengah melongo akhirnya cepat-cepat pulang kerumahnya juga.
Tubuh ini langsung kurebahkan diatas kasurku. Air mataku mengalir deras dan membuat bantalku terasa seperti kain basah.
“Ada apa, Touko?”
Suara itu…, Ibu kan? Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?
“Hm, tidak mau cerita ya? Ya sudah, besok pagi ceritakan pada Ibu ya?”

Pendengaranku mengatakan, Ibuku saat ini masuk ke kamarnya, yang berarti beliau tak terlalu mempermasalahkan hal ini. Yah, pada akhirnya aku hanya bisa menghela nafas dan tertidur…. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar