Total Tayangan Halaman

Selasa, 24 November 2015

Part 2: Please, Say It Once Again...

The past and me... (part 2)
                Touji  Elementary School, ya? Sekolah ini nampaknya lebih besar dari kelihatannya. Ya, ini hari pertamaku disini. Sejenak, aku menghela nafas. Beragam delusi mulai menyerangku. Phobia akan kehadiran orang lain terus menghantui. Khayalan seperti aura hitam mulai menyeruak dari dalam kelas 4A itu segera membuat bulu kudukku berdiri.
                Kuberanikan diri melangkah perlahan menuju kelas. Kakiku berguncang hebat. Keringat dingin terus menetes di pelipisku. Rasa-rasanya bajuku semakin basah saja. Seramai apapun situasi saat itu, rasanya tetaplah sunyi. Pandangan-pandangan menyeramkan –hasil dari delusi– dari orang disekitarku mulai menghantui.
                Tap,tap,tap...
                Hanya suara langkah kakiku yang terdengar. Perlahan, aku mulai berbelok, masuk kedalam kelas. Kepalaku menunduk dalam. Bibir ini kugigit keras-keras. Tasku kugenggam erat-erat. Dan tiba-tiba...
                Anak itu berlari dan menabrakku dalam keadaan memeluk. Ugh..., memalukan. Untung saja aku ini kuat jadi walau dia laki-laki tapi kakiku tetap bertahan agar tak jatuh. Tahukah kalian siapa itu? Dia anak yang kemarin. Penduduk Jalan Touji nomor C28, Rikumichi. Wajah naifnya tersenyum lebar, bercahaya, seputih dan sejernih air mukanya. Satu lengannya memeluk pundakku.
                “Hei, kau lama sekali. Aku sudah menunggumu dari tadi!” Kata anak itu tersenyum lebar, menyodorkan kepalan tangan padaku. Aku hanya memandang tak mengerti. Tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.
                “Kau tahu? Ini tos terkenal tahu! Kepalkan tanganmu seperti ini, dan tabrakkan saja kepalan tanganmu pada kepalanku sekeras besarnya semangatmu hari ini!” Rikumichi mempraktekkan apa yang dikatakannya. Ekspresi bingung jelas terlukis pada wajahku. Sempat terbersit rasa kagum pada anak yang satu ini.
                Dengan perasaan campur aduk kulakukan apa yang disuruhnya dengan lemah, namun ia malah menyuruhku melakukannya lebih keras. Agar bisa merasakan semangatmu, katanya. Padahal jujur saja, aku tak punya semangat sama sekali untuk bersosialisasi, apalagi bersekolah. Apa boleh buat, untuk sekedar memuaskannya, aku tos lebih keras. Dia pun tersenyum lebar sampai terlihat giginya yang berkilat, semangatnya membara. Dengan bangga ia mengacungkan jempol padaku. Apa yang salah dengan anak ini?
                “Dengan ini kita resmi sebagai teman, teman sekelas, sahabat, dan adik. Aku beruntung bisa bertemu denganmu... bla bla.” Ia berbicara panjang lebar, yang jujur saja justru membuatku tak berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya. Hanya beberapa kata yang sempai kutangkap. Apa yang ada kutangkap hanyalah segerombol omong kosong dari mulutnya. Tidak, sebenarnya aku lebih percaya bahwa kata-kata itu takkan bertahan lama.
                Bosan, aku meninggalkan dia yang sedang nyerocos itu, cuek. Berjalan perlahan, memandang langit-langit kelas ini. Membiarkan pandanganku berkeliling pada kelas ini. Sedang yang ditinggal hanya bengong melihatku. Tak peduli, aku meneruskan langkahku.
                Kelas ini nampaknya lebih pantas disebut gudang. Bukannya sombong, bahkan dulu aku pernah tinggal di rumah yang seperti ini, ukurannya pun lebih kecil. Tetapi bau debu menyeruak menembus hidung. Sebagai anak yang alergi, ini sudah suatu keberuntungan besar karena aku tidak mengalami tanda-tanda alergi sampai saat ini. Aneh.
                Kayu-kayu yang jadi penopang utama kelas ini, yang berperan sebagai tembok, lantai, juga sebagai kerangka atap terlihat rapuh dimakan hujan dan usia. Bau sampah menyeruak masuk. Asbes yang bersandar pada dinding luar penuh dengan grafiti tak pantas. Padahal, kelas lain lebih nyaman dengan penuh dengan fasilitas memadai. Kelas ini terasa seperti kutukan, walau abjadnya A, menunjukkan bahwa seharusnya ini kelas paling awal, paling unggul, dan paling dihormati.
                Sebenarnya, kelas ini agak terpisah dari gedung utama.
                Mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa pasrah. Keadaan keuangan keluargaku sedang kritis sekarang. Seakan tak bisa menolak, diriku “dibuang” di kelas ini karena biayanya kurang. Huft, ini sulit. Oh ya, setahuku anak bernama Rikumichi itu kaya. Lalu, kenapa dia bisa disini?
                “Hei, daripada melamun lebih baik kau duduk di kursi sampingku ini.” Kata-katanya membuyarkan lamunanku.
                “Oh, baik.” Jawabku singkat, cuek. Berjalan sekenanya menuju bangku kosong yang sepertinya sudah disiapkan untukku itu.
                Menunggu bel masuk, aku menopang kepalaku dengan tangan. Ekspresiku keruh. Ingin rasanya cepat pulang, walau sebenarnya aku haus akan ilmu. Hal yang paling kubenci dari hari pertama di sekolah baru, perkenalan di depan kelas. Pasti akan disambut dengan hujatan, cacian, pandangan mengejek, dan apalah itu namanya. Yang jelas, itu akan mengawali hal yang menjadi phobiaku. Sejenak, ingatanku melayang pada permulaan aku mulai hidup berpindah-pindah....

                “Haha! Dasar anak aneh! Disitu tidak ada apapun, tahu! Lagipula, anak yang lemah sepertimu apa pantas untuk dipercaya, ha?” Seisi kelas tertawa. Tawa yang terus terngiang dalam ingatan. Aku ingat benar saat itu adalah waktu setelah olahraga.
                Kesal, marah, campur aduk. Itulah yang kurasakan. Gigiku gemeretak. Tanganku bergetar hebat, mengepal. Wajahku merah padam. Rasa-rasanya, aura mengerikan sedang menyelimutiku sekarang. Aku telah dikendalikan oleh rasa marahku.
                Kepalan tanganku kupukul keras pada pintu kayu kelas. Suara berdebam seakan mendengung, memenuhi telinga kami semua. Tapi aku tak peduli. Apa mereka tidak bisa membayangkan betapa marahnya aku?
                Sejak kapan aku dikucilkan seperti ini?
                Sunyi, hening sesaat. Ada sedikit pandangan takut. Mereka tak habis pikir anak sekecil diriku bisa menimbulkan bunyi berdebam sedemikian kerasnya. Namun perlahan, ada tawa pelan dari satu anak. Semakin lama semakin keras, diikuti anak lainnya. Seisi kelas pun kembali terisi oleh tawa-tawa kejam dari mereka. Mereka tertawa membabi buta, seperti kesurupan.
                Menyadari sesuatu, aku segera mundur. Mengambil ancang-ancang dan timing yang tepat. Otot-ototku kembali lemas. Tapi, persis seperti yang kuduga, ada anak yang maju dengan beraninya. Tatapannya keruh, sadis, seperti seorang psikopat. Senyumnya kejam,  membuat siapa saja yang melihatnya merasa takut.
                “Ada apa, anak kecil? – “ Suaranya bercampur. Entah efek apa, tapi suara asli anak itu bercampur dengan suara... yang aku sendiri tak bisa menebak dari mana asalnya. Mungkin seperti suara  yang tercampur suara efek video yang diputar lebih lambat dari kecepatan asli. Bedanya, ini nyata. Keningku berkerut.
                “Kau takut? Sini, lawan aku!” Nadanya seperti mengejek. Aku menggeram pelan. Barangkali ini akan jadi akhir duniaku. Jelas, aku tak punya kekuatan sama sekali untuk melawannya. Terpojok, kali ini hatiku pasrah. Mencoba untuk bersikap tetap berani, apapun akhir yang terjadi.
                Aku diam sesaat, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ada.
                “Keluar dari temanku, sialan!” Aku menggeram liar, berteriak sekuat tenaga. Tangan kanan kulesatkan kesamping menunjukkan ketegasanku. Bersamaan dengan itu, anak itu terlempar. Entah apa yang terjadi, gerakannya mengikuti gerakan tanganku. Untungnya, di dinding kelas ada matras yang dititipkan guru olahraga pada kelas kami. Beruntung, ia tak mengalami benturan yang berarti karena mendarat pada matras yang empuk itu. Tapi tetap saja suara “bum!” hasil dari tubrukan anak itu dan matras tak dapat dihindari.
                Sejenak aku merasa lega. Tapi di lain sisi..., apa akulah penyebabnya?
                “Kurang ajar!!” Mulut semua anak di kelasku menganga keatas, mengeluarkan aura hitam yang berlalu pergi. Mereka mendadak lemas, berjatuhan di lantai. Sempat terpikir, mengapa hanya diriku yang tidak terkena pengaruh jahat itu?
Mendadak ada suara orang berlari. Mungkin panik karena bunyi berdebam tadi. Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku berdiri di tempat. Shock melihat keadaan sekitar. Ternyata orang tadi adalah guru olahraga kami. Beliau shock juga melihat keadaan kelas. Saat melihatku, ada sebersit pandangan takut. Mungkin beliau mengira akulah penyebab semua ini. Tanpa bertanya apapun padaku, beliau mengusirku pergi.
Dan tanpa bertanya juga, aku pun pergi secepatnya menuju halaman kosong agak jauh dibelakang sekolah. Tempat sebatang pohon sakura tumbuh dengan cantik. Tempatku menenangkan diri.
Aku meringkuk dibawah pohon sakura. Memeluk kaki, menangis sejadi-jadinya. Mencoba mengerti apa yang sedang terjadi. Setelah tenang, aku menyadari beberapa hal yang telah terjadi. Tapi, lebih banyak lagi yang tak kumengerti. Apapun itu, saat aku mengayunkan tangan, temanku itu terhempas mengikuti gerakan tanganku. Jujur, aku tak ada niat untuk mencelakakannya. Ditambah lagi, kenapa mereka semua bertingkah seperti kesurupan?
Perlahan, kubulatkan tekadku seperti tadi. Aku ingin kembali ke sekolah, menjelaskan apapun yang terjadi. Tapi sebelum itu, mengetes adegan tadi rasa-rasanya tak masalah. Sambil mengayunkan jari telunjuk ringan ke kanan dan kiri, ku berucap:
“Mohon bantuannya...” Semenjak itulah pohon sakura itu jadi pohon harapanku.

– Bersambung – 

Catatan Auth: Maaf banget updatenya kelewat lama >< ini baru ada laptop buat ngetik //bletak. Semoga suka ya... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar