Total Tayangan Halaman

Minggu, 23 Maret 2014

Sang Pencari Bab 3

            Esoknya adalah hari Minggu. Seperti yang dijanjikan, kelima teman Arina akan kerumahnya hari ini, sekalian untuk mengerjakan tugas kelompok yang harus segera diselesaikan besok. Pertama-tama, Arina menelepon sahabat-sahabatnya itu untuk memberitahu alamat rumahnya. Mereka sepakat menggunakan sepeda untuk ke rumah Arina, lumayan untuk mengurangi pencemaran udara yang menyebabkan “Global Warming”. Lagipula, mereka masih dibawah umur untuk mengendarai kendaraan bermotor. Sambil menunggu sahabatnya sampai, Arina berencana menyiapkan jajanan agar nanti saat kerja kelompok tidak membosankan.
            “Bibi, jajanannya masih ada?” Kata Arina bertanya pada pembantunya.
            “Ada di belakang Non. Mau saya ambilkan?” Jawab pembantu Arina.
            “Nggak usah Bi, makasih ^_^” Kata Arina.
            “Kalau begitu, saya nyuci dulu ya Non?” Kata pembantu Arina.
            “Oke Bi, silahkan ^_^” Balas Arina.
            Setelah itu Arina berlari ke belakang rumah. Ia menggeledah tempat penyimpanan jajanan. Ada berbagai jenis jajanan disitu. Tapi ia hanya mengambil beberapa saja, tak perlu banyak-banyak. Lagipula, tangannya kan cuma dua.
            Tak lama kemudian, kelima sahabat Arina datang. Arina mempersilahkan mereka masuk dan mempersilahkan mereka melihat-lihat rumahnya dulu. Semuanya langung terpana melihat keindahan rumah Arina. Rumah yang besar, mewah. Ruang tamunya dihiasi lampu gantung kristal yang menawan, diiringi dengan keramik yang berkilauan, juga sofa yang biasa digunakan orang elit. Ditambah lagi dengan dinding bercat putih dan hijau yang serasi, sungguh menawan. Benar-benar selera orang elit.
            “Wow, Arina…, rumahmu bagus banget ‘o’ Aku nggak bisa berhenti memandanginya ^o^” Kata Ai.
            “Ah…, nggak juga. Kalian tak pantas memujiku begitu.” Jawab Arina merendah.
            “Ini benar-benar luar biasa! ^o^ Kau tak perlu merendah begitu Arina.  Kau memang pantas dipuji.” Kata Lia.
            “Seharusnya kata itu pantas diterima orang tuaku, bukan aku. Ah…, daripada kita diam disini, gimana kalau kita ke halaman belakang? Sekalian liat tempat yang akan kita gunakan untuk kerja kelompok, bagaimana?” Kata Arina memberi tawaran.
            “Oke deeehhh….” Jawab yang lain menyetujui. Mereka berjalan ke halaman belakang rumah Arina sambil terus memandangi rumah yang menakjubkan tersebut. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di halaman belakang. Mereka kembali takjub. Halaman itu lebih pantas disebut taman kota. Taman yang luas, dihiasi dengan beberapa tanaman bunga berwarna-warni di beberapa titik. Ditambah lagi banyaknya kupu-kupu yang berdatangan, air mancur  tengah kolam yang sengaja dibentuk seperti sungai, juga jembatan diatasnya. Di ujung jembatan itu ada gerbang yang dibentuk seperti susunan kayu. Dibalik gerbang itu masih ada taman lagi, dengan beberapa kursi untuk sekedar minum teh atau sekedar bersantai menikmati suasana, ditambah dengan sebuah rumah pohon yang besar. Rumah pohon itulah tempaat yang akan dijadikan sebagai tempat kerja kelompok mereka. Mereka secara bergantian menaiki tangga kayu untuk menuju ke rumah pohon tersebut. Setelah mereka masuk ke dalam rumah pohon…
            “Wah…, ada banyak camilan. Ada permen kesukaanku juga ‘o’ “ Kata Akina bersemangat, setelah melihat camilan-camilan yang telah disiapkan Arina di dalam rumah pohon tersebut. Ia langsung “mencomot” toples berisi permen dan memakan isinya.
            “Aduh aduh…, Akina!! Baru masuk langsung mencomot permen. Kebiasaan nih! (-_-)” Kata Ai yang geleng-geleng melihat tingkah Akina.
            “Ah…, nggak papa kok ^_^ Makanlah camilan-camilan itu sepuas kalian, masih banyak kok di penyimpanan ^_^”  Kata Arina.
            “Domo Arigatou (terima kasih banyak), Arina ^o^” Kata Akina bersemangat.
            “Douitashimashite (sama-sama), Akina ^_^” Kata Arina yang hanya bisa tersenyum melihat kelakuan temannya yang berubah 1800 itu. Dari yang awalnya pendiam jadi sangat bersemangat dan banyak bicara hanya karena permen.
            “Daripada kita ngobrol terus, mendingan kita langsung aja ngerjakan tugas kelompok. Bukannya tugas itu harus selesai secepatnya?” Kata Fais.
            “Eh? Nggak salah lihat nih? Bukannya kamu diam terus sejak Arina masuk ke sekolah kita? Tumben kamu ngomong?” Kata Fahri terheran-heran, sambil memasang muka agak menggoda ke Fais.
            “Masalah buat lo? (-_-)” Balas Fais dengan muka cuek ke Fahri.
            “Peace…Peace…. Just kidding (-_-) Tumben kamu pasang muka seperti itu? Mencurigakan... Apa jangan-jangan…. Ah…,lupakan, nanti kamu marah lagi (-_-)” Balas Fahri.
            “Kau ini!! Ya sudahlah…, nggak usah diteruskan. Nanti bisa panjang (-_-)” Kata Fais, sementara Akina, Lia, dan Ai hanya bisa menahan tawa melihat ulah mereka.
            “Loh? Emangnya Fais diam terus sejak aku masuk yah?” Tanya Arina menghadap ke atas dan menempelkan ujung jari telunjuknya ke dagu dengan ekspresi seperti anak polos, mencoba mengingat-ingat hal itu. Tapi sebetulnya Arina itu benar-benar anak yang polos, jadi ekspresi itu sudah biasa ia lakukan.
            “Ah, kau ini, masa nggak ingat? Kecil-kecil sudah pikun (-_-) Jangan pasang muka polos gitu lah, aku nggak tahan liatnya (>_<)” Kata Ai.
            “Oh iya, aku ingat. Maaf, aku terbiasa pake ekspresi ini ._. dan aku memang pelupa, jadi maaf sekali lagi ._.” Kata Arina.
            “Ah…, jangan pasang muka kayak gitu juga, sama aja (>_<) Daripada kita ngobrol nggak jelas gini, ayo kita kerjakan tugas kita.” Kata Ai.
            “Iya juga, mari kita mulai.” Kata Lia. Setelah itu mereka mulai mengerjakan tugas kelompok di pagi yang cerah itu, sambil memakan jajanan yang telah tersedia. Beberapa jam kemudian, mereka menyelesaikan tugas itu, juga menghabiskan jajanannya :v #plak. Tapi Fahri, Fais, Akina, Ai, Lia masih ingin melihat-lihat rumah Arina. Jadi mereka berkeliling sekali lagi, sekalian berlama-lama melihat rumah termewah yang pernah mereka lihat. Selesai melihat-lihat, mereka dikejutkan dengan kedatangan pembantu Arina yang datang membawa undangan.
            “Non, ada undangan untuk Non nih! Sekalian untuk teman-teman Non juga!” Kata pembantu Arina.
            “Eh? Sama kalian juga? Bukannya tempat tinggal kita lumayan jauh? Kenapa bisa dapat undangan yang sama? Dan kenapa semua undangan itu harus diantar ke rumahku?” Kata Arina kebingungan.
            “Aduh…, nanyanya jangan banyak-banyak dong. Aku bingung (>_<)” Balas Akina.
            “Ya…, meneketehe (-_-)” Kata Ai menjawab pertanyaan Arina tadi sambil mengangkat bahunya.
            “Daripada bingung, mending kita lihat isi undangan itu. Setuju?” Kata Fahri. Ia memang mudah sekali mencari jalan keluar dari suatu masalah, tak pernah tergesa-gesa, juga tak gegabah dalam mengambil keputusan. Karakternya seperti seorang pemimpin sejati.
            “Ayo, dengan senang hati ^o^” Kata Lia mewakili semuanya. Mereka pun membuka undangan-undangan itu dengan hati-hati. Rasa penasaran menguasai mereka.
            “Pesta Perayaan Ulang Tahun di Kompleks Perumahan Sakura, Jalan Midoridai, nomor 30A. Wah…, Perumahan elite ini berada tidak jauh dari sini, dan Perumahan itu khusus untuk orang-orang Jepang saja! Woah, pasti asyik nih! ^o^” Kata Akina bersemangat setelah membaca isi undangan tersebut.
            “Tapi, apa ada diantara kalian yang mengenal orang yang mengundang kita ini? Soalnya aku nggak kenal XD” Kata Arina.
            “Eh, iya juga yah? ._. Aku sama sekali nggak kenal orang ini. Lagipula, aku maupun orang tuaku juga nggak punya kenalan di perumahan elit itu ._.” Kata Akina.
            “A…, Aku…, aku juga nggak kenal ._.” Kata Fais.
            “Aku juga.” Kata Lia.
            “Apalagi aku ._. Aku pun tak tau ._.” Kata Ai.
            “Sayangnya aku juga nggak tau ._. Ah, gimana kalau kita menghadiri acara itu aja? Siapa tau kita bisa tau apa tujuan dia mengundang kita, gimana?” Kata Fahri menawarkan jalan keluar.
            “Setuju! ^o^” Jawab yang lain serempak. Mereka pun sepakat untuk menghadiri acara aneh yang diselenggarakan besok itu. Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing dan menyiapkan keperluan untuk sekolah besok. Mereka tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya, kecuali… Arina!! 

*lihat kembali Bab 1, jika kalian pintar pasti tau apa yang saya maksud :v Jawaban tersedia di Bab 4, kalian tak boleh curang dengan melihat Bab 4 ya? #dihajar. Kutunggu jawabanmu! >_0 ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar