"Sebentar ya, aku mau bicara sama anak itu." Katanya.
"Jangan, dia kan pendek, hitam, cupu, sok pinter lagi." Balas salah satu teman barunya yang bernama Fitri.
"Bagiku perbedaan bukanlah masalah." Jawabnya. Lalu ia meninggalkan kerumunan itu, menuju anak aneh di pinggir kelas itu. Tak peduli berapa mata yang menatapnya dengan pandangan aneh.
"Kenapa kamu nggak gabung sama yang lain?" Tanyanya kepada anak itu. Anak itu hanya menunduk, diam seribu bahasa, dengan wajah menampakkan ketakutan.
"Oh iya, kita belum kenalan kan? Kenalin, namaku Suci Mulyani, bisa dipanggil Suci. Kalau namamu siapa?" Tanyanya. Ia hanya ingin anak aneh itu mau bicara dengannya.
"Emm..., namaku... Karina Luna. Mau dipanggil apa saja terserah, yang penting bagus." Jawab anak itu dengan menunduk, masih dengan wajah ketakutan.
"Kalau begitu aku panggil kamu Karin aja yah? Kamu dijauhi sama teman-teman kelasmu ini yah? Kenapa kamu dijauhi?" Tanya Suci.
"Aku nggak tau, tapi yang pasti, mereka mulai menjauhi aku sejak rankingku naik. Tolong jangan bilang ke mereka yah?" Kata anak aneh itu, sudah tidak menunduk lagi.
"Owh, pantas tadi Fitri ngomong kalo kamu sok pinter. Tapi menurutku nggak kok. Kalo begitu, aku mau kok jadi sahabat kamu :D" Kata Suci tersenyum.
"Benarkah? " Kata anak aneh itu tak percaya. Lalu ia memeluk Suci, tak peduli dengan wajah Suci yang menampakkan kebingungan.
Pasti kalian bingung kan siapa Karina Luna itu? Karina Luna itu aku. Dari sinilah kisahku berawal. Dari seorang yang cupu, pendiam, kudet, dan gaptek, sekarang aku berubah 180 derajat menjadi seperti sekarang ini (walaupun sifat pendiam masih agak melekat dalam diriku). Setelah aku bersahabat dengan Suci, teman-teman di kelas makin giat mengganggu kehidupanku. Mulai dari mengolok-olokku sampai membujuk Suci untuk memusuhiku dengan berbagai cara. Bagiku, ini sangat berat. Beberapa kali aku merelakan Suci bersama anak-anak kejam itu. Namun yang terjadi, Suci tak terpengaruh sama sekali dan akhirnya selalu kembali padaku. Tapi yang jadi masalah adalah olok-olokan anak-anak kejam itu padaku, sangat menyakitkan. Untungnya aku lari ke kegiatan positif, yaitu menulis. Hal itulah yang kusyukuri selama ini.
Oh iya, aku adalah seorang murid MI yang lumayan terkenal didesa yang dekat dengan makam Gus Dur. Pasti tahu dong, siapa Gus Dur itu? Ya, beliau adalah presiden keempat RI yang dimakamkan di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Kembali ke kisahku, berikut ini adalah satu contoh kekejaman anak-anak itu:
Saat itu ada
kegiatan les untuk persiapan UN. Aku baru saja masuk ke ruang les, kata-kata
mereka yang pedas itu langsung menyerangku. Mereka memuji-muji Suci tapi
menatap licik kepadaku. Karena aku pintar membaca suasana, aku langsung tahu
apa maksud mereka. Mereka ingin membandingkan aku dengan Suci. Membuktikan
bahwa aku tak pantas bersahabat dengan Suci karena fisik kami sungguh berbeda.
Ya, aku punya banyak kekurangan dalam fisik bila dibandingkan dengan Suci.
Tampak wajah Suci yang merasa bersalah di tengah-tengah kerumunan itu. Aku
memutuskan untuk keluar untuk menghindari anak-anak kejam itu berbuat dosa
lebih banyak lagi. Saat aku beranjak keluar ruangan, tampak wajah mereka yang
puas melihatku. Aku hanya bisa menarik nafas panjang, aku masih yakin semua ini
akan berakhir pada waktunya. Ini masih contoh yang ringan, masih banyak yang
lebih berat. Bahkan aku yang terkenal susah menangis ini akhirnya takluk pada
kesedihan yang mendalam. Air mataku pernah tumpah saat mereka menggangguku.
Saat itu aku sudah tak kuat, selain masalah keluarga, juga masalah di sekolah.
Suci hanya bisa menenangkanku saat itu.
Selain itu, orang
tua mereka juga ikut membenciku, padahal aku tak pernah sekalipun bicara dengan
mereka. Salah satu contohnya, saat itu aku ikut suatu lomba. Tapi anak paling
pintar se-kelas 6 tidak ikut karena takut kalah. Namanya Ica. Para ortu itu
menjelek-jelekkan aku. Bahkan saat ada ibuku, mereka tak peduli. Kejam!
“Kok si Karin diikutkan lomba tapi si Ica nggak di ikutkan lomba yah? Ini mencurigakan!”
“Iya, masak anak terpintar se-kelas 6 nggak diikutkan? Malah anak kayak gitu yang diikutkan. Jangan-jangan ada praktek kecurangan nih!”
“Kok si Karin diikutkan lomba tapi si Ica nggak di ikutkan lomba yah? Ini mencurigakan!”
“Iya, masak anak terpintar se-kelas 6 nggak diikutkan? Malah anak kayak gitu yang diikutkan. Jangan-jangan ada praktek kecurangan nih!”
Aku heran, kenapa
orang dewasa seperti mereka bisa berpikiran seperti itu. Harusnya mereka bisa positive thinking dong! Masak nggak malu
sama anak-anak kecil yang sudah bisa positive
thinking?
Akhirnya tibalah
waktunya liburan semester 2. Saat itu aku baru lulus kelas 6, jadi ini saatnya
rekreasi. Sekolah memutuskan untuk rekreasi ke Jatim Park 2 dan Wisata Religi
ke Troloyo. Baru saja aku masuk bus, Fitri sudah mulai memancing emosiku. Saat
itu Fitri duduk di sebelah Suci. Lalu Suci pindah ke sebelahku karena ingin
duduk denganku. Fitri marah besar padaku, seakan-akan aku memisahkannya dengan
Suci.
“Rin! Biarkan Suci
milih tempat duduknya dong! Jangan maksa-maksa dia, dia kan awalnya duduk sama
aku!” Kata Fitri dengan membentak. Aku sebenarnya ingin menjawab kalau
anggapannya itu salah. Tapi biasanya jika aku menjawab, dia akan semakin
mengelak. Maka aku memilih diam dan hanya menjawab perkataan Fitri dalam hati,
berharap Fitri dapat mendengarnya dan mengerti.
“Suci itu pingin duduk sama aku Fit! Aku nggak maksa dia! Tadi dia terpaksa duduk sama kamu kan karena kamu tiba-tiba duduk di sampingnya!” Jawabku dalam hati. Aku hanya bias mengalihkan pandangan ke jendela bus karena aku tak tahan jika Fitri marah-marah terus menerus. Sementara Suci hanya menatap bingung kepada aku dan Fitri.
“Suci itu pingin duduk sama aku Fit! Aku nggak maksa dia! Tadi dia terpaksa duduk sama kamu kan karena kamu tiba-tiba duduk di sampingnya!” Jawabku dalam hati. Aku hanya bias mengalihkan pandangan ke jendela bus karena aku tak tahan jika Fitri marah-marah terus menerus. Sementara Suci hanya menatap bingung kepada aku dan Fitri.
Sesampainya di
tempat tujuan, guruku menyuruh kami untuk membagi kelompok agar tidak terpisah.
Setiap kelompok 3 orang dan setiap orang dalam kelompok tidak boleh terpisah.
Suci langsung mengajakku dalam kelompoknya. Tapi Fitri memaksa Suci masuk
kelompoknya Akhirnya supaya tak terjadi pertengkaran, aku memutuskan untuk
sekelompok dengan Suci dan Fitri walaupun sebenarnya aku tak mau. Sepanjang
perjalanan, Fitri mengomel terus. Sebenarnya aku muak mendengarkan omelannya.
Tapi karena aku sudah terbiasa, jadi tak terlalu jadi masalah. Aku menganggap
omelan Fitri seperti kicau burung yang enak dinikmati, tidak dipikirkan.
Beberapa hari
kemudian, sekolah mengadakan acara Akhir
Sanah atau biasa disebut perpisahan. Acara berlangsung lancar, tapi
sayangnya rankingku turun dari 1 ke 3. Bagiku tak masalah, tapi bagi mereka
yang membenciku, itu merupakan kabar yang sangat membahagiakan. Tak apalah,
yang penting adalah anak yang menduduki ranking 1 bukan salah satu anak yang
membenciku, malah dia agak dekat denganku, walaupun dia laki-laki. Sebenarnya
aku sangat ingin memeluk Suci yang mungkin untuk terakhir kalinya, tapi
mata-mata licik terus mengawasi gerak-gerikku, apalagi aku ini pemalu. Aku
terpaksa membatalkan rencana itu dan aku sangat menyesal perpisahan kami
sungguh meninggalkan kesan tak mengenakkan dimataku.
Tiba saatnya masuk SMP. Aku diterima di sebuah SMP RSBI di
Jombang, Jawa Timur dan masuk jalur khusus. Maka sekolah memasukkanku ke gugus
I bersama anak lain yang ikut jalur khusus juga. Di gugus I, aku mendapatkan
teman sebangku bernama Laila. Laila punya sifat pendiam, tapi dia masih bisa
berinteraksi dengan yang lain. Sedangkan aku tak punya nyali untuk berinteraksi
karena kenangan menyakitkan masa MI masih meninggalkan luka yang dalam. Hampir
seharian mulutku tertutup tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tentu Laila
kesepian jika aku tak bicara sama sekali. Maka sedikit-sedikit tapi pasti,
Laila mulai mengajakku berbicara. Dia asyik diajak bicara juga ternyata.
---TAMAT---
Hari terakhir di
gugus I tiba. Kulihat kaca ruangan, ada kertas pengumuman. Sudah saatnya
penghuni gugus ini berpisah. Aku ditempatkan di kelas 7C bersama seorang anak
bernama Dinda Ayu Pusparini. Tanda Tanya besar masih meyelimuti hatiku, Apakah
kali ini kesialan masa MI itu akan hilang dari kehidupanku?
“Eh, namamu
siapa?”.
“Aku Karina Luna.
Mau dipanggil apa aja terserah, yang penting bagus. Kamu Dinda kan?” Kataku,
mencoba memberanikan diri.
“Iya, aku Dinda.
Kalau gitu, aku panggil kamu Luna aja yah? Eh, nanti kita sekelas kan? Nanti
disana duduk sama aku yah? Oke?”
“Oke deh.”
“Oke deh.”
Esoknya, aku datang
pagi-pagi. Kupikir Dinda akan datang pagi juga. Ternyata tidak. Karena aku
sudah berjanji akan duduk sebangku dengannya, maka aku memutuskan untuk tidak
mencari tempat duduk dulu. Tak lama kemudian, Dinda datang. Lalu ia menyarankan
untuk duduk di bangku deret tengah nomor 2 dari depan. Aku setuju, menurutku
tempat itu memang strategis.
Pelajaran pertama
dimulai, aku lupa saat itu pelajaran apa >_< . Setelah materi selesai,
guru pelajaran itu menyarankan kami untuk berkenalan, mumpung jam pelajaran
belum habis. Dimulai dari anak paling pojok sampai anak paling belakang. Lalu
semua anak disuruh menghafalkan nama teman-temannya. Hanya beberapa menit
berselang, Dinda sudah hafal semua teman-teman disini. Hebat…, tak seperti aku
yang susah menghafal ini :3 . Perlahan namun pasti, kami semua sudah bisa
menghafalkan semuanya.
Hari demi hari
berlalu. Aku mencoba menghilangkan rasa trauma yang menghantui. Dimulai dari
bercakap-cakap dengan Dinda, lalu berkenalan dengan teman-teman yang duduk di
depan dan belakangku. Anak yang duduk di bangku depanku bernama Zana dan Sarah
sedangkan yang dibelakangku bernama Adhi. Zana dan Sarah enak diajak ngobrol,
sedangkan Adhi…, sangat menjengkelkan. Dia terkenal dengan kata-katanya yang
muter-muter dan menantang kesabaran. Tapi aku tahu sebenarnya dia nggak jahat
kok, hanya saja dia orang yang suka cari perhatian. Maklum, dia tidak punya
teman laki-laki di kelas 7C ini. Setelah beberapa bulan, aku sudah punya banyak
teman seperti Didi, Kiki, Vania, dan masih banyak lagi walaupun mungkin mereka
belum menganggapku sebagai seorang sahabat.
Hari itu tak pernah
kuduga-duga. Aku dapat kabar dari teman MI-ku kalau akan ada reuni untuk
anak-anak yang seangkatan denganku baik yang sekelas maupun yang tidak sekelas.
Deg! Itu berarti aku akan bertemu anak-anak kejam itu lagi. Akankah mereka
tetap seperti dulu? Tapi aku positive thinking
aja. Aku masih berharap mereka akan berubah sampai saat ini walaupun mereka
sudah mengalami perpisahan denganku.
Hari yang
ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Baru saja datang, teman-teman MI banyak yang
menyapaku dan membuat aku salah tingkah. Maklum, hal seperti ini jarang terjadi
waktu MI dulu. Jadi aku hanya membalas mereka dengan senyuman, seolah-olah tak
pernah terjadi apapun antara aku dan mereka. Syukurlah, sepertinya mereka sudah
berubah. Tapi kalau aku tak salah, Fitri tak datang dalam acara itu (aku lupa
>_< ). Daripada terus menerus mencari orang yang nggak penting, lebih
baik aku mencari sahabatku, Suci. Tapi belum sempat kakiku melangkah, Suci
sudah menampakkan diri sambil senyum-senyum padaku. Eh? Kenapa dia
senyum-senyum terus? Sepertinya Suci masih deg-degan bertemu denganku, terlihat
dari air mukanya. Ini kesempatan, pikirku.
“Eh, Suci…, gimana
kabarnya?” Tanyaku berbasa-basi.
“Baik.” Jawab Suci. Sepertinya dia sudah nggak deg-degan lagi.
“Gimana sekolahmu?”
“Nggak enak banget, anak-anaknya nggak asyik.”
“Loh? Nggak asyik gimana?”
“Ya…, gitu deh. Kalo sekolahmu gimana?”
“Baik.” Jawab Suci. Sepertinya dia sudah nggak deg-degan lagi.
“Gimana sekolahmu?”
“Nggak enak banget, anak-anaknya nggak asyik.”
“Loh? Nggak asyik gimana?”
“Ya…, gitu deh. Kalo sekolahmu gimana?”
“Lumayan lah…., aku
udah dapet banyak temen.”
“Syukurlah kalo
gitu.”
Kami terus
bercakap-cakap sampai akhirnya koordinator reuni memberi aba-aba untuk masuk ke
MI. Lalu kami bersilaturahmi dengan guru-guru, terutama kepala sekolah. Setelah
itu, mereka keluar dan membeli beberapa jajanan diluar MI. Sedangkan aku tidak
ikut karena uang yang kubawa terbatas. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas
(kalau tidak salah >_< ). Saatnya kami pulang ke rumah masing-masing.
Tapi Suci seperti tidak mau pisah denganku.
“Tenanglah Ci,
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan kan? Suatu saat mungkin kita akan ketemu
lagi.”
“Semoga saja kita
benar-benar bisa bertemu lagi.”
“Yah, semoga saja.”
Setelah itu kami
pulang ke rumah masing-masing. Begitulah akhir dari pertemuanku dengan Suci
yang mungkin akan jadi pertemuan kami yang terakhir kali karena rumah Suci yang
sebenarnya sangat jauh, yaitu di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Sedangkan dia
bisa disini karena dia tinggal sementara di pondok pesantren dekat MI.
Desember 2012,
sekolah mengadakan English Camp di Songgoriti, Malang, Jawa Timur selama 5 hari
di Wisma Bima Sakti untuk semua anak kelas 7, tanpa kehadiran orang tua. Kami
berangkat hari Rabu dengan menaiki 4 Bus Pariwisata untuk murid dan 1 Minibus
untuk guru. Sekitar pukul 7, kami berangkat dari sekolah dengan memakai jaket
kelas masing-masing. Tiga setengah jam kemudian, kami sampai di Wisma Bima
Sakti. Lalu kami disuruh memasuki ruang pertemuan disana untuk mendengarkan
pembagian kamar. Aku dapat kamar yang bernama “Wisma Flamboyan” bersama kurang
lebih 50 anak lainnya. Hmm…, Flamboyan…., aku suka namanya. Bunga ini biasa
dijuluki bunga terompet yang banyak terdapat di wilayah ini.
Setelah
mendengarkan pembagian kamar, kami langsung menuju kamar masing-masing.
Kamar-kamar itu memang terlihat kecil dari luar, tapi saat memasukinya, kamar
itu benar-benar luas. Aku benar-benar kaget karena kamar itu dari luar hanya
terlihat sebagai kamar yang hanya cukup untuk maksimal 3 orang saja. Tapi saat
masuk, kamar itu cukup untuk kurang lebih 50 orang. Anak-anak lain langsung
menyerbu tempat tidur yang mereka suka. Seperti biasa, aku santai menunggu
mereka memilih lalu aku tinggal menempati tempat tidur yang kosong, mudah kan?
Dinda juga melakukan hal demikian dan ternyata ini merupakan kebiasaannya juga.
Akhirnya setelah semuanya memilih, aku dan Dinda mendapatkan tempat tidur yang
berada disamping jendela dan berada di blok tempat tidur anak-anak kelas 7D.
Tak apa, toh ini juga tidak mengganggu kami, malah akan membuat kami dekat
dengan mereka.
Setelah itu kami
semua menata pakaian di lemari yang sudah disiapkan. Aku tidak mendapatkan
lemari, jadi terpaksa aku membiarkan pakaianku tetap berada di koper. Lalu kami
semua disuruh cepat-cepat berganti baju seragam yang biasa dipakai hari Senin
(padahal hari itu adalah hari Rabu, hehe). Selanjutnya, kami berkumpul di ruang
pertemuan lagi untuk diberi pengarahan tentang susunan acara, peraturan, dan
tata tertib English Camp kali ini. Disini kami harus berbicara bahasa Inggris
kepada siapa saja, tapi dicampur dengan bahasa lain diperbolehkan seperti
“Little little sih I can (sedikit-sedikit sih aku bisa, bahasa yang biasa
dipakai oleh kami jika bercanda)”. Kami juga harus mematuhi jam malam yang
ditentukan oleh Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan saat itu, Pak Winoto.
Saat jam malam dimulai, semuanya harus tidur kecuali para guru dan para tutor
dari Pare, Kediri, Jawa Timur boleh tidak tidur.
Acaranya asyik
sekali, mulai dari nonton film, berpetualang, belajar bahasa Inggris, hingga
yang paling mengesankan adalah pertunjukan yang dilakukan semua murid dan semua
tutor. Para murid menampilkan tarian modern, menyanyi, pantomim, shalawat, dan
masih banyak lagi. Sedangkan para tutor berkolaborasi menyanyikan sebuah lagu
berbahasa Inggris yang digunakan untuk perpisahan karena besok siang kami akan
berpisah. Hampir semua murid terharu mendengarkan lagu itu, termasuk aku.
Esoknya, kami jalan-jalan mengelilingi Songgoriti lalu pulang. Acara ini
membuatku jadi lebih percaya diri. Inilah yang akhirnya membuat teman-teman
mengetahui kalau aku seorang penggemar Detective Conan karena aku sudah berani
menunjukkan kepada teman-teman apa yang sebenarnya kusukai.
Suatu hari, aku dan
Kiki (teman sekelas aku yang juga suka Detective Conan) ngobrol sambil
mengelilingi sekolah. Tapi sepertinya ada yang aneh dengannya. Mau tahu? Simak
percakapan kami berikut ini :
Kiki : “Rin, menurut kamu siapa teman kamu yang paling baik?”
Kiki : “Rin, menurut kamu siapa teman kamu yang paling baik?”
Aku : “Semuanya
baik kok. Ngapain membeda-bedakan teman? Nanti yang lain malah iri kan?”
Kiki : “Tapi pasti ada tingkatannya kan?”
Kiki : “Tapi pasti ada tingkatannya kan?”
Aku : “Aku nggak
memberi tingkatan kok. Bagiku, perbedaan bukanlah masalah. Aku hanya ingin
berteman sama siapa aja.”
Kiki : “Kalo gitu,
menurut kamu aku ini kayak gimana?”
Aku : “Pokoknya kamu baik. Aku nggak tahu cara menjelaskannya.”
Kiki : “Kamu tahu kenapa dari tadi aku ngajak kamu muter-muter sekolah tanpa lewat depannya kelas kita?”
Aku : “Pokoknya kamu baik. Aku nggak tahu cara menjelaskannya.”
Kiki : “Kamu tahu kenapa dari tadi aku ngajak kamu muter-muter sekolah tanpa lewat depannya kelas kita?”
Aku : “Kenapa?”
Kiki : “Aku merasa teman-teman sekelas kita menjauhi aku. Aku nggak sanggup liat mereka.”
Kiki : “Aku merasa teman-teman sekelas kita menjauhi aku. Aku nggak sanggup liat mereka.”
Aku : “Kamu coba positive thinking aja. Siapa tahu
sebenarnya mereka nggak gitu ke kamu. Coba jalin pertemanan lagi sama mereka,
mungkin kamu nggak akan dijauhi lagi.”
Kiki : “Kamu benar, mungkin aku hanya merasa mereka menjauhi aku. Makasih atas sarannya ya Rin.”
Kiki : “Kamu benar, mungkin aku hanya merasa mereka menjauhi aku. Makasih atas sarannya ya Rin.”
Aku : “Iya, sama-sama.”
Sebenarnya aku
sudah tahu dari awal kalau Kiki merasa kesepian. Perasaanku mengatakan
demikian. Maka dari itu, dia terus kutemani belakangan ini. Tak tahu kenapa,
tapi belakangan ini aku bisa jauh lebih peka dari sebelumnya dan lama-lama bisa
melihat sesuatu yang tidak wajar. Dulu aku memang tidak percaya hal seperti itu.
Orang tua mendidikku bahwa hal seperti itu tidak ada. Tapi sejak aku diberi
anime yang bercerita tentang hal seperti itu oleh teman, aku jadi percaya hal
demikian. Tiba-tiba ingatanku mundur ke masa kecilku, dimana aku tersesat.
Selama ini yang kuingat hanyalah aku main kejar-kejaran dengan sepupu, lalu
tertinggal dan tersesat. Ternyata selama ini pikiranku telah dimanipulasi dan
ingatan yang sebenarnya telah kembali. Sebenarnya penyebab aku tersesat adalah
sesuatu yang tak terlihat manusia biasa yang muncul saat aku main
kejar-kejaran. Dia sempat terlihat tersenyum licik saat aku menangis karena tak
tahu jalan pulang. Setelah itu ingatanku berubah, seakan-akan dia tak pernah
muncul dalam hidupku.
Karena aku belum
terbiasa melihat hal-hal aneh seperti itu, perasaanku agak tertekan sampai naik
ke kelas 8. Masalah itu belum selesai, sudah ada kabar kalau semua anak kelas 8
dan 9 yang ranking atas saat kenaikan kelas akan dipindahkan ke kelas unggulan,
kelas J. Ternyata berita itu memang benar. Aku dipindah ke kelas 8J bersama
Lisa dan Aris. Saat aku pindah, Dinda, Kiki, Sarah, dan Vania yang paling heboh
mengatakan “loohh…, kenapa Karin harus pindah?”. Sedangkan saat Lisa dan Aris
pindah, lebih banyak lagi yang heboh. Maklum lah, mereka jauh lebih populer
daripada aku. Apalagi mereka berasal dari SD mayoritas disini.
Sebenarnya aku
sangat sedih, tapi aku sulit menangis. Disaat aku sudah mendapatkan banyak
teman, haruskah aku pindah? Lagipula belum tentu anak-anak kelas 8J nanti
adalah anak-anak baik dan mau berteman denganku. Oh iya, aku punya seorang
teman imajinasi yang belum belum kuberi nama. Dia muncul waktu aku masih MI,
tapi kapan waktunya dia keluar tidak pernah bisa aku kendalikan. Saat aku kelas
7, dia hampir tidak pernah muncul, dan kali ini dia muncul lagi untuk
menyemangati aku.
“Lo tenang aja Rin.
Lo kan udah punya firasat kalo lo pergi dari kelas 8C, anak-anak 8C akan dapet
banyak perubahan positif? Lo yakinin diri lo aja kalo firasat itu emang bener. Bukannya
lo punya anggapan kalo lebih baik tersakiti tapi orang lain bahagia daripada
orang lain tersakiti tapi lo bahagia, ya kan? Lagipula lo kan tahu, cari teman
disini kan jauh lebih mudah dibandingkan waktu lo MI dulu, ya kan?”
“Iya sih. Eh, tumben kamu nggak kasar kayak biasanya?”
“Iya sih. Eh, tumben kamu nggak kasar kayak biasanya?”
“Lo sirik aja sih?
Gue cuma pingin yang terbaik buat lo. Nggak boleh, hah!!”
“Iya iya, maaf.
Makasih yah.”
“Sama-sama, huh!!”
Beberapa saat
kemudian, aku sampai di kelas 8J. Kelasnya sejuk, tapi sayang, kelas itu gelap
karena sumber cahaya tertutupi oleh atap ruang BK. Aku memutuskan untuk duduk
di samping Risa, teman gugusku dulu. Dia juga pendiam. Entah dia masih
mengenalku atau tidak, tapi saat dia melihatku, dia tersenyum. Saat aku
menanyai dia, ternyata dia benar-benar masih mengingatku. Syukurlah kalau begitu.
Setelah duduk, aku melayangkan pandangan ke semua anak-anak 8J. Semuanya tampak
bersedih, mungkin karena mereka berpisah dengan teman-teman yang mereka cintai.
Ada satu anak yang mencuri perhatianku. Dia adalah Aliya, mantan teman
sekelasku saat kelas 1 sampai 4 MI, tapi dia pindah saat naik kelas 5.
Ternyata susah juga
cari teman di 8J. Mereka ternyata sudah saling kenal dan selalu berkumpul
bersama. Sedangkan aku belum kenal mereka sehingga tidak boleh ikut nimbrung,
sama seperti Risa. Tapi aku tetap mencoba untuk percaya diri dan akhirnya
mereka bisa jadi temanku, walaupun aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan 3
orang saja, termasuk Risa. Tak apa, yang penting 3 orang itu sangat
menyenangkan dan selalu mensupportku.
Aliya? Dia tidak berubah. Sayang sekali. Oh iya, hampir setiap waktu istirahat
aku mengunjungi kelas 8C untuk bertukar video Conan dan tentu saja memantau
perkembangan anak-anak kelas ini. Aku senang, ternyata firasatku ternyata benar.
Banyak perubahan yang dialami kelas ini, terlalu panjang untuk dijelaskan.
Kali ini temanku
sudah banyak karena aku memutuskan untuk percaya diri seperti di facebook, dan
hasilnya memang berhasil. Bahkan temanku ada yang diluar 8C dan 8J. Hanya saja
jumlahnya masih kurang dari jumlah anak kelas 8J, yaitu 26. Temanku hanya
berjumlah sekitar 15 orang. Tapi entah kenapa, rasanya masih sepi. Sahabatku
hanya sekitar 3. Aku tak habis pikir, kenapa aku merasa kesepian? Bukankah
temanku sudah sangat banyak? Tapi memang sih, aku sering diabaikan dari yang
lainnya. Mungkin itu yang menggangguku. Perasaanku masih menolak kalau aku
diabaikan. Oh iya, waktu itu adalah waktunya UTS. Hampir semuanya mencontek
satu sama lain. Hanya sedikit yang tidak curang. Karena aku dididik untuk
jujur, aku tidak mencontek. Sebenarnya aku ingin melapor ke guru BK, tapi apa
daya, nyaliku terlalu kecil. Lagipula jika aku melapor, citra kelas 8J juga
akan menurun. Otomatis aku sebagai siswi kelas 8J juga akan kena. Jadi rencana
itu aku batalkan.
Sesampainya di
rumah, aku bertengkar hebat dengan teman imajinasiku. Tapi tentu saja aku
biacara dalam hati, karena kalau tidak ortuku bisa curiga.
“Rin! Kenapa lo
nggak lapor aja ke guru BK soal mereka yang nyontek, hah!! Kalo gini terus nilai
lo bisa kalah jauh Rin!”
“Aku juga pingin
melaporkan mereka. Cuma…, kan kasihan mereka kalo dimarahi guru BK.”
“Lo selalu gini.
Kebenaran harus tetap ditegakkan Rin! Yang namanya nyontek ya nyontek! Itu
curang! Biarin aja mereka dimarahi guru BK! Itu akibat kesalahan mereka juga
kan? Sekali-kali kejam dikit kan nggak papa Rin!”
“Pokoknya aku nggak
mau! Aku kasihan ama mereka. Apalagi kalo sampai ortu mereka marah-marah karena
nilai mereka jelek, kan kasihan.”
“Lo masih aja
ngomong kasihan! Li pikirin diri lo sendiri napa? Dasar!!”
“Kamu sendiri juga nggak bisa melaporkan mereka kan? Jadi jangan ngatur-ngatur aku! Kamu hanya sebebas imajinasiku saja! Ingat itu!”
“Kamu sendiri juga nggak bisa melaporkan mereka kan? Jadi jangan ngatur-ngatur aku! Kamu hanya sebebas imajinasiku saja! Ingat itu!”
“Oh ya? Gue bisa
jauh lebih bebas dari itu, lo tau!! Jadi jangan salahin gue kalo lo tiba-tiba
jadi aneh!! Ingat itu!!”
“Terserah.”
“Terserah.”
Sejak saat itu, dia
tak pernah muncul lagi.
Hari-hari terus
berlalu. Aku sempat bermimpi aku melakukan tindakan kasar kepada orang lain.
Entah itu hanya mimpi buruk atau mungkin sebuah firasat. Tapi aku tak ambil pusing
dengan itu. Beberapa kemudian, UAS datang. Seperti biasa, mereka semua
mencontek. Aku sempat ditanyai tentang jawaban, tapi aku menolak. Aku tahu itu
tak baik. Pulang sekolah saat UAS baru beberapa hari berjalan, aku merasa aneh.
Keluar dari sekolah, aku ngobrol dengan Didi dan Alfa. Tapi tiba-tiba aku
pusing, dan saat aku tidak lagi pusing, aku sudah jalan dengan Alfa didekat
tempat menunggu angkot. Saat itu aku berusaha bersikap senormal mungkin agar
Alfa tidak curiga.
Di rumah aku terus
berfikir tentang kejadian itu. Aku mecoba memanggil teman khayalanku, tapi dia
tidak muncul. Aku langsung terinngat perkataannya : “Oh ya? Gue bisa jauh lebih
bebas dari itu, lo tau!! Jadi jangan salahin gue kalo lo tiba-tiba jadi aneh!!
Ingat itu!!”. Aku langsung tahu apa penyebab kejadian itu. Benarkah aku harus
begitu? Apakah hidupku akan normal?
(bagi yang tahu lanjutannya, jangan cerita ke orang lain :3 )
(bagi yang tahu lanjutannya, jangan cerita ke orang lain :3 )
---SKIP---
Aku akhirnya
menemukan ide untuk menghilangkannya tanpa harus melibatkan ortu. Ide itu
berjalan mulus dan aku optimis ini akan berhasil. Tapi tiba-tiba, muncul satu
lagi yang seperti dia. Untung ada yang menyemangati aku, kalau tidak, mungkin
aku akan drop. (maaf bagi yang merasa :3 )
Dan kisah ini takkan berhenti sampai akhir hayatku…,
Dan kisah ini takkan berhenti sampai akhir hayatku…,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar