Dari sebuah
jendela rumah sederhana yang menyenangkan, kulihat dunia luar yang sangat
menakjubkan. Sawah terhampar luas, dengan latar belakang pegunungan yang
menyejukkan mata. Aku adalah seseorang yang kesepian, aku punya teman yang “tak
wajar”, namun tetap bersyukur dengan adanya hidup ini. Hidup ini perlu
disyukuri, apapun cobaannya pasti ada jalan keluarnya. Walaupun tak selalu
meninggalkan kenangan indah dalam memori. Aku sangat tertutup, sampai-sampai
aku tak pernah melihat dunia luar nan elok itu dari balik jendela kamarku yang
penuh dengan ukiran ini. Entah apa alasannya, aku tak bisa melihat dunia luar
walaupun tak ada yang menghalangi. Masa kecil menakutkan itulah yang
menghalangiku. Baru kali ini aku memberanikan diri melihat dunia luar secara langsung.
Sungguh menakjubkan…, kenapa aku sampai tak berani melihat semua keelokan ini?
Entahlah. Pikiranku seakan ingin menyembunyikannya. Aku terus bertanya-tanya,
kenapa? Namun yang terjadi, tubuhku selalu ketakutan untuk melihat dunia luar,
apalagi saat malam tiba.
Kuhirup udara
luar yang melegakan dada, aku tak dapat berhenti mengagumi ini semua. Sampai
kusadari, bahwa telah terjadi kejanggalan : kenapa diriku tak ketakutan seperti
biasanya? Aku yakin inilah waktuku untuk mengetahuinya. Ya, kebenaran yang
menyesakkan dada. Kebenaran yang selama ini aku tanyakan. Kebenaran yang
membuatku menjadi gadis seperti ini. Aku yakin, diriku telah siap menerimanya,
apapun yang terjadi. Tak lama berselang, jantungku berdegup kencang. Ada apa
ini? Tuhan…, kuatkanlah aku menerima semua ini.
Burung-burung
terbang ketakutan dari balik gunung. Pagi yang indah ini, tiba-tiba berubah
menjadi suasana yang mencekam. Waktu seakan mundur menjadi malam. Aku terus
melihat ini, jantungku semakin berdegub kencang. Kulihat sebuah cahaya yang
sangat terang muncul dari balik gunung, dan asalnya tak akan bisa diduga-duga.
Ya, asal cahaya itu adalah bulan. Bulan itu terlihat jauh lebih besar dari
matahari. Aku tak ingat seberapa besar bulan yang sebenarnya, tapi hatiku
mengatakan bahwa kali ini bulan terlihat tak wajar. Cahaya itu semakin terang
dan terang, bulan semakin naik dan naik, layaknya matahari yang sedang terbit.
Cahaya itu seterang matahari, namun aku tetap bisa menatapnya secara langsung.
Aku terus menatap bulan itu. Mataku tak mau berpaling darinya. Aku merasa ia
ingin mengucapkan sesuatu. Cahayanya seakan memanggilku. Tubuhku serasa ringan,
melayang memakai sayapku sendiri. Aku menjejakkan kakiku ke tanah di luar
rumah. Sayapku hilang diterpa angin. Kali ini anginlah yang membawaku. Aku
terus berjalan, berjalan, dan berjalan dibawa angin menuju gunung yang penuh
pesona itu. Berharap bisa mendengar apa yang diucapkan bulan. Angin itu
akhirnya membawaku ke puncak gunung itu. Permukaan bulan terlihat berkilau
mempesona, dihiasi dengan lubang-lubang yang menurutku juga mempesona. Kali ini
angin pergi, digantikan oleh cahaya bulan yang menuntunku. Aku melayang dibawa
cahaya bulan yang ingin menunjukkan apa yang kebenaran yang harus kuketahui.
Dari atas, kulihat masa kecilku. Seorang gadis kecil yang sebenarnya tidak
pernah kesepian. Temanku banyak, bahkan sahabatku juga banyak. Sampai suatu
hari, cahaya bulan membelaiku dalam kelembutan, sama seperti saat ini. Lalu aku
dapat melihat semua yang selama ini tersembunyi di dunia ini. Ya, sesuatu yang
ikut menghuni dunia ini, bahkan alam semesta sekalipun. Aku sangatlah polos
sampai sekarang. Ku tak tahu orang-orang tak dapat melihatnya. Aku juga tak
tahu orang-orang takut padanya. Maka dari itu, mereka jadi temanku. Aku ingin
berteman dengan apa saja, bahkan hewan sekalipun. Tiba-tiba semua menjauh,
bahkan orang tuaku juga. Jadilah aku seorang gadis kesepian yang hanya berada
dikamar selama ini. Namun, ku masih punya teman “tak wajar” yang sekarang entah
kenapa sedikit demi sedikit menjauh juga. Sejak saat itu aku tak pernah sanggup
melihat dunia luar. Aku ingat sekarang, aku tahu semuanya.
Cahaya bulan
menurunkanku dengan pelan. Belaiannya tetap lembut, seakan memberiku semangat
tuk menghadapi semua. Membuatku bernostalgia pada masa lalu yang pahit namun
penuh makna. Kakiku merasakan lagi dinginnya tanah. Terima kasih bulan…,
ucapku. Ku arahkan tanganku ke bulan, walaupun aku tak dapat memegangnya.
Kuharap ia bisa mengerti. Lalu cahayanya mengantarku kembali ke depan jendela
ruangan yang jadi tempat persembunyianku selama bertahun-tahun itu. Perlahan
dia menghilang, tenggelam di balik gunung. Aku merasa ia mengucapkan salam
perpisahan padaku. Lambaian tanganku membalasnya. Aku tahu aku akan bertemu
dengannya lagi, tapi takkan sama dengan kali ini. Setiap pertemuan pasti ada
perpisahan bukan? Tak ada yang dapat kulakukan kecuali merelakannya. Ia sudah
tak terlihat lagi, perlahan waktu kembali ke semestinya. Tak kusadari, air
mataku menetes haru. Aku tak dapat menahan air mata kali ini. Namun aku tetap
tersenyum, memandang dunia luar yang sudah kembali normal. Aku janji, aku
takkan melupakan kejadian ini lagi, bulan…
Kini aku sudah
tak takut lagi. Berusaha untuk kembali ke masyarakat bukanlah sesuatu yang
sulit bukan? Aku akan meyakinkan mereka bahwa aku pantas untuk bergabung dengan
mereka. Apa yang mereka takutkan selama ini adalah salah. Aku hanyalah manusia biasa, sama seperti mereka. Mengapa mereka harus takut padaku? Teman-teman 'tak wajar' ku pun tak salah. Mereka sama sepertiku, makhluk ciptaan tuhan. Bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna? Artinya, kami para manusia tak perlu takut pada mereka. Apa hanya karena wujud? Itu tak adil!
Tak perlu takut akan kegagalan masa lalu. Ku yakin suatu hari keberhasilan akan datang. Masa depan merupakan rahasia ilahi, tak ada yang tahu. Siapa tahu keberhasilan akan mendatangiku kali ini. Ya, tak pernah ada salahnya jika aku mencoba…
Tak perlu takut akan kegagalan masa lalu. Ku yakin suatu hari keberhasilan akan datang. Masa depan merupakan rahasia ilahi, tak ada yang tahu. Siapa tahu keberhasilan akan mendatangiku kali ini. Ya, tak pernah ada salahnya jika aku mencoba…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar