Reiko adalah seorang remaja indigo. Kata orang,
kekuatannya akan menghilang jika beranjak remaja. Namun buktinya, sampai
sekarang Reiko masih mempunyai kekuatan itu. Akibatnya, ia sering berlaku aneh.
Maka tak heran orang-orang menjauhinya. Saat ini hanya para makhluk aneh itulah
yang menemaninya. Reiko menyebut makhluk itu “youkai”. Orang tua Reiko meninggal dalam kecelakaan saat ia masih
kecil. Sedangkan kakaknya harus bekerja di luar negeri dan pulang 6 bulan
sekali. Walaupun begitu, Reiko dan kakaknya masih hidup berkecukupan karena
warisan orang tua mereka yang sangat banyak. Soal youkai yang menemani Reiko, mereka adalah youkai baik yang bersedia menjadi sahabatnya (walaupun lebih banyak
yang bersedia karena paksaan). Maka Reiko mengabadikan nama mereka dalam buku
yang penuh kekuatan supranatural miliknya. Reiko dan para youkai itu dapat saling berhubungan lewat buku itu. Namanya ‘Book of Friends’ atau ‘Yuujinchou’.
Seperti biasa, Reiko pulang sekolah dengan diiringi
olok-olokan dari orang sekitarnya. Namun, ia tak memperdulikannya. Di tengah
jalan, Reiko merasakan sesuatu yang mempunyai kekuatan yang sangat besar ada di
dekatnya. Ia menoleh kesana kemari, tak ada apapun. Reiko memejamkan mata, menelusuri darimana asal kekuatan itu. Aneh,
gumamnya. Kekuatan itu berasal dari sebuah kalung lusuh, dengan kristal berwarna
biru yang menngantung berada di pinggir jalan. Karena penasaran, ia mengambil kalung itu dan
membawanya pulang. Setelah sampai dirumah, Reiko membersihkan kalung itu hingga
terlihat seperti baru. Lalu ia memanggil beberapa teman youkai-nya. Dengan duduk membentuk lingkaran, mereka mulai mencoba mendeteksi,
sebenarnya ada apa dengan kalung itu?
“Reiko…, i….ini….dia….” Kata Hinoe, teman Reiko, mulai
mengetahui apa yang terjadi.
“Kenapa? Ada apa dengan benda ini?” Kata Reiko penasaran.
“Kalung ini adalah segel seorang lord youkai penjaga hutan selatan kota ini yang telah lama sekali
menghilang entah kenapa.” Kata Hinoe. Lord
youkai adalah seorang youkai yang
sangat kuat, menjaga suatu daerah baik sendiri atau berdua, dan didewakan oleh youkai lain.
“Benarkah? Kalau begitu, bagaimana cara membebaskannya
dari segel ini? Bisakah kau menceritakan sedikit tentangnya padaku?” Reiko
benar-benar penasaran sekarang.
“Kabar terakhir tentang lord youkai itu adalah dia dan saudaranya sedang melawan lord youkai lainnya yang menjadi evil youkai. Evil youkai itu sangat kuat dan anehnya, sebagai seorang youkai dia bisa menyegel youkai lain, bahkan seorang lord youkai pun bisa disegelnya. Kau
tahu kan menyegel lord youkai hampir
tidak mungkin dilakukan? Mungkin penyebab ia bisa menyegel youkai dan penyebab dia menjadi evil
youkai sama. Dan ternyata kabar burung benar, bahwa dua bersaudara itu
disegel. Sayangnya membuka segel jenis ini hampir tidak mungkin dilakukan
kecuali ada seorang manusia yang spiritual
powernya
cocok dengan youkai yang disegel. Manusia yang spiritual powernya cocok itu hanya ada satu orang untuk
satu youkai di seluruh dunia. Tapi
membebaskannya butuh waktu bertahun-tahun. Jika menggunakan cara paksa yaitu
menghancurkan segelnya, maka youkai yang
tersegel itu juga akan ikut hancur. Rumit bukan?” Kata Hinoe menjelaskan panjang
lebar.
“Hmm…, rumit juga. Kalau begitu, bagaimana kalau besok
kita mencarikan orang yang cocok dengan lord
youkai ini?” Kata Reiko bersemangat. Ia selalu bersemangat jika soal
membantu seseorang (atau sesuatu, karena youkai, hewan, tumbuhan tak bisa disebut dengan kata ‘seseorang’).
“Aku setuju denganmu, walaupun kita belum tentu bisa
menemukannya di sekitar sini. Tapi sebaiknya kau berusaha berkomunikasi dengannya dulu,
siapa tahu kau bisa mendapatkan informasi penting darinya. Tapi aku tak
menjamin kalau kau bisa berkomunikasi dengannya, karena bicara dengan youkai yang tersegel itu sulit.” Kata Hinoe.
“Baiklah kalau begitu, aku akan mencobanya malam ini. Tapi aku tak menjamin
kalau ini tak berhasil.” Jawab Reiko.
“Hati-hati ya Reiko? Kau tahu kan, ini sangat berbahaya. Kalau kau mau, kami
bisa membantumu kok. Setidaknya kami bisa menemanimu dan memberi bantuan jika
dalam bahaya. Iya kan, teman-teman?” Kata Hinoe menawari bantuan, disertai
anggukan yang lain dengan antusias.
“Iya, aku sangat tahu ini berbahaya. Tapi, kalian tidak perlu ikut. Aku
tidak mau merepotkan kalian. Aku minta kalian tak menemaniku malam ini. Aku
punya firasat kalau kalian tak seharusnya melihat peristiwa yang akan terjadi.
Bagaimana?” Kata Reiko dengan ekspresi memohon.
“Hmm…, jika firasatmu sudah mengatakan demikian, baiklah.” Kata Hinoe
dengan ekspresi kecewa, begitu juga dengan yang lain.
“Sekali lagi, maaf ya, teman-teman?” Kata Reiko merasa bersalah.
“Iya, nggak papa Reiko…, kamu nggak perlu minta maaf. Aku tahu kok, ini
demi keselamatan kami semua. Iya kan? Teman-teman yang lain juga berpikiran
begitu kan?” Hinoe sekarang tersenyum.
“Yup, tentu saja.” Jawab teman Reiko yang lain dengan mengangguk-angguk.
“Terima kasih, teman-teman…” Kata Reiko, terharu. Setelah itu, semuanya
pergi, dengan raut wajah khawatir akan terjadi sesuatu dengan Reiko.
Tanpa basa-basi lagi Reiko mencoba untuk berbicara pada youkai yang tersegel dalam kalung
tersebut. Walaupun matanya sudah berat, dan mulutnya sudah tak bisa ditahan
untuk menguap, ia tetap bersikeras akan melakukan hal ini. Reiko menutup
matanya perlahan, berkonsentrasi, dan mencoba terhubung dengan lord youkai yang sekarang sedang
tersegel di kalung yang ada di lehernya. Ia berbicara dalam hati, berharap youkai yang dimaksud akan membalas. ‘Wahai lord youkai yang tersegel di kalung
ini, bicaralah padaku! Kumohon, ini demi keselamatanmu. Balaslah perkataanku
jika kau mendengar....’ Sunyi,
senyap. Tak ada suara, kecuali suara angin yang berhembus pelan kepada Reiko,
membelainya lembut. Seakan ia tau bahwa takkan ada jawaban untuk saat ini.
“One who would protect me, show your
name!!” Reiko menghela nafas. Sepertinya lord youkai yang ini belum pernah bertemu dengannya. Yuujinchou tidak bereaksi sama sekali.
“Madara, datanglah!” Reiko mencoba cara lain dengan memanggil youkai berbentuk serigala putih raksasa
itu. Plong! Madara langsung muncul di
kamarnya. Youkai berwajah menakutkan
itu pernah dikalahkan oleh Reiko yang hanya bermodalkan tongkat kasti. Saat
itu, dengan kepala yang benjol, ia dengan sukarela memberikan namanya untuk
diletakkan dalam Yuujinchou, yang
berarti ia tak akan bebas -secara penuh- lagi.
“Ugh! Aku harus masuk ke kamar sempit ini lagi…” Kata Madara mendesah.
“Maaf ya, Madara. Kali ini aku sangat membutuhkanmu.” Jawab Reiko sambil
berekspresi memohon pada Madara.
“Ha? Tumben kau panggil aku,
biasanya si Hinoe sialan itu yang kau panggil. Apalagi, sekarang kan sudah
malam, dan kemana Hinoe? Seharusnya kan dia menjagamu saat ini! Tidurlah, kau
tak perlu aku!” Balas Madara sengit, sambil memalingkan muka dengan angkuhnya.
“Masalah kali ini sudah diluar kuasa Hinoe! Dan aku yang meminta dia untuk
pergi dari sini. Hanya kau yang bisa membantuku kali ini. Jadi, kumohon
bantulah aku!” Kata Reiko pantang menyerah untuk membujuk Madara yang memang
sangat susah dibujuk.
“Oke oke, kali ini aku akan membantumu…” Jawab Madara malas. “Jadi, apa
masalahnya?” Madara mencoba menghilangkan rasa malasnya itu, tapi nampaknya tak
berhasil.
“Bisakah kau menunjukkanku cara untuk bicara pada lord youkai yang tersegel disini?” Tanya Reiko sambil mendekatkan
kalung yang dipegangnya kepada Madara.
“Hm?” Kata Madara sambil mengendus-endus kalung itu, melihatnya dengan
teliti. “Ini segel paling berbahaya bagi seluruh youkai diseluruh dunia. Tapi yang kuingat, satu-satunya orang yang
mempunyai ilmu segel ini telah meninggal, dan jika dicermati, segel ini dibuat
setelah orang itu meninggal. Bagaimana bisa?”
“Oh, Kata Hinoe, yang menyegel ini bukanlah orang itu, tapi lord youkai lain yang menjadi evil youkai.”
“Aku mengerti…, tapi penyebab dia menjadi evil youkai pasti sangat luar biasa. Mengingat lord youkai hampir tak mungkin jadi evil youkai. Juga, darimana dia mendapatkan ilmu segel yang
seharusnya hanya dimiliki manusia itu?”
“Entahlah. Tapi, kumohon jangan mengalihkan pembicaraan, Madara! Tolong
beritahu aku bagaimana caranya agar aku bisa bicara padanya?”
“Kau harus bisa menembus barikade komunikasi di segel itu, dan ingat! Segel
ini adalah segel paling berbahaya bagi kami. Kau harus bisa menembus barikade
itu tanpa merusak segelnya. Paham?”
“Oke, terima kasih infonya. Aku pasti bisa melakukannya!”
“Tch! Kau terlalu percaya diri! Aku saja tak yakin kau bisa melakukannya.”
Kata Madara dengan angkuhnya.
“Aku lebih dari yang kau kira, Madara!” Jawab Reiko tersenyum nakal.
“Urusanku sudah selesai disini. Kalau begitu, aku pergi dulu. Daahh!!”
“Tapi…” Wusshh!! Madara hilang
secepat angin, padahal Reiko belum mengijinkannya. Setidaknya informasi penting
telah ia dapatkan. Tapi, bagaimana caranya? ‘Mungkin harus mengulangi cara tadi, lalu akan kucoba untuk
menghancurkan barikade itu. Ya! Harus bisa!’ Reiko sudah bertekad. Ia
mengulangi cara yang telah ia lakukan, mencoba mencari dimana barikade itu.
Sia-sia, tak ada hasil.
‘Mungkin aku perlu beristirahat untuk
mengembalikan spiritual powerku. Besok pagi, aku akan mencobanya lagi. Semoga usahaku
kali ini tidak sia-sia…” Kata Reiko yang sudah hampir putus asa. Lagipula, sepertinya
dia butuh istirahat saat ini. Matanya sudah berat, tak bisa ditahan untuk
terpejam. Tubuhnya sudah lemas, ingin sekali direbahkan di kasur peninggalan
orang tuanya yang sangat empuk itu. Mau tidak mau, ia tidur sekarang juga.
Sejujurnya, ia tak mau tidur. Hanya saja, jika diperhitungkan, itu hanya
akan membuat ini semua sia-sia saja. Merebahkan diri di kasur memang enak, tapi
tidak bagi Reiko saat ini. Kira-kira, bagaimana keadaan wilayah yang
ditinggalkan lord youkai itu ya?
Pasti terbengkalai tanpa adanya seorang pemimpin. Perlahan, matanya terpejam.
Bersiap untuk menyusuri dunia mimpi yang penuh misteri, namun kadang kala
terlihat sangat indah itu. Tak seperti biasanya, dia sendirian sekarang. Tak
ada Hinoe, ataupun youkai yang lain,
yang biasa menjaganya sampai fajar menjelang. Tak perlu takut sendirian, toh
Reiko sekarang sudah besar kan? Lebih baik jika tak merepotkan mereka lagi,
atau kalau perlu mereka tak perlu menjaganya untuk selama-lamanya. Di dalam
mimpi yang dalam…
‘Hai, namamu Reiko kan? Kenalkan, aku
adalah Reika, lord youkai dari hutan selatan kota ini. Aku bersama adik kembar
laki-lakiku, Natsume, telah menjaga hutan itu selama ribuan tahun. Tapi,
seorang evil youkai seenaknya menghancurkan wilayah kami. Jadi kami berusaha
melawannya. Sayangnya ia punya ilmu segel dari manusia, dan ilmu segel itulah
yang membuatnya menjadi evil youkai. Aku dan saudaraku tersegel dalam kalung.
Aku berada dalam kalung ini, sedangkan adikku yang lebih lemah berada dalam
kalung berwarna emas di sebuah tempat di bumi yang aku sendiri tak tahu dimana letaknya.
Aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu. Kaulah manusia yang memiliki
kekuatan yang cocok denganku. Sebagai langkah pertama pembebasanku, maukah kau
kuajari sedikit ilmuku, gadis cantik?’
‘I…iya, aku adalah Reiko. Agar kau
bisa bebas, tentu saja aku mau untuk melakukannya. Lagipula, hal itu malah
menguntungkanku.’
‘Terima kasih. Nah, tutup matamu
sebentar, jangan membuka mata sebelum ada aba-aba dariku. Jika kau lakukan itu,
maka semua ini akan gagal.’
‘Baiklah jika kau memaksa.’ Reiko
menutup matanya. Ia merasakan hawa yang sejuk menerpanya, membuat tubuhnya
terasa seperti melayang. Samar-samar, matanya dapat menangkap bahwa sebuah
cahaya sedang menerpa. Cahaya yang menenangkan, membuatnya merasa lebih kuat,
lebih sabar, dan berwibawa. Tubuhnya terasa seringan kapas.
‘Baiklah, bukalah matamu. Tahap
pertama sudah selesai!’
‘Eh? Ilmu apa yang kau berikan, Aiko?’
‘Cobalah dulu, ini ilmu dasar. Tutup
mata, konsentrasi, dan biarkan tubuhmu bergerak kearah yang ia mau, dan kau
boleh membuka mata saat itu. Tapi biarkan tubuhmu tetap bergerak tanpa
kendalimu, nanti juga berhenti sendiri, dan lihat apa yang terjadi…. Oh iya,
satu lagi, jika kau ingin menghubungiku, just close your eyes and
concentration, and you’ll meet me. Don’t worry, humans and youkai can’t know
what we do. So please contact me again, yeah? But remember, sometimes you can’t
contact me because this seal are too strong for us.’
‘Okay, I’ll…’
Krriinngg!! Jam weker Reiko berbunyi. Spontan Reiko terbangun dengan
pikiran yang masih terbawa mimpi.
“…contact you again….” Reiko
segera menyadari bahwa kejadian itu hanyalah mimpi setelah melihat keadaan di
sekitarnya. “Huft…, hanya mimpi.”
“Oh hai Reiko, apa kabar? Siap untuk menyambut hari Minggu yang indah ini?”
Tiba-tiba Hinoe masuk ke dalam rumah Reiko melalui jendela kamarnya tanpa
permisi. Lalu langsung duduk di kursi yang tersedia di kamar itu. Yah,
setidaknya Hinoe lebih sering duduk di kursi itu dibandingkan pemiliknya.
“Ah, Hinoe! Jangan masuk ke rumah orang tanpa mengetuk begitu! Kau mengagetkanku
saja.”
“Ah, maaf maaf. Lagipula kau kan sudah tahu kebiasaanku. Tak perlu marah
begitu lah…” Balas Hinoe sambil mengibas-ngibaskan tangannya tanpa rasa
bersalah. Tapi sebelum ‘tuannya’ marah, ia lebih memilih untuk mengalihkan
topik pembicaraan daripada meneruskan bicaranya yang memang terkesan sering
tidak sopan itu. “Oh iya, bagaimana perkembangan kasus yang kemarin itu?”
“Sebenarnya aku tidak tahu ini nyata atau tidak, tapi aku telah bicara
padanya lewat mimpi tadi malam…”
“Hee?? Hmph… hmph…” Hinoe menahan tawanya saat Reiko mengatakan hal itu,
dan sepertinya sudah tak tertahankan lagi. “Huahahaha…. Kau pasti bercanda kan,
Reiko??”
“Aku tidak bercanda, Hinoe!! Memangnya kau tahu kalau itu nyata atau tidak,
hah?” Jawab Reiko berkacak pinggang, nada mengejek. Ia yakin jika mimpinya itu
tidak sembarangan dan pasti benar adanya.
“Oke oke, aku memang tak tahu itu nyata atau tidak.” Balas Hinoe mengangkat
tangan, tanda menyerah. “Oh iya, bagaimana wujudnya? Aku pernah melihat dia
sekali, di kejauhan. Jadi jika wujud yang kau ucapkan sama dengan yang kulihat
waktu itu, berarti kau benar.”
“Hmm…, let’s see…. Dia cantik,
berambut panjang lurus terurai berwarna pirang dengan tambahan mahkota berhias
kristal-kristal biru disana, matanya berwarna biru laut, wajahnya menunjukkan
keteduhan dan kewibawaan seorang pemimpin, pakaiannya adalah yukata biru berhias bunga sakura biru, dan
tingginya hampir sama sepertiku. Oh…, aku tidak bisa berhenti mengagumi
kecantikannya. Apalagi sepertinya dia sangat suka warna biru sepertiku.”
“Hmm…, kelihatannya kau benar kali ini, Reiko. Dia adalah si sulung dari duo lord youkai penjaga hutan selatan
itu, dan kau benar-benar bicara padanya. Coba ceritakan apa yang dia katakan
kemarin.” Kata Hinoe antusias, padahal tadi ia tak terlihat bersemangat,
apalagi antusias. Reiko langsung menceritakan mimpinya tadi, secara detail dan
terperinci agar Hinoe dapat mengerti apa yang terjadi. “Jadi dia ingin
memberikanmu kekuatan lord youkai?!
Itu sangat berguna, Reiko! Kau bisa mensucikan para evil youkai kembali menjadi youkai
baik, atau kalau tidak bisa, kekuatan itu bisa membuatmu jadi exorcist!”
“E…exorcist?! Tapi, tapi…”
“Ah…, jangan basa-basi lagi Reiko. Cobalah kekuatan itu, seperti yang
dikatakannya sekarang juga.”
“Tapi kumohon pergilah Hinoe. Aku punya firasat kalau ini akan berbahaya
untukmu.”
“Oke oke…, aku akan pergi.” Hinoe bersedia pergi. Setelah sampai di
tempatnya -sebuah tempat di hutan yang dekat dengan danau- ia merasa tidak
terima dengan perkataan Reiko.
‘Huh, Reiko…. Memangnya aku harus
pergi? Bukannya dia tahu kalau aku ini juga youkai yang kuat, dan tentu saja bisa
dibandingkan dengan Madara? Ada apa dengan dia?’ Kesal, Hinoe menendang
kerikil-kerikil tak bersalah yang berada di dekatnya.
*Sebenernya ini mau aku buat cerbung, tapi malah jadi fanfict Natsume Yuujinchou >_< Terserah pembaca deh mau nganggap ini apa XD Ceritanya agak janggal, maklum cuma buat pelampiasan :v Kutunggu reviewnya ^_^
*Sebenernya ini mau aku buat cerbung, tapi malah jadi fanfict Natsume Yuujinchou >_< Terserah pembaca deh mau nganggap ini apa XD Ceritanya agak janggal, maklum cuma buat pelampiasan :v Kutunggu reviewnya ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar