Esoknya adalah hari Minggu. Seperti yang dijanjikan,
kelima teman Arina akan kerumahnya hari ini, sekalian untuk mengerjakan tugas kelompok yang
harus segera diselesaikan besok. Pertama-tama, Arina menelepon sahabat-sahabatnya
itu untuk memberitahu alamat rumahnya. Mereka sepakat menggunakan sepeda untuk
ke rumah Arina, lumayan untuk mengurangi pencemaran udara yang menyebabkan
“Global Warming”. Lagipula, mereka masih dibawah umur untuk mengendarai
kendaraan bermotor. Sambil menunggu sahabatnya sampai, Arina berencana
menyiapkan jajanan agar nanti saat kerja kelompok tidak membosankan.
“Bibi, jajanannya masih ada?” Kata
Arina bertanya pada pembantunya.
“Ada di belakang Non. Mau saya
ambilkan?” Jawab pembantu Arina.
“Nggak usah Bi, makasih ^_^” Kata
Arina.
“Kalau begitu, saya nyuci dulu ya
Non?” Kata pembantu Arina.
“Oke Bi, silahkan ^_^” Balas Arina.
Setelah itu Arina berlari ke
belakang rumah. Ia menggeledah tempat penyimpanan jajanan. Ada berbagai jenis
jajanan disitu. Tapi ia hanya mengambil beberapa saja, tak perlu banyak-banyak.
Lagipula, tangannya kan cuma dua.
Tak lama kemudian, kelima sahabat Arina
datang. Arina mempersilahkan mereka masuk dan mempersilahkan mereka
melihat-lihat rumahnya dulu. Semuanya langung terpana melihat keindahan rumah
Arina. Rumah yang besar, mewah. Ruang tamunya dihiasi lampu gantung kristal
yang menawan, diiringi dengan keramik yang berkilauan, juga sofa yang biasa
digunakan orang elit. Ditambah lagi dengan dinding bercat putih dan hijau yang serasi,
sungguh menawan. Benar-benar selera orang elit.
“Wow, Arina…, rumahmu bagus banget
‘o’ Aku nggak bisa berhenti memandanginya ^o^” Kata Ai.
“Ah…, nggak juga. Kalian tak pantas
memujiku begitu.” Jawab Arina merendah.
“Ini benar-benar luar biasa! ^o^ Kau
tak perlu merendah begitu Arina. Kau
memang pantas dipuji.” Kata Lia.
“Seharusnya kata itu pantas diterima
orang tuaku, bukan aku. Ah…, daripada kita diam disini, gimana kalau kita ke
halaman belakang? Sekalian liat tempat yang akan kita gunakan untuk kerja
kelompok, bagaimana?” Kata Arina memberi tawaran.
“Oke deeehhh….” Jawab yang lain
menyetujui. Mereka berjalan ke halaman belakang rumah Arina sambil terus
memandangi rumah yang menakjubkan tersebut. Beberapa saat kemudian, mereka
sampai di halaman belakang. Mereka kembali takjub. Halaman itu lebih pantas
disebut taman kota. Taman yang luas, dihiasi dengan beberapa tanaman bunga
berwarna-warni di beberapa titik. Ditambah lagi banyaknya kupu-kupu yang
berdatangan, air mancur tengah kolam
yang sengaja dibentuk seperti sungai, juga jembatan diatasnya. Di ujung
jembatan itu ada gerbang yang dibentuk seperti susunan kayu. Dibalik gerbang
itu masih ada taman lagi, dengan beberapa kursi untuk sekedar minum teh atau
sekedar bersantai menikmati suasana, ditambah dengan sebuah rumah pohon yang
besar. Rumah pohon itulah tempaat yang akan dijadikan sebagai tempat kerja
kelompok mereka. Mereka secara bergantian menaiki tangga kayu untuk menuju ke
rumah pohon tersebut. Setelah mereka masuk ke dalam rumah pohon…
“Wah…, ada banyak camilan. Ada
permen kesukaanku juga ‘o’ “ Kata Akina bersemangat, setelah melihat
camilan-camilan yang telah disiapkan Arina di dalam rumah pohon tersebut. Ia
langsung “mencomot” toples berisi permen dan memakan isinya.
“Aduh aduh…, Akina!! Baru masuk
langsung mencomot permen. Kebiasaan nih! (-_-)” Kata Ai yang geleng-geleng
melihat tingkah Akina.
“Ah…, nggak papa kok ^_^ Makanlah
camilan-camilan itu sepuas kalian, masih banyak kok di penyimpanan ^_^” Kata Arina.
“Domo Arigatou (terima kasih banyak),
Arina ^o^” Kata Akina bersemangat.
“Douitashimashite (sama-sama), Akina
^_^” Kata Arina yang hanya bisa tersenyum melihat kelakuan temannya yang
berubah 1800 itu. Dari yang awalnya pendiam jadi sangat bersemangat
dan banyak bicara hanya karena permen.
“Daripada kita ngobrol terus,
mendingan kita langsung aja ngerjakan tugas kelompok. Bukannya tugas itu harus
selesai secepatnya?” Kata Fais.
“Eh? Nggak salah lihat nih? Bukannya
kamu diam terus sejak Arina masuk ke sekolah kita? Tumben kamu ngomong?” Kata
Fahri terheran-heran, sambil memasang muka agak menggoda ke Fais.
“Masalah buat lo? (-_-)” Balas Fais
dengan muka cuek ke Fahri.
“Peace…Peace…. Just kidding (-_-)
Tumben kamu pasang muka seperti itu? Mencurigakan... Apa jangan-jangan….
Ah…,lupakan, nanti kamu marah lagi (-_-)” Balas Fahri.
“Kau ini!! Ya sudahlah…, nggak usah
diteruskan. Nanti bisa panjang (-_-)” Kata Fais, sementara Akina, Lia, dan Ai
hanya bisa menahan tawa melihat ulah mereka.
“Loh? Emangnya Fais diam terus sejak
aku masuk yah?” Tanya Arina menghadap ke atas dan menempelkan ujung jari
telunjuknya ke dagu dengan ekspresi seperti anak polos, mencoba mengingat-ingat
hal itu. Tapi sebetulnya Arina itu benar-benar anak yang polos, jadi ekspresi
itu sudah biasa ia lakukan.
“Ah, kau ini, masa nggak ingat?
Kecil-kecil sudah pikun (-_-) Jangan pasang muka polos gitu lah, aku nggak tahan
liatnya (>_<)” Kata Ai.
“Oh iya, aku ingat. Maaf, aku
terbiasa pake ekspresi ini ._. dan aku memang pelupa, jadi maaf sekali lagi
._.” Kata Arina.
“Ah…, jangan pasang muka kayak gitu
juga, sama aja (>_<) Daripada kita ngobrol nggak jelas gini, ayo kita
kerjakan tugas kita.” Kata Ai.
“Iya juga, mari kita mulai.” Kata
Lia. Setelah itu mereka mulai mengerjakan tugas kelompok di pagi yang cerah
itu, sambil memakan jajanan yang telah tersedia. Beberapa jam kemudian, mereka
menyelesaikan tugas itu, juga menghabiskan jajanannya :v #plak. Tapi Fahri,
Fais, Akina, Ai, Lia masih ingin melihat-lihat rumah Arina. Jadi mereka
berkeliling sekali lagi, sekalian berlama-lama melihat rumah termewah yang
pernah mereka lihat. Selesai melihat-lihat, mereka dikejutkan dengan kedatangan
pembantu Arina yang datang membawa undangan.
“Non, ada undangan untuk Non nih!
Sekalian untuk teman-teman Non juga!” Kata pembantu Arina.
“Eh? Sama kalian juga? Bukannya
tempat tinggal kita lumayan jauh? Kenapa bisa dapat undangan yang sama? Dan
kenapa semua undangan itu harus diantar ke rumahku?” Kata Arina kebingungan.
“Aduh…, nanyanya jangan
banyak-banyak dong. Aku bingung (>_<)” Balas Akina.
“Ya…, meneketehe (-_-)” Kata Ai
menjawab pertanyaan Arina tadi sambil mengangkat bahunya.
“Daripada bingung, mending kita
lihat isi undangan itu. Setuju?” Kata Fahri. Ia memang mudah sekali mencari
jalan keluar dari suatu masalah, tak pernah tergesa-gesa, juga tak gegabah
dalam mengambil keputusan. Karakternya seperti seorang pemimpin sejati.
“Ayo, dengan senang hati ^o^” Kata
Lia mewakili semuanya. Mereka pun membuka undangan-undangan itu dengan
hati-hati. Rasa penasaran menguasai mereka.
“Pesta Perayaan Ulang Tahun di Kompleks
Perumahan Sakura, Jalan Midoridai, nomor 30A. Wah…, Perumahan elite ini
berada tidak jauh dari sini, dan Perumahan itu khusus untuk orang-orang Jepang
saja! Woah, pasti asyik nih! ^o^” Kata Akina bersemangat setelah membaca isi
undangan tersebut.
“Tapi, apa ada diantara kalian yang
mengenal orang yang mengundang kita ini? Soalnya aku nggak kenal XD” Kata
Arina.
“Eh, iya juga yah? ._. Aku sama
sekali nggak kenal orang ini. Lagipula, aku maupun orang tuaku juga nggak punya
kenalan di perumahan elit itu ._.” Kata Akina.
“A…, Aku…, aku juga nggak kenal ._.”
Kata Fais.
“Aku juga.” Kata Lia.
“Apalagi aku ._. Aku pun tak tau
._.” Kata Ai.
“Sayangnya aku juga nggak tau ._.
Ah, gimana kalau kita menghadiri acara itu aja? Siapa tau kita bisa tau apa
tujuan dia mengundang kita, gimana?” Kata Fahri menawarkan jalan keluar.
“Setuju! ^o^” Jawab yang lain
serempak. Mereka pun sepakat untuk menghadiri acara aneh yang diselenggarakan
besok itu. Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing dan menyiapkan
keperluan untuk sekolah besok. Mereka tak pernah tahu apa yang akan terjadi
pada mereka selanjutnya, kecuali… Arina!!
*lihat kembali Bab 1, jika kalian pintar pasti tau apa yang saya maksud :v
Jawaban tersedia di Bab 4, kalian tak boleh curang dengan melihat Bab 4 ya?
#dihajar. Kutunggu jawabanmu! >_0 ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar