Total Tayangan Halaman

Kamis, 15 Mei 2014

Sang Pencari Bab 5

Masih dalam perjalanan, keanehan menghampiri mereka lagi. Kali ini yang merasakannya hanya Arina, sedangkan yang lain tidak. Namun Arina lebih memilih diam daripada mengatakan pada teman-temannya.
“Eng…, ada apa, Arina?” Kata Fais yang melihat Arina berekspresi aneh dari tadi.
          “Hei, kau yang dibelakang!! Keluarlah!! Kenapa dari tadi kau mengawasi kami?? Keluarlah!!” Kata Arina yang tiba-tiba berhenti berjalan dan marah. Ia merasa sudah waktunya mengatakan ini pada teman-temannya karena keanehan itu sudah dekat.
          “A…, Arina!! Apa maksudmu?! Kenapa kamu marah begitu?!” Kata Lia yang hampir tak pernah marah atau membentak. Kali ini ia membentak Arina untuk pertama kalinya.
          “Lihat saja nanti!! Coba kalian lihat ke belakang.” Kata Arina berekspresi serius kepada semuanya.
          “Eng?” Kata Lia. Mereka berenam langsung melihat ke belakang. Menunggu sesuatu yang dimaksud Arina keluar dari persembunyiannya. Dengan ekspresi serius dan penasaran, mereka terus memandangi sekitar mereka, tapi tak ada apapun.
          “Ayolah, tak usah malu. Keluarlah! Kami bukan orang jahat!” Kata Arina. Kelima temannya memandanginya dengan bingung. Padahal mereka tak melihat apapun disitu, tapi Arina terus bersikeras bahwa disana ada orang. Kali ini ia mengurangi volume suaranya. Perlahan-lahan, keluarlah seorang perempuan yang sebaya dengan mereka, berambut sebahu, berkulit putih, senyumnya manis, dan mirip seperti orang Jepang. Tapi dia terlihat janggal…
          “Ha…, hantu?! AAAA!!!!” Kata Fais berlari ke belakang Fahri, Akina, Arina dan Lia. Tak disangka Ai yang jago karate dan terkenal agak sewot itu ternyata penakut juga. Ia mengikuti Fais bersembunyi. Sedangkan Fahri dan Lia memasang kuda-kuda, bersiap-siap atas segala kemungkinan, terutama jika mereka benar-benar diserang. Sebenarnya Lia menyembunyikan kenyataan bahwa dia bisa bela diri, tapi sepertinya kali ini dia kelepasan. Sementara Arina dan Akina hanya berdiri santai sambil kebingungan melihat tingkah teman-temannya itu.
          “Kalian ini apaan sih? Kenapa harus takut? Siapa tau dia baik kan?” Kata Arina.
          “Iya tuh.” Balas Akina menjulurkan lidahnya. Lalu mereka berdua berjalan pelan menuju anak itu, dengan ekspresi santai. Sedangkan yang lain masih tetap pada posisinya.
          “Go…, gomennasai (maaf).” Kata anak itu, yang kelihatan cantik tapi terlihat agak tembus pandang itu, makanya mereka mengira anak itu hantu.
          “Douitashimashite (sama-sama) J. Aku juga sudah salah membentakmu. Oh iya, kamu siapa? Kenapa mengikuti kami dari tadi?” Balas Arina. Lia, Ai, Fahri, dan Fais hanya bisa terpana melihat pemandangan yang pertama kali mereka lihat itu. Arina dan Akina begitu berani menghadapi makhluk asing seperti anak itu. Mereka yang baru pertama kali melihatnya begitu kagum dengan Arina dan Akina. Tentu saja sekarang mereka bisa mengerti, bahwa makhluk seperti itu tak semuanya jahat dan menakutkan seperti yang orang-orang bilang. Bahkan yang satu ini kelihatan bersahabat sekali. Meskipun begitu, entah kenapa mereka tak mau mengubah posisinya. Perkataan orang-orang bahwa makhluk seperti itu jahat, menakutkan, dan licik masih terngiang ngiang di telinga mereka. Mereka ragu bahwa anak itu baik, mereka masih tak percaya padanya. Sementara itu Arina dan Akina masih mencoba untuk bercakap-cakap dengan anak itu, siapa tahu mereka mendapatkan informasi penting tentang kejadian aneh yang baru saja mereka alami tadi.
          “Aku Haruka, dan aku bukanlah hantu, aku manusia biasa!! Sama seperti kalian. Aku hanya…, hanya…, hanya mengambil bentuk lain, yaitu bentuk roh, itu saja!! Ini…, ini merupakan suatu kemampuan turun menurun dari nenek moyangku!! Kalian jangan takut, kumohon. Aku tak jahat, aku hanya…” Kata anak aneh yang ternyata bernama Haruka itu dengan menunduk, dan sepertinya ia masih nervous.
          “Hanya, apa? Plis deh, jangan nervous gitu dong. Kami bukan siapa-siapa, kenapa harus takut? Ayolah, ceritakan semuanya pada kami.” Balas Akina.
          “Gomennasai, sepertinya aku harus segera pergi. Ini waktunya aku kembali ke wujud asliku. Tapi, aku janji besok kalian akan aku beritahu semuanya. Besok sore temui aku di rumahku, di Jalan Ushio nomor 8J, di perumahan ini. Arigatou, karena kalian tidak kabur melihatku. Sampai jumpa besok ^_^” Kata Haruka sambil membungkukkan badan, lalu menghilang dari pandangan, bagaikan asap yang ditiup angin sore.
          “Ah, tunggu!! Kita belum selesai!!” Kata Akina, tapi Haruka sudah terlanjur menghilang dari pandangan. Lia, Fahri, Ai, dan Fais tidak lagi memasang posisi tadi. Perlahan mereka mendekati Arina dan Akina yang masih kebingungan dengan tingkah Haruka tadi.
          “Anak itu, aneh ya? Masa dia manusia, penampilan manusia, tapi wujudnya mirip hantu gitu? Seumur-umur, baru kali ini aku lihat fenomena seperti ini. Sugoi!! (keren, menakjubkan, luar biasa, dan sejenisnya. Pokoknya yang artinya mirip lah, tergantung kalimatnya XD). Ngomong-ngomong, kenapa kalian berdua nggak takut?” Kata Fahri.
          “Sst…, Akina. Sejak kapan kamu bisa lihat hal seperti ini? Kenapa kamu tadi juga sama tenangnya denganku?” Kata Arina berbisik pada Akina.
          “Oh…, itu. Aku sejak kecil sudah dianugrahi kemampuan aneh ini, yaitu bisa melihat hal seperti itu, jadi sudah terbiasa. Aku juga punya teman seperti itu kok dikamar, mereka baik-baik. Hanya saja, mereka itu jenis roh orang yang sudah meninggal, bukan hantu yang jahat, dan bukan manusia hidup seperti Haruka. Dia memang unik ._.” Balas Akina, berbisik juga.
          “Wuih, sama dong ^.^  Tapi itu berarti kamu nggak pernah melakukan hal yang dilakukan Haruka tadi? Kalo aku sih, lumayan sering. Tergantung faktor-faktor tertentu.” Kata Arina.
          “Oh…, souka (jadi begitu, aku mengerti, dan sejenisnya). Aku memang nggak pernah melakukan itu ._. Baru kali ini aku tahu ada kejadian seperti itu, jadi terima kasih atas infonya, Arina ^.^” Kata Akina.
          “Hei hei, kalian bisik-bisik apaan sih? Pertanyaanku dijawab dulu dong (-_-)” Kata Fahri menyela.
          “Eh? Gomennasai. Haruka itu menurutku nggak aneh kok, akupun sebenarnya sering melakukan hal itu, tergantung faktor tertentu. Aku yakin, dia punya banyak kesamaan denganku. Oh iya, aku dan Akina sama sekali nggak takut karena kami sudah bisa melihat hal seperti itu sejak kecil, jadi kami sudah terbiasa. Kalian sendiri, beneran baru pertama kali melihat ini?” Kata Arina.
          “Iya, kami baru pertama kali melihat hal seperti ini ._.” Jawab Fahri, Lia, Ai, dan Lia bersamaan.
          “Hah? Kalian baru pertama kalinya melihat hal seperti ini? Ini aneh! Umur kalian sekitar 14 sampai 15 kan? Seharusnya jika kalian melihat ini, itu berarti  kalian pernah melihat sebelumnya, walaupun hanya sekali. Dengan umur kalian yang seharusnya sudah beranjak dewasa ini, kalian sudah tak memungkinkan untuk melihat peristiwa seperti ini untuk pertama kalinya!! Ingat-ingatlah, pasti ada sesuatu yang terlupakan!!” Kata Akina merasa aneh dengan teman-temannya itu.
          “Sepertinya memang tidak ada yang terlupakan.” Kata Fais.
          “Iya, kami juga.” Balas Fahri, Lia, dan Ai bersamaan.
          “Hmph, sepertinya ini memang berhubungan dengan kejadian munculnya orang berjubah hitam tadi. Oh iya, besok kan kita akan ke rumah Haruka. Bagaimana kalau kita tanya ke dia? Mungkin saja ia tahu penjelasan tentang hal ini. Setuju?” Kata Fahri memberi solusi seperti biasanya.
          “Setuju!!” Jawab yang lain, serempak.
          “Oh iya, Arina juga bisa melakukannya apa yang dilakukan Haruka, kan? Sugoii!! ^o^ Oh iya, bagaimana bisa kamu tahu bahwa Haruka punya banyak kesamaan denganmu?” Kata Lia.
          “Sebenarnya cuma menebak aja sih, tapi biasanya tebakanku itu benar, dan karena itu di sekolah lamaku aku selain disebut anak aneh juga disebut peramal ulung. Haruka bisa melakukan itu, yang berarti dia juga bisa melihat hal yang tak terlihat itu. Lagipula, aku merasa auranya hampir sama denganku.” Jawab Arina sambil menggaruk-garuk pipinya dengan jari terlunjuknya.
          “Ngomong-ngomong, ini semua seperti berhubungan ya?” Tanya Fahri.
          “Maksudmu apa?” Balas Fais yang balik menanyakan pertanyaan kepada Fahri.
          “Yah…, mulai dari kutukan ‘murid baru’ di sekolah, lalu mimpi kita tentang orang keenam yang kemungkinan besar adalah Arina, terus penglihatan kita yang tadi kompak mengulang-ulang masa lalu, dilanjutkan dengan datangnya orang berjubah hitam dan kedatangan Hana-niisan dkk tadi, mimpi Arina yang telah menggambarkan tentang ini semua, setelah itu kita bisa melihat apa yang tidak pernah kita lihat yaitu Haruka, pengecualian untuk Akina dan Arina. Nah, tidakkah kalian merasa aneh dengan itu?” Kata Fahri. Kata-katanya selalu panjang, tapi gampang dimengerti, tepat, dan to the point. Bisa dibilang, sifatnya paling dewasa diantara kelima temannya itu.
          “Ya, aku juga merasa begitu. Tapi, jangan mendahului aku dong!!” Kata Ai berapi-api. Sepertinya ia memang ingin mengatakan itu semua, hanya saja Fahri yang mengucapkannya lebih dulu.
          “Besok sepulang sekolah, kita ke rumah Hana-niisan sebentar, setelah itu kita ke rumah Haruka. Bagaimana?” Kata Fahri.
          “Oke!” Jawab yang lain bersamaan. Setelah itu mereka berpisah. Hawa aneh dan menegangkan yang sempat menyelimuti mereka, kini sudah menghilang seiring waktu. Namun, bukan berarti ini semua akan berakhir. Semua ini masih panjang, sangat panjang, dan sangat melelahkan. Persis seperti mimpi Arina di masa lalu. Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka?? Nantikan bab/chapter selanjutnya dari saya ^_^

*Nah, bab/chapter kali ini saya akui aneh banget, banget, banget *plak. Tapi saya harap ini bisa mengurangi rasa galau para pembaca *eh? Pesan saya, jangan takut sama adegan diatas, just for fun doang kok XD. Ada yang mau question lagi? *plak. Nggak usah lah ya? Saya lagi nggak punya ide buat question nih :3. Banyak tugas, jadi rasanya otak udah mau meledak aja ._. Untung membuat cerita ini bisa dijadiin acara refreshing XD *sedikit curhat :3. Oh iya, para reader semua, jangan lupa tinggalkan comment untuk review ya? Aku tunggu reviewnya ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar