Total Tayangan Halaman

Sabtu, 08 Februari 2014

Sang Pencari Bab 1



Dari sebuah jendela rumah yang mewah, terlihat seorang remaja berambut panjang dan berwaena hitam legam, berkulit putih, dan mata yang berkilau sedang memandangi langit malam. Ia sangat menyukai bintang. Kilaunya yang menakjubkan, dengan susunannya yang indah membentuk rasi bintang yang dapat menuntun menuju jalan yang benar jika tersesat, dan masih banyak fakta tentang bintang yang menakjubkan. Ia juga menyukai bulan. Meskipun matahari telah tenggelam, ia dengan senang hati memantulkan cahaya matahari ke bumi, membuatnya jadi penerang dalam kegelapan malam. Kedua benda langit itu berkilauan, menjadikannya sebagai perhiasan langit yang luas. Kali ini remaja itu merasa bahwa langit terasa berbeda kali ini. Seakan-akan menyambut perpindahannya di rumah ini. Tapi, sepertinya mereka juga ingin mengatakan sesuatu. Sayangnya remaja itu tak mengetahuinya.
            “Nak!! Cepat siapkan bukumu!! Sudah jam setengah sembilan!! Besok kamu mulai belajar di tempat baru loh…” Kata seorang wanita paruh baya, yang tak lain dan tak bukan adalah ibu dari remaja tersebut.
            “I…, iya bu…” Kata remaja itu dengan bingung. “Perasaan tadi masih jam setengah delapan. Lagipula, bukannya aku hanya sebentar memandangi langit malam yang indah ini? Ini aneh…. Ah, tak usah dipikirkan. Mungkin aku yang tak tahu waktu.” Remaja itu berbisik pelan kepada teman imajinasinya, takut ketahuan ibunya.
“Entahlah, gue nggak tahu.” Jawab teman imajinasinya. Walaupun ia hanya teman imajinasi, namun si remaja tak pernah bisa megendalikannya bahkan terkadang ia dapat mempengaruhi pikiran si remaja untuk berbuat jelek. Untungnya remaja itu tak mudah terpengaruh.
Si remaja pun segera menyiapkan semua bukunya, termasuk juga peralatan sekolahnya. Ia tak mau lagi memikirkan masalah tadi, hanya akan membuatnya bingung. Hal seperti ini bukanlah hal yang aneh lagi baginya. Ia sudah terbiasa mengalami hal-hal aneh sejak kecil, dan seringkali tak mendapat jawabannya. Tapi bagitu tertutupnya ia, sampai-sampai orang tuanya tak pernah tahu apa yang sering menimpa anak mereka satu-satunya itu. Itu membuatnya jadi orang yang dipandang aneh oleh orang lain dan dia menjadi kesepian. Makanya, ia punya teman imajinasi untuk menemaninya, walaupun ia tak pernah berharap temannya itu jadi jahat seperti ini.
Setelah membereskan semuanya, ia pun tidur. Terlelap dalam mimpi aneh. Ia bermimpi bahwa kali ini ia akan punya teman baru di sekolah barunya itu. Lalu ia dan kelima temannya berpetualang dalam lorong waktu, melawan kekuatan jahat hampir tiada banding. Tak ada yang tahu mereka bisa selamat dalam petualangan tersebut atau tidak. Namun yang pasti, petualangan tersebut membawa mereka menuju arti kehidupan yang sebenarnya. Mimpi yang aneh, namun terasa sangat nyata. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Esoknya di kelas 8A SMP Mangkurawa 1, remaja itu tampak biasa saja. Ia berharap kali ini ia bisa dapat teman, tidak seperti sebelumnya. Namun sepertinya kemungkinan itu sangat kecil. Kenapa? Karena pandangan sebagian besar anak-anak kelas itu sangat sinis kepada remaja itu, bahkan sebelum mereka berkenalan. Mereka berbisik-bisik dan tersenyum licik. Tapi remaja itu mencoba mengabaikan semuanya, siapa tahu ini hanya perasaannya saja. Ia masih yakin kalau ia akan punya teman. Tak lama kemudian, guru IPA datang dan mempersilahkan si remaja itu memperkenalkan diri.
“Oh iya, kudengar kamu bisa Bahasa Jepang ya? Kalau begitu, bisakah kamu memperkenalkan diri dengan Bahasa Jepang?”
            “Tentu bu. Moshi moshi, watashi wa Karina Luna. Yorushiku nee…. Artinya, halo, saya Karina Luna. Mohon bantuannya… ^_^” Kata remaja yang ternyata bernama Karina Luna itu. Jika biasanya kedatangan murid baru disambut dengan meriah, tapi nampaknya banyak yang acuh. Karina Luna tetap tak peduli, baginya hal ini sudah biasa terjadi. Kenapa harus sedih?
            “Silahkan duduk di kursi yang kosong sebelah sana.” Kata guru IPA itu sambil menunjuk kursi disamping seorang anak yang kelihatannya pemalu.
            “Baiklah, terima kasih bu….” Kata Karina.
            “Sama-sama.” Karina langsung duduk di sebelah anak itu.  
“Ehm…, boleh kenalan nggak?” Dengan malu-malu anak itu ingin berkenalan pada Karina.
            “Tentu saja ^_^ . Namaku Karina Luna. Kau boleh memanggilku apa saja, asalkan itu nyambung sama nama panjangku.” Katanya sambil menyodorkan tangan.
            “Ehm…, aku Yuri Akina. Biasa dipanggil Akina. Kalau begitu, aku boleh memanggilmu Arina kan? Supaya mirip sama namaku XD” Kata anak pemalu itu yang ternyata bernama Akina sambil menyodorkan kembali tangannya.
            “Akina ‘o’ Nama yang bagus ^.^ Kamu boleh kok manggil aku Arina. Aku suka pendapatmu, nama yang bagus ^.^ Ngomong-ngomong, namamu itu seperti nama orang Jepang, apa itu benar?” Tanya Arina/Karina.
            “Baiklah, aku panggil kamu Arina ^.^ Namaku itu memang nama orang Jepang kok, aku dan keluargaku sedikit mengerti Bahasa Jepang. Keluargaku suka nama orang Jepang, jadi aku diberi nama seperti ini. Oh iya, matamu itu….” Jawab Akina sudah tak malu lagi, sambil menunjuk Arina.
            “Jadi kau bisa Bahasa Jepang? Berarti kita sama ^.^ Eh, emang ada apa sama mataku ini ._.?”
            “Ehm…, aku merasa matamu itu sangat indah dan berkilau. Kau juga cantik. Kau tinggi, putih, rambutmu panjang dan menawan, ditambah lagi matamu itu menakjubkan ^.^”
            “Arigatou (terima kasih) ^.^  Tapi kurasa akulah yang seharusnya mengatakan itu. Kalau aku memperhatikanmu baik-baik, kau cantik kok ^_^ Coba kalau kau melepas kacamatamu itu, sekalian kau lepaskan ikatan rambutmu, maka matamu akan keliatan lebih berkilau dari mataku dan rambutmu juga terlihat seperti rambutku, hanya bedanya rambutmu pendek, itu saja. Kau juga putih bukan? Jadi…, kau tak perlu memujiku, Akina.”
“Ehm…, arigatou ._. Kuakui itu memang benar, Arina. Hanya saja, kau tak perlu memujiku seperti itu. Aku sudah senang seperti ini. Oh iya, bagaimana kalau nanti waktu istirahat aku kenalkan kamu dengan sahabat-sahabatku disini?”
“Ekhem! Ekhem! Yuri Akina dan Karina Luna! Harap tenang, ini waktunya pelajaran.” Tiba-tiba guru IPA yang sedang menjelaskan menegur Akina dan Arina.
“I…iya bu ._.” Jawab Arina dan Akina bersamaan.
“Akina, aku setuju. Nanti ya, waktu istirahat, oke?” Kata Arina berbisik pada Akina.
“Oke… ^_^” Jawab Akina, berbisik juga.
Waktu istirahat pun tiba. Semua anak kelas 8A keluar, kecuali Arina, Akina, dan empat anak lain. Lalu empat anak itu langsung menuju bangku Arina dan Akina. Sepertinya mereka sudah janjian untuk menemui Arina si anak baru. Tapi saat mereka mau bicara, Akina mendahului mereka.
“Nah, Arina, ini sahabat-sahabatku. Silahkan kenalan sama mereka ^_^” Kata Akina.
“Perkenalkan, aku Karina Luna. Kalian bisa manggil aku apa aja, asal nyambung sama nama panjangku. Kalau kalian?” Kata Arina sambil meyodorkan tangan.
“Aku Fais.” Kata anak laki-laki yang kelihatan pemalu. Mukanya memerah saat berjabat tangan dengan Arina. Dia kelihatan pintar, tapi penakut.
“Aku Fahri.” Kata anak laki-laki yang kelihatan baik hati dan suka menolong.
“Aku Ai.” Kata anak perempuan yang kelihatan jago karate.
“Aku Lia.” Kata anak perempuan yang kelihatan baik.
“Wah, nama Ai juga nama orang Jepang, sama sepertiku dan Akina ‘o’ Bagus ^_^” Kata Arina.
“Arigatou ^.^” Kata Ai.
“Oh iya, teman-teman…, aku manggil dia Arina supaya mirip sama namaku XD Kalau kalian terserah mau manggil apa.” Kata Akina.
“Hmm…, nama Arina bagus juga. Yang lain gimana? Setuju nggak kalau kita panggil dia Arina mulai sekarang?” Kata Fahri.
“Setuju!! ^o^” Jawab yang lain serempak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar