Senyum Dibalik Derita
Hujan turun dengan derasnya kala itu. Petir tak
henti-hentinya menyambar menggetarkan seluruh desa. Desa dengan kekayaan alam
yang melimpah, namun penuh dengan keangkuhan, kesombongan, dan ketidak adilan.
Bila meihatnya, orang takkan pernah mengira desa sesubur itu penuh dengan
ketidak adilan, yang salah satunya diterima Nina dan ayahnya. Tetangga mereka
tak pernah menganggap mereka ada di dunia ini, hanya karena mereka miskin.
Sebenarnya ayah Nina sudah mencari kerja ke seluruh desa untuk memperbaiki
keadaan ekonomi keluarganya. Namun tak ada yang mau menerima tenaganya di desa.
Dengan berat hati ia terpaksa mencari kerja di luar desa. Namun orang yang
hanya lulusan SMP sepertinya hanya bisa mendapatkan pekerjaan kasar yang harus
pulang malam. Sedangkan Nina hanyalah anak berusia 6 tahun yang tak bersekolah.
Ibunya meninggal saat melahirkannya.
Cuaca yang menakutkan itu tentu terlalu menakutkan untuk
anak seumuran Nina yang sendirian di gubuk itu. Apalagi ia punya penyakit asma
yang akan kambuh si cuaca seperti ini. Karena keterbatasan biaya, Nina tak
pernah mendapatkan perawatan untuk penyakitnya ini. Namun dibalik
penderitaannya itu, Nina adalah anak yang periang dan selalu tersenyum.
Malam itu, penyakit asma Nina kambuh. Ia mencoba tidur untuk
mengurangi rasa sakitnya. Namun tak berhasil, ia tak bisa tidur. Beberapa saat
kemudian, ia melihat seberkas cahaya masuk melalui celah di atap rumahnya. Lalu
cahaya itu berubah menjadi seorang wanita cantik, berbusana serba putih
bercahaya, dan berkerudung.
“Mari kita
ke tempat yang indah, dimana kau takkan mengalami penderitaan lagi.”
“Tapi
bagaimana dengan ayah? Apa ayah tak boleh ikut?”
“Nanti pada
saatnya, ayahmu akan menyusul.”
“Baiklah, aku ikut.”
Nina dan wanita itu terbang ke angkasa secepat kilat. Nina
merasa tubuhnya seringan kapas. Tak lama kemudian, sampailah mereka ke tempat
tujuan. Tempat yang indah, wajah penduduknya berseru-seri, dan masih banyak hal
menakjubkan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Disana banyak anak-anak
seusia Nina . mereka adalah korban kesombongan dan kekejaman orang lain, sama
seperti Nina.
Beberapa
saat kemudian, ayah Nina sampai ke rumahnya. Ia membawakan makanan kesukaan
Nina. Dengan wajah berseri-seri ia mengetuk pintu. Ayah Nina tak tahu apa yang
telah terjadi pada Nina.
“Nina… Nina!
Ayah pulang nak! Ayah membawakan makanan kesukaanmu nih! Buka pintunya nak!”
Kata ayah Nina sambil mengetuk pintu. Karena pintu lama tak dibuka, ia
mendobrak pintu. Lalu ia mencari Nina dengan wajah khawatir. Ia menemukan Nina
di kamarnya, sedang tertidur.
“Nak, bangun nak…, ayah membawakan makanan kesukaanmu.” Kata
ayah Nina sambil menggoncang-goncangkan tubuh anaknya itu. Tapi Nina tak
kunjung bangun. Dengan tangan gemetar, ayah Nina menyentuh leher Nina. Ia
langsung terduduk, dengan pandangan tak percaya, lalu menangis, tak percaya
dengan apa yang telah terjadi pada anaknya itu. Beberapa saat kemudian, ia
berlari ke seluruh desa, meminta tolong kepada warga untuk menguburkan anaknya.
Namun tak ada yang mau. Dengan gontai ia kembali ke rumahnya. Lalu ia mengubur
anaknya sendirian, disamping makam ibu Nina.
“Semoga kamu
tenang disana, nak…” Kata ayah Nina sambil menangis.
“Tenang saja suamiku, kelak kau juga akan menyusul kami
disini.” Kata wanita yang menjemput Nina dari kejauhan. Ternyata dia adalah ibu
Nina.
WOW :o
BalasHapuskenapa? 'o'
Hapus