Angin dingin perlahan membuatku menggigil. Mataku kubuka perlahan.
Bersamaan dengan itu, aku menyadari bahwa ini sudah larut malam.
“Mimpi ya?”
Aku bergumam.
Oh, berarti sedari pagi sampai selarut ini yang kukerjakan hanya tidur? Huft,
betapa sia-sianya waktuku hari ini.
….. tes… tes…
Entah karena apa, air mataku mengalir deras. Mungkin kenyataan ini yang
membuat air mata ini tak tertahankan. Ditambah lagi, jika waktu itu aku bisa
sedikit peka dan memaksakan kehendak, Reiko pasti masih hidup sekarang. Tak ada
yang tahu penyebab Reiko meninggal semuda itu, tapi aku yakin, itu pasti
sesuatu yang tidak bisa kumengerti dengan benar.
Mungkin karena terlalu larut, atau karena mataku terlalu berat menerima
tetesan air mata yang semakin menjadi, alam bawah sadarku kembali membimbing
menuju alam mimpi.
‘Dimana ini? Gelap sekali…’
Suaraku terdengar menggema. Apa ini sebuah ruangan yang luas hingga
suaraku dapat bergema seperti ini?
Tiba-tiba ada suara gemerincing bel angin. Bersamaan dengan itu,
muncullah titik-titik cahaya yang semakin lama semakin besar, membuat seluruh
ruangan tanpa batas ini bersinar terang.
Aku hanya bisa menutup kedua mataku dengan tangan.
Dibalik cahaya yang terang benderang itu muncul sosok dengan senyum yang
hangat. Auranya sangat kuat, dan rasanya…, sungguh familiar bagiku.
Perlahan tapi pasti, cahaya itu memudar dan memperjelas wujud dari sosok
dibali cahaya itu, menambah keyakinanku tentang perasaan familiar itu.
“Reiko! Apa itu kau? Syukurlah kau masih hidup!”
Kataku berteriak sekuat tenaga setelah yakin bahwa sosok itu adalah
Reiko.
Sosok itu hanya tersenyum, menggeleng pelan.
“Hei, ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu selama lima hari itu?
Aku ingin tahu!”
Yah, rasa penasaran ini hampir-hampir membunuhku. Mau tidak mau aku
harus menanyakannya sebelum pikiran ini meledak. Walau begitu, aku tak mau
berprasangka buruk dulu.
Lagi-lagi ia hanya diam seribu bahasa. Entah apa yang terjadi tapi
tiba-tiba aku dapat menerjemahkan arti dari ekspresinya itu. Kira-kira, ia
ingin berkata: “Apa kau benar-benar ingin tahu?”
Aku mengangguk cepat. Rasa antusias ini tak dapat dihindarkan.
Sosok itu menutup matanya. Titik-titik cahaya bermunculan lagi.
Dan ketika cahaya itu perlahan memudar, samar-samar terlihat Reiko yang
sedang menutup wajah bagian kanannya dengan telapak tangan.
Aku tetap menunggu kepastian.
Perlahan-lahan Reiko menyingkirkan telapak tangan dari wajahnya. Sedikit
demi sedikit terlihat sebuah garis… tidak, beberapa garis berbentuk seperti
akar. Warnanya hitam diselingi cahaya merah pudar yang menambah efek seram. ‘akar’
itu…, memenuhi wajah kanan Reiko.
Keringat dingin mengucur deras diseluruh tubuhku. Mataku tak
henti-hentinya mengeluarkan air mata. Gigiku bergerit, tak dapat berkata-kata.
Seluruh tubuhku bergetar hebat.
Itu adalah tanda kutukan ayakashi.
‘Ini adalah gambar dari tanda kutukan youkai
yang paling kuat di daerah ini. Memang, damagenya tak terlalu besar, tapi kau takkan menemukan cara untuk
menghilangkannya. Tidak seperti tanda kutukan youkai lain yang mempunyai cara untuk dihilangkan, tanda ini takkan bisa
dihilangkan. Tanda ini akan menghisap daya kehidupanmu selama lima hari. Di
hari terakhir, pasti kau akan mati.’
Kata-kata dari youkai bernama
Hinoe, teman Reiko itu terus terngiang-ngiang ditelingaku. Walaupun dia tak
terlihat, tapi suaranya tetap terdengar, dan tentu saja gambar dari ‘akar’ itu
terlihat olehku.
Kini aku sadar, Reiko benar-benar telah tiada.
“Hei, katakan padaku…, kau akan kembali kan?”
Harapan aneh ini kembali terucap.
Sosok itu hanya tersenyum, menghilang bersama hangatnya cahaya putih
yang bersinar sesaat, menenangkan diriku.
Apa ini? Perpisahan? Tidak! Aku tidak mau menerimanya!
Setelah beberapa lama, saya memutuskan untuk melanjutkan ff ini dalam rangka #NulisRandom2015. Harap maklum cuma bisa posting segini karena writer's block sedang menyerang. Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar