Total Tayangan Halaman

Minggu, 26 Januari 2014

Belaian Lembut Sebuah Cahaya

Dari sebuah jendela rumah sederhana yang menyenangkan, kulihat dunia luar yang sangat menakjubkan. Sawah terhampar luas, dengan latar belakang pegunungan yang menyejukkan mata. Aku adalah seseorang yang kesepian, aku punya teman yang “tak wajar”, namun tetap bersyukur dengan adanya hidup ini. Hidup ini perlu disyukuri, apapun cobaannya pasti ada jalan keluarnya. Walaupun tak selalu meninggalkan kenangan indah dalam memori. Aku sangat tertutup, sampai-sampai aku tak pernah melihat dunia luar nan elok itu dari balik jendela kamarku yang penuh dengan ukiran ini. Entah apa alasannya, aku tak bisa melihat dunia luar walaupun tak ada yang menghalangi. Masa kecil menakutkan itulah yang menghalangiku. Baru kali ini aku memberanikan diri melihat dunia luar secara langsung. Sungguh menakjubkan…, kenapa aku sampai tak berani melihat semua keelokan ini? Entahlah. Pikiranku seakan ingin menyembunyikannya. Aku terus bertanya-tanya, kenapa? Namun yang terjadi, tubuhku selalu ketakutan untuk melihat dunia luar, apalagi saat malam tiba.
Kuhirup udara luar yang melegakan dada, aku tak dapat berhenti mengagumi ini semua. Sampai kusadari, bahwa telah terjadi kejanggalan : kenapa diriku tak ketakutan seperti biasanya? Aku yakin inilah waktuku untuk mengetahuinya. Ya, kebenaran yang menyesakkan dada. Kebenaran yang selama ini aku tanyakan. Kebenaran yang membuatku menjadi gadis seperti ini. Aku yakin, diriku telah siap menerimanya, apapun yang terjadi. Tak lama berselang, jantungku berdegup kencang. Ada apa ini? Tuhan…, kuatkanlah aku menerima semua ini.
Burung-burung terbang ketakutan dari balik gunung. Pagi yang indah ini, tiba-tiba berubah menjadi suasana yang mencekam. Waktu seakan mundur menjadi malam. Aku terus melihat ini, jantungku semakin berdegub kencang. Kulihat sebuah cahaya yang sangat terang muncul dari balik gunung, dan asalnya tak akan bisa diduga-duga. Ya, asal cahaya itu adalah bulan. Bulan itu terlihat jauh lebih besar dari matahari. Aku tak ingat seberapa besar bulan yang sebenarnya, tapi hatiku mengatakan bahwa kali ini bulan terlihat tak wajar. Cahaya itu semakin terang dan terang, bulan semakin naik dan naik, layaknya matahari yang sedang terbit. Cahaya itu seterang matahari, namun aku tetap bisa menatapnya secara langsung. Aku terus menatap bulan itu. Mataku tak mau berpaling darinya. Aku merasa ia ingin mengucapkan sesuatu. Cahayanya seakan memanggilku. Tubuhku serasa ringan, melayang memakai sayapku sendiri. Aku menjejakkan kakiku ke tanah di luar rumah. Sayapku hilang diterpa angin. Kali ini anginlah yang membawaku. Aku terus berjalan, berjalan, dan berjalan dibawa angin menuju gunung yang penuh pesona itu. Berharap bisa mendengar apa yang diucapkan bulan. Angin itu akhirnya membawaku ke puncak gunung itu. Permukaan bulan terlihat berkilau mempesona, dihiasi dengan lubang-lubang yang menurutku juga mempesona. Kali ini angin pergi, digantikan oleh cahaya bulan yang menuntunku. Aku melayang dibawa cahaya bulan yang ingin menunjukkan apa yang kebenaran yang harus kuketahui. Dari atas, kulihat masa kecilku. Seorang gadis kecil yang sebenarnya tidak pernah kesepian. Temanku banyak, bahkan sahabatku juga banyak. Sampai suatu hari, cahaya bulan membelaiku dalam kelembutan, sama seperti saat ini. Lalu aku dapat melihat semua yang selama ini tersembunyi di dunia ini. Ya, sesuatu yang ikut menghuni dunia ini, bahkan alam semesta sekalipun. Aku sangatlah polos sampai sekarang. Ku tak tahu orang-orang tak dapat melihatnya. Aku juga tak tahu orang-orang takut padanya. Maka dari itu, mereka jadi temanku. Aku ingin berteman dengan apa saja, bahkan hewan sekalipun. Tiba-tiba semua menjauh, bahkan orang tuaku juga. Jadilah aku seorang gadis kesepian yang hanya berada dikamar selama ini. Namun, ku masih punya teman “tak wajar” yang sekarang entah kenapa sedikit demi sedikit menjauh juga. Sejak saat itu aku tak pernah sanggup melihat dunia luar. Aku ingat sekarang, aku tahu semuanya.
Cahaya bulan menurunkanku dengan pelan. Belaiannya tetap lembut, seakan memberiku semangat tuk menghadapi semua. Membuatku bernostalgia pada masa lalu yang pahit namun penuh makna. Kakiku merasakan lagi dinginnya tanah. Terima kasih bulan…, ucapku. Ku arahkan tanganku ke bulan, walaupun aku tak dapat memegangnya. Kuharap ia bisa mengerti. Lalu cahayanya mengantarku kembali ke depan jendela ruangan yang jadi tempat persembunyianku selama bertahun-tahun itu. Perlahan dia menghilang, tenggelam di balik gunung. Aku merasa ia mengucapkan salam perpisahan padaku. Lambaian tanganku membalasnya. Aku tahu aku akan bertemu dengannya lagi, tapi takkan sama dengan kali ini. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan bukan? Tak ada yang dapat kulakukan kecuali merelakannya. Ia sudah tak terlihat lagi, perlahan waktu kembali ke semestinya. Tak kusadari, air mataku menetes haru. Aku tak dapat menahan air mata kali ini. Namun aku tetap tersenyum, memandang dunia luar yang sudah kembali normal. Aku janji, aku takkan melupakan kejadian ini lagi, bulan…

Kini aku sudah tak takut lagi. Berusaha untuk kembali ke masyarakat bukanlah sesuatu yang sulit bukan? Aku akan meyakinkan mereka bahwa aku pantas untuk bergabung dengan mereka. Apa yang mereka takutkan selama ini adalah salah. Aku hanyalah manusia biasa, sama seperti mereka. Mengapa mereka harus takut padaku? Teman-teman 'tak wajar' ku pun tak salah. Mereka sama sepertiku, makhluk ciptaan tuhan. Bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna? Artinya, kami para manusia tak perlu takut pada mereka. Apa hanya karena wujud? Itu tak adil!
Tak perlu takut akan kegagalan masa lalu. Ku yakin suatu hari keberhasilan akan datang. Masa depan merupakan rahasia ilahi, tak ada yang tahu. Siapa tahu keberhasilan akan mendatangiku kali ini. Ya, tak pernah ada salahnya jika aku mencoba…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar