Total Tayangan Halaman

Rabu, 09 Juli 2014

Liburan, Saat-Saat Terakhir Bersamanya

Di suatu senja, sepasang remaja sedang berjalan beriringan, mengikuti irama angin lembut musim semi. Kelopak-kelopak merah muda bunga sakura menghujani mereka dengan senangnya, menambah suasana romantis yang menyelimuti keduanya. Hangatnya senja mengurangi rasa dingin menusuk dari angin musim semi. Di bawah pohon-pohon sakura, terlihat banyak orang menikmati makanan mereka bersama keluarga tercinta. Suasana memang ramai, tapi sepi menyelimuti hati sepasang remaja tersebut. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya, sampai akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk angkat bicara.
“Liburan yang membosankan ya, Shinichi?” Kata Ran angkat bicara.
“Ya…, seperti yang kau lihat. Ngomong-ngomong, besok datanglah ke rumahku.Ayah dan ibuku pasti senang dengan kedatanganmu.” Kata Shinichi.
“Ibumu? Kapan beliau datang?” Kata Ran mulai tertarik. Biar bagaimanapun, orang tua Shinichi tak pernah pulang dari Amerika sejak tiga tahun lalu.
“Mungkin nanti malam mereka sampai.” Jawab Shinichi santai.
“Apa kedatanganku besok tidak mengganggu mereka? Perjalanan dari Amerika ke Jepang sangat jauh, Shinichi!” Kata Ran ragu.
“Kau pikir aku tak tahu jarak Amerika ke Jepang, huh? Memang jauh, tapi mereka sudah terbiasa perjalanan seperti ini, dan aku yakin kedatanganmu pasti bisa mengurangi rasa lelah mereka.” Jawab Shinichi yakin.
“Baiklah. Besok aku akan kerumahmu. Pastikan kau bisa bangun pagi ya, Shinichi!” Kata Ran sengaja, karena teman masa kecil yang disukainya ini terbilang susah bangun pagi, bahkan terkadang Ran harus membangunkannya walaupun mereka tinggal di rumah yang berbeda.
“Iya iya, aku pasti bisa bangun pagi. Tinggal menyuruh Ibu dan Ayah membangunkanku.” Kata Shinichi ringan.
“Hei Shinichi, itu sama saja!” Kata Ran.
“Rumahku sudah dekat, sampai jumpa besok, Ran!” Kata Shinichi sambil berlari menuju rumahnya.
“Dasar anak malas.” Balas Ran.
Keduanya pun pulang ke rumah masing-masing. Seperti yang dikatakan Shinichi, orang tuanya akan sampai malam ini. Yusaku Kudo dan Yukiko Kudo pulang, tanpa disambut anaknya yang sedang begadang membaca novel Sherlock Holmes kesukaannya di ruang baca. Untung saja mereka punya kunci duplikat rumah mereka, jadi mereka bisa masuk tanpa dibukakan oleh Shinichi.
“Kami pulang!” Kata Yusaku.
“Sepi sekali, dimana Shin kecilku?” Kata Yukiko.
“Mungkin dia sedang tidur, ini sudah malam bukan?” Jawab Yusaku.
“Mungkin saja.” Balas Yukiko.
Mereka langsung meluncur ke kamar mereka. Meletakkan sedikit barang-barang yang mereka bawa dari Amerika disana. Entah kenapa Yukiko merasa rindu dengan rumah ini, dan mengajak suaminya untuk berkeliling di rumah tersebut. Sampai di ruang baca, mereka mendapati Shinichi yang sedang asyik membaca novel Sherlock Holmes tanpa memperhatikan apapun, termasuk menyambut kedatangan mereka.
“Shin kecilku belum tidur rupanya.” Kata Yukiko berbisik pada suaminya.
“Hei, Ibu. Jangan memanggilku dengan sebutan ‘Shin kecil’ lagi. Apa kau tidak bisa lihat aku sudah besar sekarang?” Kata Shinichi yang ternyata mendengar bisikan dari Ibunya tersebut. Memang kemampuan mendengarnya sudah diakui, dan tentu saja itu sangat berguna baginya sebagai ‘Detektif SMU’.
“Haha, pendengaran Shinichi bagus juga.” Kata Yusaku, sedikit mengejek.
“Sudahlah, ini sudah malam. Apa kalian tidak tidur?” Kata Shinichi cuek.
“Kami akan tidur, jika Shinichi juga tidur.” Balas Yukiko.
“Baiklah, aku juga akan tidur.” Kata Shinichi malas. “Oh iya satu lagi, besok pagi Ran akan datang kesini.”
“Wah, dengan senang hati.” Kata Yukiko bersemangat. Esoknya…
Tok tok…
Shinichi segera berlari ke pintu. Dengan bersemangat ia membukanya, dan ternyata yang dibalik pintu adalah Profesor Agasa.
“P…, Profesor Agasa?” Kata Shinichi sedikit kecewa.
“Hoo, Shinichi, kau bersemangat sekali membukakan pintu untukku. Ada apa denganku?” Tanya Profesor Agasa sedikit tersipu.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Silahkan masuk kalau ingin bertemu orang tuaku.” Jawab Shinichi cuek.
“Baiklah…” Kata Profesor Agasa sedikit heran. Ia pun masuk, dan langsung berbincang-bincang dengan sahabatnya, orang tua Shinichi, yang sudah lama tak terlihat disini. Tak lama, terdengar bunyi pintu diketuk lagi. Shinichi membukanya lagi dengan bersemangat. Terlihat Ran yang terlihat sangat cantik hari ini.
“R…, Ran? Eng…, kau cantik sekali hari ini.” Kata Shinichi malu-malu.
“Terima kasih, Shinichi.” Balas Ran malu-malu juga.
“Wow, ada Ran rupanya! Sini masuk dan mari bicara bersama.” Kata Yukiko dari dalam.
“Terima kasih, Bibi Yukiko.”
Dan mulailah perbincangan kelima orang itu…
“Selamat datang, Bibi Yukiko dan Paman Yusaku!” Kata Ran mengawali pembicaraan.
“Terima kasih, Ran. Oh iya, apa Shinichi merepotkanmu sewaktu kami tinggal di Amerika?” Tanya Yukiko.
“Ibu!” Kata Shinichi menyela, pipinya memerah. Ia merasa tubuhnya mengecil sekarang.
“Tidak merepotkan Bibi, hanya saja dia agak membuatku kesal dengan kebiasaan begadang dan bangun kesiangan-nya itu. Jadi terkadang aku harus masuk dan membangunkannya sebelum terlambat sekolah.” Kata Ran melirik Shinichi. Pipi Shinichi semakin memerah, dan ia merasa benar-benar kecil sekarang. Tidak sungguhan, hanya bayangannya saja.
“Ah, maafkan dia ya Ran, Shin kecil memang suka begitu.” Balas Yukiko malu-malu, yang dibicarakan malah diam saja dipojok sofa.
“Kalau begitu, Ran mau kami ajak berkeliling Jepang?” Tawar Yusaku.
“Tentu mau.” Jawab Ran bersemangat.
Esoknya, Yusaku, Yukiko, Ran, dan Shinichi berkeliling di sedikit tempat di Jepang. Yusaku yang mengemudi, Yukiko duduk disampingnya, sedangkan Shinichi dan Ran duduk dibelakang, berdampingan. Orang tua Shinichi memang sudah sejak lama merencanakan bahwa anak mereka akan dijodohkan dengan Ran. Sore hari mereka kembali…
“Shinichi, musim semi akan segera berakhir, dan itu berarti kejuaraan karate semakin dekat. Maukah kau datang kesana?” Tanya Ran.
“Tentu. Aku janji, jika kau menang akan kuajak ke Tropical Land.” Jawab Shinichi sambil menunjukkan telunjuknya, dan pertemuan mereka berakhir dengan telunjuk mereka yang terkait, mengikrarkan janji… Tak satupun dari mereka yang tahu, bahwa liburan ini merupakan saat-saat terakhir Ran melihat Shinichi dengan tubuhnya yang sekarang...
Akhirnya bisa buat fanfict -_-
Makasih banyak buat CFC atas tantangan 6000 karakter-nya xD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar