Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Januari 2014

Cerpen : Kejadian Kecil Pengubah Segalanya

Hari itu, ada seorang anak di kelas sedang dikerumuni teman-teman barunya. Ya, dia adalah anak baru di kelas itu. Namun ia menyadari di tengah keramaian yang mengelilinginya itu, ada seorang anak paling kecil dan duduk di belakang sendiri sedari tadi memperhatikannya dengan wajah ketakutan.
"Sebentar ya, aku mau bicara sama anak itu." Katanya.
"Jangan, dia kan pendek, hitam, cupu, sok pinter lagi." Balas salah satu teman barunya yang bernama Fitri.
"Bagiku perbedaan bukanlah masalah." Jawabnya. Lalu ia meninggalkan kerumunan itu, menuju anak aneh di pinggir kelas itu. Tak peduli berapa mata yang menatapnya dengan pandangan aneh.
"Kenapa kamu nggak gabung sama yang lain?" Tanyanya kepada anak itu. Anak itu hanya menunduk, diam seribu bahasa, dengan wajah menampakkan ketakutan.
"Oh iya, kita belum kenalan kan? Kenalin, namaku Suci Mulyani, bisa dipanggil Suci. Kalau namamu siapa?" Tanyanya. Ia hanya ingin anak aneh itu mau bicara dengannya.
"Emm..., namaku... Karina Luna. Mau dipanggil apa saja terserah, yang penting bagus." Jawab anak itu dengan menunduk, masih dengan wajah ketakutan.
"Kalau begitu aku panggil kamu Karin aja yah? Kamu dijauhi sama teman-teman kelasmu ini yah? Kenapa kamu dijauhi?" Tanya Suci.
"Aku nggak tau, tapi yang pasti, mereka mulai menjauhi aku sejak rankingku naik. Tolong jangan bilang ke mereka yah?" Kata anak aneh itu, sudah tidak menunduk lagi.
"Owh, pantas tadi Fitri ngomong kalo kamu sok pinter. Tapi menurutku nggak kok. Kalo begitu, aku mau kok jadi sahabat kamu :D" Kata Suci tersenyum.
"Benarkah? " Kata anak aneh itu tak percaya. Lalu ia memeluk Suci, tak peduli dengan wajah Suci yang menampakkan kebingungan.

Pasti kalian bingung kan siapa Karina Luna itu? Karina Luna itu aku. Dari sinilah kisahku berawal. Dari seorang yang cupu, pendiam, kudet, dan gaptek, sekarang aku berubah 180 derajat menjadi seperti sekarang ini (walaupun sifat pendiam masih agak melekat dalam diriku). Setelah aku bersahabat dengan Suci, teman-teman di kelas makin giat mengganggu kehidupanku. Mulai dari mengolok-olokku sampai membujuk Suci untuk memusuhiku dengan berbagai cara. Bagiku, ini sangat berat. Beberapa kali aku merelakan Suci bersama anak-anak kejam itu. Namun yang terjadi, Suci tak terpengaruh sama sekali dan akhirnya selalu kembali padaku. Tapi yang jadi masalah adalah olok-olokan anak-anak kejam itu padaku, sangat menyakitkan. Untungnya aku lari ke kegiatan positif, yaitu menulis. Hal itulah yang kusyukuri selama ini.

Oh iya, aku adalah seorang murid MI yang lumayan terkenal didesa yang dekat dengan makam Gus Dur. Pasti tahu dong, siapa Gus Dur itu? Ya, beliau adalah presiden keempat RI yang dimakamkan di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Kembali ke kisahku, berikut ini adalah satu contoh kekejaman anak-anak itu:
Saat itu ada kegiatan les untuk persiapan UN. Aku baru saja masuk ke ruang les, kata-kata mereka yang pedas itu langsung menyerangku. Mereka memuji-muji Suci tapi menatap licik kepadaku. Karena aku pintar membaca suasana, aku langsung tahu apa maksud mereka. Mereka ingin membandingkan aku dengan Suci. Membuktikan bahwa aku tak pantas bersahabat dengan Suci karena fisik kami sungguh berbeda. Ya, aku punya banyak kekurangan dalam fisik bila dibandingkan dengan Suci. Tampak wajah Suci yang merasa bersalah di tengah-tengah kerumunan itu. Aku memutuskan untuk keluar untuk menghindari anak-anak kejam itu berbuat dosa lebih banyak lagi. Saat aku beranjak keluar ruangan, tampak wajah mereka yang puas melihatku. Aku hanya bisa menarik nafas panjang, aku masih yakin semua ini akan berakhir pada waktunya. Ini masih contoh yang ringan, masih banyak yang lebih berat. Bahkan aku yang terkenal susah menangis ini akhirnya takluk pada kesedihan yang mendalam. Air mataku pernah tumpah saat mereka menggangguku. Saat itu aku sudah tak kuat, selain masalah keluarga, juga masalah di sekolah. Suci hanya bisa menenangkanku saat itu.

Selain itu, orang tua mereka juga ikut membenciku, padahal aku tak pernah sekalipun bicara dengan mereka. Salah satu contohnya, saat itu aku ikut suatu lomba. Tapi anak paling pintar se-kelas 6 tidak ikut karena takut kalah. Namanya Ica. Para ortu itu menjelek-jelekkan aku. Bahkan saat ada ibuku, mereka tak peduli. Kejam!
“Kok si Karin diikutkan lomba tapi si Ica nggak di ikutkan lomba yah? Ini mencurigakan!”
“Iya, masak anak terpintar se-kelas 6 nggak diikutkan?  Malah anak kayak gitu yang diikutkan. Jangan-jangan ada praktek kecurangan nih!”
Aku heran, kenapa orang dewasa seperti mereka bisa berpikiran seperti itu. Harusnya mereka bisa positive thinking dong! Masak nggak malu sama anak-anak kecil yang sudah bisa positive thinking?

Akhirnya tibalah waktunya liburan semester 2. Saat itu aku baru lulus kelas 6, jadi ini saatnya rekreasi. Sekolah memutuskan untuk rekreasi ke Jatim Park 2 dan Wisata Religi ke Troloyo. Baru saja aku masuk bus, Fitri sudah mulai memancing emosiku. Saat itu Fitri duduk di sebelah Suci. Lalu Suci pindah ke sebelahku karena ingin duduk denganku. Fitri marah besar padaku, seakan-akan aku memisahkannya dengan Suci.
“Rin! Biarkan Suci milih tempat duduknya dong! Jangan maksa-maksa dia, dia kan awalnya duduk sama aku!” Kata Fitri dengan membentak. Aku sebenarnya ingin menjawab kalau anggapannya itu salah. Tapi biasanya jika aku menjawab, dia akan semakin mengelak. Maka aku memilih diam dan hanya menjawab perkataan Fitri dalam hati, berharap Fitri dapat mendengarnya dan mengerti.
“Suci itu pingin duduk sama aku Fit! Aku nggak maksa dia! Tadi dia terpaksa duduk sama kamu kan karena kamu tiba-tiba duduk di sampingnya!” Jawabku dalam hati. Aku hanya bias mengalihkan pandangan ke jendela bus karena aku tak tahan jika Fitri marah-marah terus menerus. Sementara Suci hanya menatap bingung kepada aku dan Fitri.

Sesampainya di tempat tujuan, guruku menyuruh kami untuk membagi kelompok agar tidak terpisah. Setiap kelompok 3 orang dan setiap orang dalam kelompok tidak boleh terpisah. Suci langsung mengajakku dalam kelompoknya. Tapi Fitri memaksa Suci masuk kelompoknya Akhirnya supaya tak terjadi pertengkaran, aku memutuskan untuk sekelompok dengan Suci dan Fitri walaupun sebenarnya aku tak mau. Sepanjang perjalanan, Fitri mengomel terus. Sebenarnya aku muak mendengarkan omelannya. Tapi karena aku sudah terbiasa, jadi tak terlalu jadi masalah. Aku menganggap omelan Fitri seperti kicau burung yang enak dinikmati, tidak dipikirkan.

Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan acara Akhir Sanah atau biasa disebut perpisahan. Acara berlangsung lancar, tapi sayangnya rankingku turun dari 1 ke 3. Bagiku tak masalah, tapi bagi mereka yang membenciku, itu merupakan kabar yang sangat membahagiakan. Tak apalah, yang penting adalah anak yang menduduki ranking 1 bukan salah satu anak yang membenciku, malah dia agak dekat denganku, walaupun dia laki-laki. Sebenarnya aku sangat ingin memeluk Suci yang mungkin untuk terakhir kalinya, tapi mata-mata licik terus mengawasi gerak-gerikku, apalagi aku ini pemalu. Aku terpaksa membatalkan rencana itu dan aku sangat menyesal perpisahan kami sungguh meninggalkan kesan tak mengenakkan dimataku.

Tiba saatnya  masuk SMP. Aku diterima di sebuah SMP RSBI di Jombang, Jawa Timur dan masuk jalur khusus. Maka sekolah memasukkanku ke gugus I bersama anak lain yang ikut jalur khusus juga. Di gugus I, aku mendapatkan teman sebangku bernama Laila. Laila punya sifat pendiam, tapi dia masih bisa berinteraksi dengan yang lain. Sedangkan aku tak punya nyali untuk berinteraksi karena kenangan menyakitkan masa MI masih meninggalkan luka yang dalam. Hampir seharian mulutku tertutup tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tentu Laila kesepian jika aku tak bicara sama sekali. Maka sedikit-sedikit tapi pasti, Laila mulai mengajakku berbicara. Dia asyik diajak bicara juga ternyata.

Hari terakhir di gugus I tiba. Kulihat kaca ruangan, ada kertas pengumuman. Sudah saatnya penghuni gugus ini berpisah. Aku ditempatkan di kelas 7C bersama seorang anak bernama Dinda Ayu Pusparini. Tanda Tanya besar masih meyelimuti hatiku, Apakah kali ini kesialan masa MI itu akan hilang dari kehidupanku?
“Eh, namamu siapa?”.
“Aku Karina Luna. Mau dipanggil apa aja terserah, yang penting bagus. Kamu Dinda kan?” Kataku, mencoba memberanikan diri.
“Iya, aku Dinda. Kalau gitu, aku panggil kamu Luna aja yah? Eh, nanti kita sekelas kan? Nanti disana duduk sama aku yah? Oke?”
“Oke deh.”

Esoknya, aku datang pagi-pagi. Kupikir Dinda akan datang pagi juga. Ternyata tidak. Karena aku sudah berjanji akan duduk sebangku dengannya, maka aku memutuskan untuk tidak mencari tempat duduk dulu. Tak lama kemudian, Dinda datang. Lalu ia menyarankan untuk duduk di bangku deret tengah nomor 2 dari depan. Aku setuju, menurutku tempat itu memang strategis.

Pelajaran pertama dimulai, aku lupa saat itu pelajaran apa >_< . Setelah materi selesai, guru pelajaran itu menyarankan kami untuk berkenalan, mumpung jam pelajaran belum habis. Dimulai dari anak paling pojok sampai anak paling belakang. Lalu semua anak disuruh menghafalkan nama teman-temannya. Hanya beberapa menit berselang, Dinda sudah hafal semua teman-teman disini. Hebat…, tak seperti aku yang susah menghafal ini :3 . Perlahan namun pasti, kami semua sudah bisa menghafalkan semuanya.

Hari demi hari berlalu. Aku mencoba menghilangkan rasa trauma yang menghantui. Dimulai dari bercakap-cakap dengan Dinda, lalu berkenalan dengan teman-teman yang duduk di depan dan belakangku. Anak yang duduk di bangku depanku bernama Zana dan Sarah sedangkan yang dibelakangku bernama Adhi. Zana dan Sarah enak diajak ngobrol, sedangkan Adhi…, sangat menjengkelkan. Dia terkenal dengan kata-katanya yang muter-muter dan menantang kesabaran. Tapi aku tahu sebenarnya dia nggak jahat kok, hanya saja dia orang yang suka cari perhatian. Maklum, dia tidak punya teman laki-laki di kelas 7C ini. Setelah beberapa bulan, aku sudah punya banyak teman seperti Didi, Kiki, Vania, dan masih banyak lagi walaupun mungkin mereka belum menganggapku sebagai seorang sahabat.

Hari itu tak pernah kuduga-duga. Aku dapat kabar dari teman MI-ku kalau akan ada reuni untuk anak-anak yang seangkatan denganku baik yang sekelas maupun yang tidak sekelas. Deg! Itu berarti aku akan bertemu anak-anak kejam itu lagi. Akankah mereka tetap seperti dulu? Tapi aku positive thinking aja. Aku masih berharap mereka akan berubah sampai saat ini walaupun mereka sudah mengalami perpisahan denganku.

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Baru saja datang, teman-teman MI banyak yang menyapaku dan membuat aku salah tingkah. Maklum, hal seperti ini jarang terjadi waktu MI dulu. Jadi aku hanya membalas mereka dengan senyuman, seolah-olah tak pernah terjadi apapun antara aku dan mereka. Syukurlah, sepertinya mereka sudah berubah. Tapi kalau aku tak salah, Fitri tak datang dalam acara itu (aku lupa >_< ). Daripada terus menerus mencari orang yang nggak penting, lebih baik aku mencari sahabatku, Suci. Tapi belum sempat kakiku melangkah, Suci sudah menampakkan diri sambil senyum-senyum padaku. Eh? Kenapa dia senyum-senyum terus? Sepertinya Suci masih deg-degan bertemu denganku, terlihat dari air mukanya. Ini kesempatan, pikirku.
“Eh, Suci…, gimana kabarnya?” Tanyaku berbasa-basi.
“Baik.” Jawab Suci. Sepertinya dia sudah nggak deg-degan lagi.
“Gimana sekolahmu?”
“Nggak enak banget, anak-anaknya nggak asyik.”
“Loh? Nggak asyik gimana?”
“Ya…, gitu deh. Kalo sekolahmu gimana?”
“Lumayan lah…., aku udah dapet banyak temen.”
“Syukurlah kalo gitu.”
Kami terus bercakap-cakap sampai akhirnya koordinator reuni memberi aba-aba untuk masuk ke MI. Lalu kami bersilaturahmi dengan guru-guru, terutama kepala sekolah. Setelah itu, mereka keluar dan membeli beberapa jajanan diluar MI. Sedangkan aku tidak ikut karena uang yang kubawa terbatas. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas (kalau tidak salah >_< ). Saatnya kami pulang ke rumah masing-masing. Tapi Suci seperti tidak mau pisah denganku.
“Tenanglah Ci, Setiap pertemuan pasti ada perpisahan kan? Suatu saat mungkin kita akan ketemu lagi.”
“Semoga saja kita benar-benar bisa bertemu lagi.”
“Yah, semoga saja.”
Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing. Begitulah akhir dari pertemuanku dengan Suci yang mungkin akan jadi pertemuan kami yang terakhir kali karena rumah Suci yang sebenarnya sangat jauh, yaitu di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Sedangkan dia bisa disini karena dia tinggal sementara di pondok pesantren dekat MI.

Desember 2012, sekolah mengadakan English Camp di Songgoriti, Malang, Jawa Timur selama 5 hari di Wisma Bima Sakti untuk semua anak kelas 7, tanpa kehadiran orang tua. Kami berangkat hari Rabu dengan menaiki 4 Bus Pariwisata untuk murid dan 1 Minibus untuk guru. Sekitar pukul 7, kami berangkat dari sekolah dengan memakai jaket kelas masing-masing. Tiga setengah jam kemudian, kami sampai di Wisma Bima Sakti. Lalu kami disuruh memasuki ruang pertemuan disana untuk mendengarkan pembagian kamar. Aku dapat kamar yang bernama “Wisma Flamboyan” bersama kurang lebih 50 anak lainnya. Hmm…, Flamboyan…., aku suka namanya. Bunga ini biasa dijuluki bunga terompet yang banyak terdapat di wilayah ini.

Setelah mendengarkan pembagian kamar, kami langsung menuju kamar masing-masing. Kamar-kamar itu memang terlihat kecil dari luar, tapi saat memasukinya, kamar itu benar-benar luas. Aku benar-benar kaget karena kamar itu dari luar hanya terlihat sebagai kamar yang hanya cukup untuk maksimal 3 orang saja. Tapi saat masuk, kamar itu cukup untuk kurang lebih 50 orang. Anak-anak lain langsung menyerbu tempat tidur yang mereka suka. Seperti biasa, aku santai menunggu mereka memilih lalu aku tinggal menempati tempat tidur yang kosong, mudah kan? Dinda juga melakukan hal demikian dan ternyata ini merupakan kebiasaannya juga. Akhirnya setelah semuanya memilih, aku dan Dinda mendapatkan tempat tidur yang berada disamping jendela dan berada di blok tempat tidur anak-anak kelas 7D. Tak apa, toh ini juga tidak mengganggu kami, malah akan membuat kami dekat dengan mereka.

Setelah itu kami semua menata pakaian di lemari yang sudah disiapkan. Aku tidak mendapatkan lemari, jadi terpaksa aku membiarkan pakaianku tetap berada di koper. Lalu kami semua disuruh cepat-cepat berganti baju seragam yang biasa dipakai hari Senin (padahal hari itu adalah hari Rabu, hehe). Selanjutnya, kami berkumpul di ruang pertemuan lagi untuk diberi pengarahan tentang susunan acara, peraturan, dan tata tertib English Camp kali ini. Disini kami harus berbicara bahasa Inggris kepada siapa saja, tapi dicampur dengan bahasa lain diperbolehkan seperti “Little little sih I can (sedikit-sedikit sih aku bisa, bahasa yang biasa dipakai oleh kami jika bercanda)”. Kami juga harus mematuhi jam malam yang ditentukan oleh Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan saat itu, Pak Winoto. Saat jam malam dimulai, semuanya harus tidur kecuali para guru dan para tutor dari Pare, Kediri, Jawa Timur boleh tidak tidur.

Acaranya asyik sekali, mulai dari nonton film, berpetualang, belajar bahasa Inggris, hingga yang paling mengesankan adalah pertunjukan yang dilakukan semua murid dan semua tutor. Para murid menampilkan tarian modern, menyanyi, pantomim, shalawat, dan masih banyak lagi. Sedangkan para tutor berkolaborasi menyanyikan sebuah lagu berbahasa Inggris yang digunakan untuk perpisahan karena besok siang kami akan berpisah. Hampir semua murid terharu mendengarkan lagu itu, termasuk aku. Esoknya, kami jalan-jalan mengelilingi Songgoriti lalu pulang. Acara ini membuatku jadi lebih percaya diri. Inilah yang akhirnya membuat teman-teman mengetahui kalau aku seorang penggemar Detective Conan karena aku sudah berani menunjukkan kepada teman-teman apa yang sebenarnya kusukai.

Suatu hari, aku dan Kiki (teman sekelas aku yang juga suka Detective Conan) ngobrol sambil mengelilingi sekolah. Tapi sepertinya ada yang aneh dengannya. Mau tahu? Simak percakapan kami berikut ini :
Kiki : “Rin, menurut kamu siapa teman kamu yang paling baik?”
Aku : “Semuanya baik kok. Ngapain membeda-bedakan teman? Nanti yang lain malah iri kan?”
Kiki : “Tapi pasti ada tingkatannya kan?”
Aku : “Aku nggak memberi tingkatan kok. Bagiku, perbedaan bukanlah masalah. Aku hanya ingin berteman sama siapa aja.”
Kiki : “Kalo gitu, menurut kamu aku ini kayak gimana?”
Aku : “Pokoknya kamu baik. Aku nggak tahu cara menjelaskannya.”
Kiki : “Kamu tahu kenapa dari tadi aku ngajak kamu muter-muter sekolah tanpa lewat depannya kelas kita?”
Aku : “Kenapa?”
Kiki : “Aku merasa teman-teman sekelas kita menjauhi aku. Aku nggak sanggup liat mereka.”
Aku : “Kamu coba positive thinking aja. Siapa tahu sebenarnya mereka nggak gitu ke kamu. Coba jalin pertemanan lagi sama mereka, mungkin kamu nggak akan dijauhi lagi.”
Kiki : “Kamu benar, mungkin aku hanya merasa mereka menjauhi aku. Makasih atas sarannya ya Rin.”
Aku : “Iya, sama-sama.”
Sebenarnya aku sudah tahu dari awal kalau Kiki merasa kesepian. Perasaanku mengatakan demikian. Maka dari itu, dia terus kutemani belakangan ini. Tak tahu kenapa, tapi belakangan ini aku bisa jauh lebih peka dari sebelumnya dan lama-lama bisa melihat sesuatu yang tidak wajar. Dulu aku memang tidak percaya hal seperti itu. Orang tua mendidikku bahwa hal seperti itu tidak ada. Tapi sejak aku diberi anime yang bercerita tentang hal seperti itu oleh teman, aku jadi percaya hal demikian. Tiba-tiba ingatanku mundur ke masa kecilku, dimana aku tersesat. Selama ini yang kuingat hanyalah aku main kejar-kejaran dengan sepupu, lalu tertinggal dan tersesat. Ternyata selama ini pikiranku telah dimanipulasi dan ingatan yang sebenarnya telah kembali. Sebenarnya penyebab aku tersesat adalah sesuatu yang tak terlihat manusia biasa yang muncul saat aku main kejar-kejaran. Dia sempat terlihat tersenyum licik saat aku menangis karena tak tahu jalan pulang. Setelah itu ingatanku berubah, seakan-akan dia tak pernah muncul dalam hidupku.

Karena aku belum terbiasa melihat hal-hal aneh seperti itu, perasaanku agak tertekan sampai naik ke kelas 8. Masalah itu belum selesai, sudah ada kabar kalau semua anak kelas 8 dan 9 yang ranking atas saat kenaikan kelas akan dipindahkan ke kelas unggulan, kelas J. Ternyata berita itu memang benar. Aku dipindah ke kelas 8J bersama Lisa dan Aris. Saat aku pindah, Dinda, Kiki, Sarah, dan Vania yang paling heboh mengatakan “loohh…, kenapa Karin harus pindah?”. Sedangkan saat Lisa dan Aris pindah, lebih banyak lagi yang heboh. Maklum lah, mereka jauh lebih populer daripada aku. Apalagi mereka berasal dari SD mayoritas disini.

Sebenarnya aku sangat sedih, tapi aku sulit menangis. Disaat aku sudah mendapatkan banyak teman, haruskah aku pindah? Lagipula belum tentu anak-anak kelas 8J nanti adalah anak-anak baik dan mau berteman denganku. Oh iya, aku punya seorang teman imajinasi yang belum belum kuberi nama. Dia muncul waktu aku masih MI, tapi kapan waktunya dia keluar tidak pernah bisa aku kendalikan. Saat aku kelas 7, dia hampir tidak pernah muncul, dan kali ini dia muncul lagi untuk menyemangati aku.
“Lo tenang aja Rin. Lo kan udah punya firasat kalo lo pergi dari kelas 8C, anak-anak 8C akan dapet banyak perubahan positif? Lo yakinin diri lo aja kalo firasat itu emang bener. Bukannya lo punya anggapan kalo lebih baik tersakiti tapi orang lain bahagia daripada orang lain tersakiti tapi lo bahagia, ya kan? Lagipula lo kan tahu, cari teman disini kan jauh lebih mudah dibandingkan waktu lo MI dulu, ya kan?”
“Iya sih. Eh, tumben kamu nggak kasar kayak biasanya?”
“Lo sirik aja sih? Gue cuma pingin yang terbaik buat lo. Nggak boleh, hah!!”
“Iya iya, maaf. Makasih yah.”
“Sama-sama, huh!!”

Beberapa saat kemudian, aku sampai di kelas 8J. Kelasnya sejuk, tapi sayang, kelas itu gelap karena sumber cahaya tertutupi oleh atap ruang BK. Aku memutuskan untuk duduk di samping Risa, teman gugusku dulu. Dia juga pendiam. Entah dia masih mengenalku atau tidak, tapi saat dia melihatku, dia tersenyum. Saat aku menanyai dia, ternyata dia benar-benar masih mengingatku. Syukurlah kalau begitu. Setelah duduk, aku melayangkan pandangan ke semua anak-anak 8J. Semuanya tampak bersedih, mungkin karena mereka berpisah dengan teman-teman yang mereka cintai. Ada satu anak yang mencuri perhatianku. Dia adalah Aliya, mantan teman sekelasku saat kelas 1 sampai 4 MI, tapi dia pindah saat naik kelas 5.

Ternyata susah juga cari teman di 8J. Mereka ternyata sudah saling kenal dan selalu berkumpul bersama. Sedangkan aku belum kenal mereka sehingga tidak boleh ikut nimbrung, sama seperti Risa. Tapi aku tetap mencoba untuk percaya diri dan akhirnya mereka bisa jadi temanku, walaupun aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan 3 orang saja, termasuk Risa. Tak apa, yang penting 3 orang itu sangat menyenangkan dan selalu mensupport­ku. Aliya? Dia tidak berubah. Sayang sekali. Oh iya, hampir setiap waktu istirahat aku mengunjungi kelas 8C untuk bertukar video Conan dan tentu saja memantau perkembangan anak-anak kelas ini. Aku senang, ternyata firasatku ternyata benar. Banyak perubahan yang dialami kelas ini, terlalu panjang untuk dijelaskan.

Kali ini temanku sudah banyak karena aku memutuskan untuk percaya diri seperti di facebook, dan hasilnya memang berhasil. Bahkan temanku ada yang diluar 8C dan 8J. Hanya saja jumlahnya masih kurang dari jumlah anak kelas 8J, yaitu 26. Temanku hanya berjumlah sekitar 15 orang. Tapi entah kenapa, rasanya masih sepi. Sahabatku hanya sekitar 3. Aku tak habis pikir, kenapa aku merasa kesepian? Bukankah temanku sudah sangat banyak? Tapi memang sih, aku sering diabaikan dari yang lainnya. Mungkin itu yang menggangguku. Perasaanku masih menolak kalau aku diabaikan. Oh iya, waktu itu adalah waktunya UTS. Hampir semuanya mencontek satu sama lain. Hanya sedikit yang tidak curang. Karena aku dididik untuk jujur, aku tidak mencontek. Sebenarnya aku ingin melapor ke guru BK, tapi apa daya, nyaliku terlalu kecil. Lagipula jika aku melapor, citra kelas 8J juga akan menurun. Otomatis aku sebagai siswi kelas 8J juga akan kena. Jadi rencana itu aku batalkan.

Sesampainya di rumah, aku bertengkar hebat dengan teman imajinasiku. Tapi tentu saja aku biacara dalam hati, karena kalau tidak ortuku bisa curiga.
“Rin! Kenapa lo nggak lapor aja ke guru BK soal mereka yang nyontek, hah!! Kalo gini terus nilai lo bisa kalah jauh Rin!”
“Aku juga pingin melaporkan mereka. Cuma…, kan kasihan mereka kalo dimarahi guru BK.”
“Lo selalu gini. Kebenaran harus tetap ditegakkan Rin! Yang namanya nyontek ya nyontek! Itu curang! Biarin aja mereka dimarahi guru BK! Itu akibat kesalahan mereka juga kan? Sekali-kali kejam dikit kan nggak papa Rin!”
“Pokoknya aku nggak mau! Aku kasihan ama mereka. Apalagi kalo sampai ortu mereka marah-marah karena nilai mereka jelek, kan kasihan.”
“Lo masih aja ngomong kasihan! Li pikirin diri lo sendiri napa? Dasar!!”
“Kamu sendiri juga nggak bisa melaporkan mereka kan? Jadi jangan ngatur-ngatur aku! Kamu hanya sebebas imajinasiku saja! Ingat itu!”
“Oh ya? Gue bisa jauh lebih bebas dari itu, lo tau!! Jadi jangan salahin gue kalo lo tiba-tiba jadi aneh!! Ingat itu!!”
“Terserah.”
Sejak saat itu, dia tak pernah muncul lagi.

Hari-hari terus berlalu. Aku sempat bermimpi aku melakukan tindakan kasar kepada orang lain. Entah itu hanya mimpi buruk atau mungkin sebuah firasat. Tapi aku tak ambil pusing dengan itu. Beberapa kemudian, UAS datang. Seperti biasa, mereka semua mencontek. Aku sempat ditanyai tentang jawaban, tapi aku menolak. Aku tahu itu tak baik. Pulang sekolah saat UAS baru beberapa hari berjalan, aku merasa aneh. Keluar dari sekolah, aku ngobrol dengan Didi dan Alfa. Tapi tiba-tiba aku pusing, dan saat aku tidak lagi pusing, aku sudah jalan dengan Alfa didekat tempat menunggu angkot. Saat itu aku berusaha bersikap senormal mungkin agar Alfa tidak curiga.

Di rumah aku terus berfikir tentang kejadian itu. Aku mecoba memanggil teman khayalanku, tapi dia tidak muncul. Aku langsung terinngat perkataannya : “Oh ya? Gue bisa jauh lebih bebas dari itu, lo tau!! Jadi jangan salahin gue kalo lo tiba-tiba jadi aneh!! Ingat itu!!”. Aku langsung tahu apa penyebab kejadian itu. Benarkah aku harus begitu? Apakah hidupku akan normal?
(bagi yang tahu lanjutannya, jangan cerita ke orang lain :3 )
---SKIP---

Aku akhirnya menemukan ide untuk menghilangkannya tanpa harus melibatkan ortu. Ide itu berjalan mulus dan aku optimis ini akan berhasil. Tapi tiba-tiba, muncul satu lagi yang seperti dia. Untung ada yang menyemangati aku, kalau tidak, mungkin aku akan drop. (maaf bagi yang merasa :3 )
Dan kisah ini takkan berhenti sampai akhir hayatku…,

---TAMAT---



Tidak ada komentar:

Posting Komentar