Total Tayangan Halaman

Minggu, 11 Mei 2014

Sang Pencari Bab 4

          Dalam kamarnya, sambil menunggu kantuk menghampiri, Arina sedang memikirkan masalah tadi, yaitu undangan misterius itu. Sudah tepat tengah malam, namun ia masih tak bisa tidur. Arina merasa bahwa dia pernah melihat ini sebelumnya, tak tahu kapan dan dimana. Terus berusaha mengingat sampai otaknya terasa hampir pecah, hasilnya tetap nihil. Sampai tanya teman imajinasinya, menggaruk-garuk kepala, melihat keatas pun tak ada hasil. Akhirnya Arina memutuskan untuk tidur, karena mungkin ia tak bisa mengingat hal itu karena sekarang sudah terlalu malam untuk tidur.
          Esoknya saat jam istirahat, seperti biasa keenam sahabat itu berkumpul di kelas. Di saat yang lain meninggalkan kelas, mereka mulai membiacarakan tentang undangan itu. Sekaligus untuk berjaga-jaga atas kemungkinan terburuk yang mungkin akan menimpa mereka. Akina punya firasat buruk tentang ini, makanya mereka melakukan hal demikian.
          “Ekhem ekhem! Oke, pertama-tama kita tentukan dimana kita akan berkumpul, juga waktunya!” Kata Fais mengawali diskusi menegangkan ini sambil menggebrak meja yang ada didepannya dengan bersemangat. Sepertinya dia sudah mulai kembali ke tabiat aslinya. Padahal sebelumnya dia sangat pemalu sampai-sampai hampir tak pernah bicara sejak kepindahan Arina.
“Ayo, cepat! Waktu kita tidak banyak, sekitar 20 menit lagi kelas ini akan kembali ramai. Sebelum itu terjadi kita harus sudah menentukan hasil diskusi ini!” Kata Ai meledak-ledak penuh emosi.
          “Yosh! Aku usul duluan. Kalian pulang dulu ke rumah masing-masing untuk berganti baju, lalu kita berkumpul di tempat tujuan. Waktunya, kira-kira 10 menit sebelum dimulainya acara. Jika ada yang datang lebih dulu, dia harus menunggu yang lain di depan rumah yang menjadi tujuan kita, tidak boleh masuk ke rumah tujuan. Bagaimana?” Kata Fahri bersemangat.
          “Usulan yang bagus, Fahri. Aku setuju!” Balas Ai.
          “Kami juga setuju!” Kata Lia mewakili Fais, Arina, dan Akina. Berakhirlah diskusi singkat itu. Bel masuk berbunyi, dan kelas segera ramai. Mereka tak pernah tahu, apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya…
          Seperti yang direncanakan, mereka berkumpul di depan rumah si pengundang misterius. Kebetulan, mereka bertemu di jalan. Jadi mereka berjalan bersama untuk ke rumah itu.
          Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Suasanya masih sepi, belum banyak orang yang datang di pesta ini. Mereka langsung masuk saja pada rumah itu, sekalian mencari si pemilik rumah yang telah mengundang mereka. Pada awalnya, mereka tak terlalu memperhatikan keadaan sekitar. Tapi setelah mencoba untuk memperhatikan rumah itu, mereka terpana. Rumah mewah bereksterior yunani kuno, dengan interior kerajaan Inggris masa lalu. Sepertinya pemilik rumah ini penggemar rumah klasik.
          “Selamat datang, adik-adik!” Sambut pemilik rumah yang saat ini sedang mempersiapkan keperluan pesta dengan ramah.
“A…, arigatou.” Jawab Akina gugup.
“Tak usah gugup begitu dong, santai aja! Kenalin, aku Fujiwara Hana, pemilik rumah ini. Kalian cukup memanggilku Hana-oniisan, Hana-niisan, atau Hana-niichan, terserah (semuanya artinya sama, yaitu Kak Hana). Terima kasih telah hadir di acara ulang tahunku ini. Yorushiku! (mohon bantuannya)” Kata pemilik rumah yang ternyata bernama Hana itu dengan membungkuk hormat dan ramah. Memang dia terlihat muda, tapi terlalu muda untuk seukuran orang yang memiliki rumah semewah itu, sendirian. Ini membuat Arina dan kelima temannya terheran-heran.
“Salam kenal, Hana-niisan. Tapi, dari mana onii-san tau nama kami? Padahal, kami sama sekali tak mengenal Hana-niisan. Sebenarnya, siapa Hana-niisan ini?” Kata Fahri mengungkapkan sedikit pertanyaan yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
“Nanti pada saatnya, kalian akan tahu. Tapi, jangan berpikiran yang bukan-bukan dulu kepadaku. Saat ini, belum saatnya aku membicarakannya pada kalian. Tapi, yang jelas sebentar lagi akan tiba waktunya kalian tahu itu semua.” Kata Hana meyakinkan keenam anak yang kelihatan sedang berpikiran buruk padanya itu.
“Eto…, masalah itu sepenting itu kah? Sampai-sampai harus disampaikan pada waktu yang tepat. Seumur-umur, baru kali ini aku melihat yang seperti ini. Lagipula, kenapa Hana-niisan tinggal sendirian di rumah yang begitu megah ini?” Kata Fahri.
“Iya, ini sangat sangat penting. Jangan khawatir, waktunya sudah dekat kok ^_^ Rumah ini peninggalan orang tuaku, terlihat kuno bukan? Orang tuaku meninggal ketika aku masih kecil, jadi wajar saja lah kalau aku tinggal sendirian di rumah megah ini. Oh iya, pesta seharusnya sudah dimulai sekarang. Jadi, aku harus pergi ke podium, maaf ya?” Kata Hana meminta maaf.
“Silahkan niisan pergi, kami tidak keberatan kok.” Balas Arina. Pesta itu berlangsung meriah, namun Arina dkk tak merasa nyaman berada di sana, seperti dalam rumah yang asing. Jadi sebelum pesta berakhir, mereka diam-diam keluar dari sana tanpa tahu bahwa ada yang membuntuti mereka.
“Hana, lihatlah. Sepertinya hal menggemparkan itu sudah dimulai. Bagaimana kalau sekarang kita lakukan tugas kita?” Kata laki-laki (yang lebih tepat disebut pemuda jika dilihat dari perawakannya) dengan penampilan yang sangat seram, kulit putih pucat, pandangan datar tapi seram dan tajam, dan kantung mata yang menghitam.
“Aku tahu ini sudah waktunya, Senpai. Tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan tugas kita.”
“Terserah kau lah, kalau soal ketepatan kaulah juaranya. Jadi aku tak bisa mengelak. Aku pergi!!”
“Yah…, Senpai ngambek. Dasar!”
Arina dkk duduk pada bangku taman yang memang tersedia di perumahan elite itu. Mereka semua menunduk, merenungkan sesuatu, kecuali Arina yang memilih untuk tidak merenungkan keanehan-keanehan yang terjadi hari ini. Keanehan merupakan separuh dari dirinya sedari kecil. Tidak dipungkiri bahwa keanehan dalam dirinya itulah yang membuatnya dijauhi orang lain, dan untungnya tidak ada satupun dari keluarganya yang mengetahui hal ini.
“Teman-teman, ada apa? Kok kalian terlihat merenung dari tadi?” Tanya Arina untuk memecah kesunyian kala itu, sekaligus untuk menyingkirkan hawa tak nyaman yang sedang menyelimuti mereka. Seketika kelima teman Arina itu bingung, dan saling berpandangan. Rupanya mereka tidak menyadari bahwa temannya sendiri sedang merenung juga.
“Um…, ini sedikit aneh sih, tapi tadi waktu berangkat ke pesta itu, rasanya pandanganku berputar-putar, dan masa lalu dimana aku sedang bermimpi tentang petualangan yang melibatkan orang keenam itu terputar kembali dalam mata dan ingatanku. Juga, ketakutan-kutakutanku di masa lalu juga muncul, padahal sekarang aku sama sekali tidak takut sekarang. Entah mengapa, itu membuatku sangat tidak nyaman dan ketakutan, padahal biasanya aku dapat menghadapi semuanya dengan tenang.” Kata Fahri, sedikit panik. Berbeda dengan kepribadiannya yang selalu tenang.
“Loh, kok sama?” Kata Ai, Lia, dan Fais bersamaan.
“Ano…, kalau aku sama seperti kalian. Hanya saja, yang terputar dalam mata dan ingatanku hanya ketakutan yang sempat menyelimutiku sewaktu kecil, padahal sekarang aku tidak takut, bahkan aku senang dengan itu…” Kata Akina.
“Ah, Akina! Kejadian yang kamu alami persis sepertiku!” Balas Arina.
“Apa benar?!” Kata Akina. Mereka pun menunduk bersamaan, memikirkan hal ini, apa sangkut pautnya dengan mereka, dan sebab akibat yang akan ditimbulkan. Percuma saja, tak ada hasil. Mereka memutuskan untuk pulang, dan siapa tahu kejadian ini hanya suatu kebetulan semata. Di tengah perjalanan pulang, mereka mendengar suara kuda berlari. Entah kenapa keras sekali, menggelegar laksana petir di sore hari. Tanpa diduga-duga, kuda itu -tentu saja dengan penunggangnya- menghalangi jalan mereka. Kuda itu sedikit aneh, besar, matanya merah menyala, kulitnya hitam legam, rambutnya pun lebat. Sedangkan si penunggang kuda memakai jubah hitam, dan memakai topeng hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Aura kegelapan langsung menyeruak diantara mereka. Bahkan, seekor semur tak bersalah yang sedang lewat pun, mati karenanya.
“Mana simbolnya?? Cepat berikan!! Atau kalian akan merasakan akibatnya!!” Kata si penunggang kuda itu tiba-tiba, sambil menghunuskan pedangnya.
“Simbol? Simbol apa tuan? Dan juga, siapakah tuan ini?” Kata Fahri gagah berani menghadapi orang serba hitam itu, sementara yang lain hanya bisa berdiri mematung dibelakang Fahri, tak terkecuali Ai yang jago karate. Mereka masih linglung dengan kejadian demi kejadian yang menimpa mereka hari ini.
“Huh! Jangan pura-pura! Aku tahu kalian memegang simbolnya, kan? Mana? Cepat berikan! Dan tak mungkin kalian tak mengenaliku, kita sudah pernah bertemu puluhan tahun lalu!” Kata orang misterius itu. Tiba-tiba, Arina merasakan ada langkah-langkah kaki yang mendekat, dan dalam sekejap berada di depan Fahri dan lainnya. Ternyata itu adalah Hana bersama keempat temannya, termasuk pemuda berpenampilan seram yang membuntuti Arina dkk bersama Hana tadi.
“Jangan coba-coba menyerang mereka! Saat ini kekuatanmu masih jauh dibawah kami! Pergilah, atau rasakan akibatnya!” Kata teman Hana yang seram tadi.
“Baiklah, baik. Tapi ingat, delapan hari lagi kekuatanku meningkat, dan aku akan mengalahkan kalian dan akan aku kuasai bumi ini!” Kata orang misterius itu, lalu pergi.
“Kalian tidak apa-apa?” Kata Hana.
“Tidak apa-apa, Hana-niisan J” Kata Fahri.
“Oh, yokatta (syukurlah)…. Oh iya, orang tadi mempunyai nama lain Prince of Dark yang berinisial R (nama disamarkan XD), keturunan dari King of Dark (nama disamarkan XD) yang pernah hampir menguasai bumi ini juga. Untuk mengetahui penjelasan lebih lanjut, besok siang kalian ke rumahku lagi ya? Waktunya terserah, pokoknya harus siang hari, paham?” Kata Hana.
“Oh, oke kak.” Balas Ai enteng. Setelah itu Hana dkk pergi, tapi pemuda seram teman Hana tadi terus menggumam dalam langkahnya, seperti tidak terima dengan keputusan Hana. Pada akhirnya Arina dkk hanya memandangi mereka dengan melongo. Dalam sekejap, Arina teringat sesuatu…
“Prince of Dark? Berinisial R?” Gumam Arina berpikir, tapi ternyata kelima temannya mendengar itu.
“Memangnya kenapa, Arina? Ada masalah dengan itu?” Kata Lia.
“Em…, rasanya aku pernah melihat semua kejadian aneh yang aku dan kalian alami belakangan ini, tapi kapan? Istilah Prince of Dark dan inisial R itu, aku pernah mendengarnya juga? Dimana ya?” Kata Arina menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Hah? Kamu pernah? Coba ingat-ingat lagi…” Kata Lia berharap Arina bisa mengingat semuanya.
“Aha!!” Kata Arina tiba-tiba, yang seketika mengejutkan teman-temannya yang hampir melompat kaget itu. “Aku ingat sekarang. Itu semua adalah mimpiku! Dan inisial R itu sebenarnya adala R-E-…. Argh?! Satu huruf dibelakang E aku tidak ingat?!” Ucap Arina mengacak-acak rambutnya.
“RE…? Kalau kamu tidak bisa mengingatnya tak masalah, yang terpenting kamu sudah ingat bahwa itu adalah mimpimu. Jadi, jangan panik, oke?” Kata Lia menenangkan. Keenam sahabat itu masih penasaran dengan nama asli Prince of Dark, dan kelanjutan dari kisah mereka ini. Mereka tak tahu bahaya apa yang akan menimpa mereka di kemudian hari…

*Yaps, jawaban dari Bab 3 adalah mimpi Arina di Bab 1 :v Nah, cukup membuat pusing kan? XD Pertanyaan selanjutnya adalah…, siapakah nama asli Pangeran Kegelapan? Kali ini nggak usah clue ya? Coba dikira-kira, mudah kok XD Jawaban akan tersedia di Bab terakhir :v #digampar. Kutunggu jawabannya XD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar